April & Arga

April & Arga
Bubaran


__ADS_3

Arga bangun saat suara Adzan berkumandang. Di tambah suara mamanya yang menggema di depan pintu kamarnya .


"Bangun Ghani, ini sudah Asar.. !"


ceklek.


"Iya Ma, ini udah bangun.. " Getutunya dengan mata setengah terpejam.


"Buruan mandi terus sholat, habis itu anterin mama.. !"


"Mau kemana ma, kenapa ga sama Ade.. "


"Nada ada acara sore ini, temennya lagi ulta. Ayo buruan, nanti keburu sore.. "


Yuna melenggang turun menuju ruang bawah dengan senyum kemenangan.


"Gimana ma.. ?" tanya Putra.


"Beres. . " mengacungkan jempolnya dengan senyum kemenangan.


"Haha.. ya udah, papa ke bengkel dulu.. "


Baru Putra akan melangkah, Yuna sudah mencekal tangannya.


"Apa sayang.. ?"


Dengan manja Yuna justru menggoyang-goyangkan tangan Putra yang membuat Putra gemas dan menciumi wajahnya.


"Mau apa sayang.. ?"


Dengan senyum terbaiknya Yuna lebih merapat ke tubuh suaminya.


"Aku kangen sama mamak, kita mudik yuk.. "


"Ck.. kamu ni Na, kalau ada maunya aja langsung manis-manisin mas. " Putra menjawil mesra hidung mungil istrinya ysng hanya di balas kekehan.


"Ya udah, habis beres urusan panen kita mudik.. "


"Makasih sayang.. " Sebuah ciuman dia berikan di pipi suaminya yang membuat Putra sumringah sebelum meninggalkan rumah.


.


"Ma. ayok.. !" Seru Arga dari depan.


"Iya, itu berasnya kamu masukin mobil dulu.. " Yuna berjalan sambil membetulkan kerudungnya.


Arga mengangkat beras itu memasukkannya di bagasi belakang. Yuna segera naik ke mobil di ikuti Arga yang langsung menjalankan mobilnya menuju jalan besar.


"Belok kiri Ghani.. "

__ADS_1


"Mau ke mana sih ma..? "


"Udah, manut aja.. "


Arga diam mengikuti arahan mamanya. 25 menit kemudian, Yuna meminta Arga membelok ke arah kanan.


"Maa.. ?"


"Iya kita mau ke rumah April. Semoga dia sudah pulang kerja.. "


Arga membuang nafasnya kasar merasa kesal di kerjain mamanya.


POV Arghani


Aku menghentikan mobilku pada sebuah rumah sederhana. Terlihat nenek berjalan menyambut kami.


"Assalamualaikum.. " Mama turun lebih dulu. Sedang aku memilih mengangkat karung beras lebih dulu.


"Waalaikum salam.. " Nenek menyambut kami hangat dan mengajak mama masuk.


Setelah meletakkan beras di ruang dapur, aku kembali untuk menyalami nenek.


"April belum pulang nek..? " Mama lebih aktif bertanya. Sedang aku hanya mendengar.


"Mungkin sebentar lagi, dia kerja pagi kok bu.. "


Dan benar, di depan samar-samar ku dengar suara motor mendekat. Melihat nenek dan ibu berdiri untuk keluar, akupun terpaksa mengikuti.


"Makasih ya Ga.. " dia sempat melirik ke arah kami.


"Sama-sama, kayaknya ada tamu. Aku pulang dulu. Besok aku jemput.. "


"Ok.."


Setelah lelaki itu pergi, April mendekat menyalami nenek,mama dan juga aku.


"Itu temenmu yang hari itu sayang.. ?"


"Iya tante.. "


"Dia nganter jemput kamu.. ?"


"iy-iya.. "


Aku heran kenapa dia menunduk.


Dan mama memintaku mengobrol bersamanya di teras. Sedang mama dan nenek masuk ke dalam rumah .


Dia lebih dulu masuk dan kembali dengan pakaian yang sudah berganti , serta satu cangkir teh.

__ADS_1


"Di minum mas.."


Aku hanya mengangguk, memperhatikan wajahnya yang sedikit basah. Mungkin dia baru cuci muka. Sehingga terlihat fresh.


"Kemana cincin mu.. ?"


"Cincin apa.. ?" tanyanya.


"Cincin tunangan kita.. "


Dia tersenyum tipis, menggeleng pelan. Lalu bangun masuk ke rumah dan tak lama kembali.


"Ini.. " ucapnya.


"Kenapa tidak kamu pake.. ?"


"Kenapa nanyain aku, mas juga ga make. . "


Aku melirik jari tanganku, aku bahkan sudah lupa. Kapan dan di mana aku melepaskan cincin itu.


"Kenapa ga di jawab.. ?" tanyanya menantang.


Aku diam, menatapnya yang terlihat tersenyum sinis. Aku salah telak akan pertanyaanku sendiri.


"Aku kembaliin cincin ini sama mas Arga, kita sudahi saja semuanya.. " Begitu katanya.


"Apa maksut kamu.. ?"


"Maksut aku, kita bubar saja. "


"Kamu ga bisa mutusin gitu aja, ini menyangkut 2 keluarga. Ga seenak ini kamu bisa ngahiri.. " Tiba-tiba aku merasa jengkel mendengar ucapannya.


"Aku ga perduli.. toh percuma kita lanjutin, tidak ada jalan untuk kita sama-sama.. "


Aku tersulut emosi, menarik kasar tangannya saat dia akan berdiri. Bunyi derit kursi yang tersenggol membuat mama dan nenek keluar.


"Ghani, ada apa.. ?" Mama melotot melihat aku sedang mencekram tangan April. Aku langsung melepaskan cekalan tanganku.


"Nenek, tante.. aku minta maaf udah mengecewakan kalian. Aku udah memutuskan untuk mengahiri pertunangan ini. "


Aku langsung berdiri tapi dia sudah berlari masuk ke dalam.


"Ada apa ini Ghani.. ? Kalian bertengkar ? kenapa? "


Mama memberondongku dengan pertanyaan nya. Sedang nenek kulihat hanya diam. Mungkin beliau syok.


"Kita pulang Ma.. "


Aku lebih dulu pergi ke mobil. Tanpa berpamitan pada nenek.

__ADS_1


Sepanjang jalan, mama memarahiku yang di nilai kasar pada April. Aku hanya diam. Sibuk dengan fikiranku sendiri.


Haruskah aku bahagia, setelah tanpa aku perlu melakukan apapun. Dengan sendiri April mengahiri pertunangan ini..


__ADS_2