
"Ghani sayang... " Suara Yuna mengejutkan Arga yang sedang fokus dengan makanannya.
"Ya ma.. " Di minumnya air putih yang sudah dia siapkan.
"Kamu makan sendirian ? kenapa ga manggil mami.. ?" Yuna mendekat ke arah meja makan dab duduk di kursi sebelahnya.
"Mama kan lagi nyiramin tanaman.. "
"Ghani, gimana sama April ? kamu masih ga bisa deket sama dia..? " Yuna menatap intens ke arah wajah Arga yang terlihat melatakkan sendoknya.
"Masih sama Ma.. " Desahnya. " Apa aku harus nurutin kakek? "
Yuna ikut menghela nafas panjang. Dia juga tidak tega membuat anaknya tertekan.
"Kamu coba di omongin dulu sama April.. "
"Iya ma.. " Arga mengangguk mendengar saran mamanya.
Setelah selesaidengan makannya, Arga pun pamit untuk berangkat kerja. Di perjalanan, dia mengirim pesan pada April jika mereka perlu berbicara besok malam.
"Ga...! " Arga yang baru turun dari mobilnya segera mencari sumber suara.
Melati berjalan cepat mendekat ke arah Arga dengan senyum mengembang.
"Ada apa.. ?" tanya Arga.
"Boleh kita bicara sebentar.. ?"
Arga melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu 10 menit sebelum jam kerja. Akhirnya dia pun mengangguk.
"Bicaralah.. " Arga mendudukan tubuhnya di kursi luar dekat taman kecil depan kantor .
Melati terlihat menghela nafas panjang, menatap Arga yang terlihat santai menatapnya.
"Ga, aku.. aku.."
"Kalian ngapain di sini.. ?" Doni ternyata datang menghampiri mereka.
Arga menoleh. Melati pun gelagapan, tidak jadi melanjutkan kata-katanya karna kedatangan Doni .
"Ini ada yang mau di bicarakan sama Melati, ayo Mel. Lanjutin.." Arga kembali memandang ke arah Melati.
"Kayak penting aja, apaan sih.?" Doni ikut penasaran.
"Eh, ga jadi. kapan-kapan aja. Udah jam kerja ayo masuk.. " Elak Melati .
Arga dan Doni langsyng mengernyit heran tapi kemudian mulai melangkah menyusul Melati yang sudah jalan lebih dulu.
"Kayaknya tadi gue ganggu kalian deh.. " Bisik Doni.
"Ga lah, santai aja " Arga menepuk bahu rekannya lembut.
"Buktinya dia ga jadi ngomong karna ada gue.." sergah Doni.
Arga berhenti sebentar karna ponselnya berbunyi. Terlihat nana April memanggil.
"Hallo.. "
__ADS_1
"Hallo mas, tolongin aku. Motor ku mogok.."
"Cih, menyusahkan. Di mana? " tanyanya kemudian.
"Di deket pom.. "
"Tunggu 15 menit.. " Arga langsung mematikan telponnya. Lalu izin untuk menjemput April.
Sesampainya di dekat pom bensin. Arga turun menghampiri April.
"Kenapa? "
April yang sumringah karna di jemput Arga langsung berdehem.
"Eh, itu mogok.. "
Arga meraih telponnya dan menekan 1 nombor.
"Hallo.. Paman,bisa tolong suruh anak buah paman jemput motor xxx di depan pohom deket pom.. "
"..."
"Ok.. Terima kasih. "
Setelah mematikan telponnya. Dia kembali menatap April.
"Ayo aku antar pulang.. "
"Terus motornya? " tanya April.
"Itu deket pasar ada bengkelnya papa, aku udah nelpon buat jemput motor kamu di sini "
"Mas udah makan? " Tanya April basa basi. Setelah mobil melaju dengan keheningan mereka.
"Udah "
"Makan apa? "
Arga langsung menoleh sebentar menatapnya.
"Ck. Ga usah nanya hal yang lebai ga penting kayak gitu. Aku ga tlaten buat njawab! "Tegas Arga kembali fokus ke jalanan.
April langsung mendesah pelan. Membuang pandangannya ke jalanan yang sudah gelap.
"Apa selamanya kita akan seperti ini? " Lirihnya.
"Bukannya kamu sendiri tau. Kita sama-sama ga berdaya dengan perjodohan konyol ini " Arga memukul kemudinya geram sendiri.
April kaget dengan sikap Arga. Baru ini dia melihat sikap kasar Arga .
"Apa sebegitu susahnya untuk menikah dengan ku mas? "
Arga menatap tajam gadis yang duduk di sebelahnya.
"Ya! "
"Kenapa gitu banget, apa mas menyukai gadis lain? " tanya April ingin tau.
__ADS_1
Arga kembali fokus ke jalanan. Dia malas membahas tentang perasaannya.
"Mas, jawab donk.. ?" Desak April.
"Kamu bisa diam tidak! " bentak Arga.
April mengusap dadanya pelan, Arga sempat sedikit menyesal sudah membentaknya. Tapi memang emosinya sering tak terkendali jika sudah menyangkut hati.
"Aku akan bicara dengan kakek mu mas, kita tidak akan menikah " Ucap April saat mereka sudah sampai halaman rumah.
Arga tertawa sinis, menggelengkan kepalanya.
''Cih, apa yang bisa membuat kakek jadi goyah dengan keputusannya.. "
"Kamu ngremehin aku mas, itu sih gampang. " April membuka seatbelt dan mendorong pintu . Tapi kemudian kembali menoleh saat tangannya di cekal oleh Arga.
"Apa.. ?" Tanya Arga.
"Aku tinggal bilang, aku hamil sama cowok lain. beres kan. langsung batal deh " Jawab April enteng. Yang langsung membuat Arga membungkam.
"Kamu gila? " Arga melepas cekalan tangannya. "Itu ide konyol.. "
"Kamu tu maunya apa sih mas? katanya ga mau terjebak perjodohan konyol ini. Sekarang aku ngasih solusi kamu malah ngomong ini konyol juga." geram April. Mensidekapkan tangannya menatap Arga sebal.
"Ya,maksutku bukan alasan segila itu. Gimana dengan harga diri mu. Apa kamu mau di omongin orang karna hamil di luar nikah " jelas Arga.
Mendengar penuturan Arga justru membuat wajah April yang semula menekuk langsung berbinar, bahkan kedua bibirnya tertarik sempurna.
"Kamu tu sebenarnya udah mulai bisa nerima aku mas, cuma kamu mengelaknya.. "
"Dasar gila, dari mana kamu bisa ngambil kesimpulan gitu.. ?"
"Loh, buktinya kamu mulai perduli. Perduli dengan harga diri aku. Secara ga langsung.Kamu khawatir tentang aku kan.. ?" Ledek April.
"Gila, cewek labil. Ga da ya aku mikir gitu.Aku cuma mikirin keluarga mu. Mereja pasti malu.. " Sergah Arga.
April kembali membuka pintu mobil, tapi sedetik kemudian berbalik menghadap Arga.
cup.
Sebuah kecupan dia berikan di pipi kanan Arga.
"Kamu.. "Geram Arga.
April tidak perduli, langsung turun dengan rasa penuh kemenangan. Meninggalkan Arga yang geram akan tingkahnya.
"Gadis gila. Astaga.. itu calon istriku.. " Desahnya dan mulai melajukan kendaraannya meninggalkan rumah April.
Sepanjang jalan, Arga terus mengumpat atas sikap April yang terlalu Agresif. Dia tidak menyukainya.
"Dia ga sama kayak kamu Rin.. Dia berbeda.. " Desisnya pelan.
Bayangan masa lalu mulai muncul dikepalanya. Gadis periang teman sejak SMP nya. Selalu perhatian padanya, menunjukan sayangnya. Menemaninya dalam keadaan apapun. Hingga Arga yakin mereka saling menyukai,tapi tidak ada yang mau mengungkapkan.Tapi tiba-tiba saat dia diterima di sekolah kepolisian, Rina justru menikah dengan orang lain.
Membuat dia patah hati, dan juga rasa penasaran tentang perasaan Rina padanya . Merasa butuh penjelasan atas menggantungkan rasa yang sudah terpupuk lama.
Hingga dia nekat ke Bengkulu, menemui Rina yang ternyata sudah mempunyai anak dengan suaminya. Hal itu sampai terdengar di telinga kakeknya. Hingga kakeknya begitu murka padanya.
__ADS_1
Arga tersenyum sendiri, nyatanya semua wanita yang dekat padanya selama ini tidak berhasil membuat hatinya merasa nyaman seperti saat bersama Rina.