April & Arga

April & Arga
Gadis Nakal


__ADS_3

"Kamu dari mana Ghani.. ?" Papa Putra melepaskan kaca matanya. Beliau baru selesai mengaji.


"Dari rumah April pa.. "


Arghani berjalan mendekati papanya yang duduk di kursi tamu .


"Tumben.. " Papa Putra meletakkan Al Qur'an di atas meja dan meminum teh miliknya.


"Sengaja, lagi bahas masa depan.. " kelakar Arga.


"Oh ya? jadi kalian sudah sama-sama mantap kan? "


Arga tersenyum menatap papanya lekat.


"Pa, kita rencananya ngundur pernikahan kita.. " Padahal itu kemauan Arga sendiri.


Papa Putra mengernyitkan keningnya, "Kenapa? "


"Aku pengen mapan dulu pa, paling ga tunggu aku naik pangkat. Biar aku ga khawatir nantinya. "


"Loh, memangnya kamu kekurangan dalam segi ekonomi..? "


"Bukan gitu pa, aku pengen lebih mandiri lagi. Aku laki-laki pa. Ga mau ngandelin uang dari papa terus.. "


Papa Putra mengangguk, menepuk bahu abak lelakinya. " Sejujurnya papa bangga, kamu punya pemikiran seperti itu. Tapi nak, apa kakek mu akan setuju.. "


"Pa, papa tolong bicarain sama kakek. Ini hidupku Pa. Aku pengen nentuin arah hidupku sendiri. "


"Papa tahu.. " Putra kembali menyesao tehnya.


"Sama hal nya saat kamu memutuskan masuk ke sekolah kepolisian. Sedangkan kakek,mama juga papa ngarepin kamu mau masuk pondok pesantren saat itu. Papa akhirnya mengizinkan bukan, karna itu impianmu. Walaupun papa akhirnya harus di musuhi kakek mu selama setahun."


Arga menunduk mendengar penuturan papanya. Ya saat itu dia begitu egois, hingga tidak memikirkan kemurkaan kakeknya. Bahkan kakek sampai menjauhi keluarganya. Dia ingat semuanya. Butuh waktu lama papa juga mamanya membujuk memohon maaf pada kakeknya.


"Papa tau, kenapa kakek ngotot menentang putusnya pertunangan kalian.. "

__ADS_1


Arga mengangkat wajahnya menatap papanya. " maksut papa.. ?"


Papa Putra tersenyum. " Sudah lama Ghani, kamu belum juga membuka hatimu untuk wanita lain. "


Seketika wajah Arga terlihat pias, apa maksutnya papanya juga tau kegilaanya dulu karna Rina.


"Papa tau semuanya, kakek cerita sama papa. Cukup papa dulu yang membuat kakekmu malu. Kamu ini cucu kesayangan beliau, makanya beliau tidak mau kamu bertindak di luar batas seperti dulu. Itu sebabnya beliau menjodohkanmu dengan April."


"Kenapa harus April.. " Desah Arga dalam hati. Dia benar-benar tidak begitu tertarik. Apalagi setelah kejadian tadi. April gadis yang nakal. Itu menurutnya.


"Maafkan papa ya Nak.. " Ungkap Papa Putra.


"Papa kenapa minta maaf..? papa ga salah.. "


"Papa salah, karna asal muasal permasalahan tetap karna papa. Jika kamu mantap memang menolak perjodohan ini. Papa akan dukung kamu. Yang penting kamu bahagia "


Seharusnya Arga senang, karna akhirnya papanya memberikan dukungan padanya. Tapi dia memikirkan keluarganya. Bagaimana juka nanti keluarganya kembali berselisih seperti dulu.


.


April gemetaran sendiri mengingat kejadian tadi. Walau sudah gonta ganti pacar sebelumnya, tapi dia tidak pernah berbuat sejauh itu. Cuma pegang tangan dan cium pipi, kening.


"Mas Arga pasti tambah ga suka sama aku.. " Desahnya pelan.


"Dia pasti nganggep aku cewek gampangan.." Merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya, memeluk jaket Arga erat. "Baunya khas sekali, aku suka.. " Di ciuminya bau jaket itu yang menurutnya menenangkan. Hingga membuatnya lama-lama terlelap sendiri.


.


Pagi datang kembali, April segera mencuci jaket Arga. Agar bisa segera mengembalikannya ke si empunya.


tok tok tok


Bunyi ketukan pintu membuatnya menoleh.


"Siapa Pril.. buka ! " Nenek yang menonton TV merasa terganggu dengan bunyi ketukan.

__ADS_1


"Iya nek.. " Dia melangkah ke depan.


ceklek.


Yoga berdiri di depan pintu dengan memar di wajahnya.


Separah itu kah mas Arga semalem mukulin dia.. ?


"Mau apa.. ?" semburnya geram. Sekelebat perlakuan kurang ajar Yoga semalam terlintas di kepalanya.


"Prill.. aku minta maaf.. " Lirihnya.


"Aku emang salah, aku khilaf Pril.. "


April diam saja, jujur dia masih marah pada Yoga.


"Pril.. " Yoga berusaha meraih tangan April. Tapi gadis itu langsung menepisnya kasar.


"Ga usah pegang-pegang.. !" bentaknya


"Maaf.. " Yoga menarik kembali tangannya .


"Pulanglah, aku sibuk.. " usirnya.


"Tapi kamu maafin aku kan Prill..?" lelaki itu terlihat menghiba.


"Aku mungkin bisa maafin kamu, tapi aku mungkin ga akan pernah lupa !" Ketusnya.


Brak.


April memilih menutup pintu kasar.


Yoga mematung, menatap pintu yang sudah di tutup April.


"Cihh.. aku pasti bisa ngdapetin kamu. kita lihat saja.. " seringainya muncul, lalu berjalan menuju motornya. Meninggalkan rumah April.

__ADS_1


__ADS_2