
Suara Adzan mengumandang dari sebuah masjid terdekat, membuat dua orang yang saling memeluk dalam tidur mulai bergerak . April yang tersadar lebih dulu beringsut menjauh tapi tangan kekar suaminya menghentikan gerakannya .
Terlihat Arga masih terlelap tapi kedua tangannya menahan pinggangnya .
Perlahan dia mencoba mengurai tapi tidak berhasil .
"Mas ..."
Mendengar suara istrinya Arga langsung membuka matanya, yang membuat seketika wajah April memanas, hingga menunduk karna malu . Apalagi mereka hanya mengenakan selimut .
"Apa ?" Suara bangun tidur Arga sungguh terdengar amat seksi bagi April .
"Aku mau mandi .." April beringsut turun, hendak memungut baju tidurnya yang jatuh ke bawah .
"Biar aku ambilin.. " Segera lelaki itu memakai boxernya dan turun memungut baju istrinya yang dia lempar semalam .
"Ini.. " April menerima bajunya, tapi hanya diam.
"Udah, kenapa ga di pake ?" tanya Arga.
" Malu mas, jangan di lihatin. Mas berbalik gih.."
Melihat tingkah istrinya membuat Arga ingin tertawa.
Lelaki itu kembali meraih baju dan hendak memakaikannya .
"Mas mau ngapain ?" tanya April panik.
__ADS_1
"Bantuin kamu lah, masih sakit kan ?" .
mendengar jawaban suaminya membuat pipi April semakin memanas.
"Aku bisa sendiri .. "
"Udah buruan, nanti ga mandi-mandi. Keburu orang rumah pada bangun.''
Mendengar ucapan suaminya, membuat April menghela nafas pasrah .Bahkan dia hanya diam menunduk saat suaminya itu memakaikan baju miliknya . Dia juga was-was kali ada anggota keluarga yang tahu dia mandi sepagi ini . Maklum, rumah kampung hanya punya satu kamar mandi .
Dan setelah bergantian mandi lalu sholat subuh, April mendesah kesal di depan meja riasnya . Pasalnya seluruh leher dan bagian dadanya penuh akan kissmark perbuatan suaminya .
"Gimana nutupinnya sebanyak ini .. " desah April pelan.
Arga tersenyum saja pura-pura tak tahu . Baginya pernikahan tetap sakral, menikah dengan April bukan permainan. Meskipun mereka di jodohkan.
Sejak ikrar ijab kabul dia ucapkan, dia berjanji akan mencintai April meskipun dalam hatinya belum juga terlukis nama istrinya itu .
"Udah jam 7 ayo keluar, aku lapar ". Ajak Arga.
" Mas aja yang keluar, aku malu kayak gini ." rengut April. Bagaimanapun dia masih punya muka tebal .
"Kenapa? kamu ga suka karya seni suamimu ?" Arga pura-pura kesal .
"Bukan gitu mas, tapi ini ... " kata-kata April menggantung di udara begitu saja. Dia jadi takut Arga tersinggung pada protesnya .
"Pake krudung aja, cepet aku udah lapar ." tegas Arga .
__ADS_1
April menghela nafas pelan, melangkah lambat ke arah lemari mengambil krudung dan juga menukar baju pendeknya .
Arga yang melihat cara jalan istrinya jadi berdesir, itu adalah hasil perbuatanya meskipun semalam pendakiannya tidak mencapai puncak .
"Aku ganti baju sekalian, mana ada orang bake kaos pake krudung ."ujar April tanpa memperhatikan orang di belakangnya yang menarik bibirnya penuh.
Dan itu juga taktik Arga agar istrinya mulai memakai jilbab, setiap malam dia akan membuat tato baru di sekitar leher April. Membuat istrinya itu lambat laun mulai terbiasa mengenakan kerudungnya .
Tak terasa cuti kerja Arga sudah usai, dia kembali mengemban tugasnya dengan penuh semangat .Pasalnya semalam setelah 2 Minggu menanti akhirnya April mau kembali dia ajak mendaki hingga Arga mencapai puncak .
Sejak first night, April seolah trauma akan rasa sakit yang dia rasakan . Sehingga mau tak mau Arga harus bersabar .
"Cie, ngantin baru. Wajahnya bersinar banget. Kelihatan bahagianya .", ujar salah satu rekan kerja Arga .
"Lembur sampe pagi pasti ini mah, gas terus .." Tambah yang satunya .
"Iya dong, makanya cepetan nikah. Biar tahu rasanya ." jawab Arga .
''Huu... " seru kedua temannya dan setelahnya saling tergelak bersama .
Sedang di rumah, meskipun sering merasa tak nyaman pada area bawahnya . April tetap semangat berkutat di dapur . Sejak menikah dia terus belajar memasak. Dari makanan yang sederhana hingga hari ini dia belajar memasak rendang bersama nenek .
Arga selalu suka dengan makanan buatanya, April tak yakin apa sesedap itu masakannya . Yang dia rasa suaminya hanya berusaha menghargai setiap masakannya . Meskipun kadang hambar, atau asin. Suaminya selalu menghabiskannya .
"Jangan lupa daun jeruk April, biar wangi .. " Ujar nenek dari meja makan.
"Iya nek.. " jawab April dari dapur.
__ADS_1
" Apinya jangan besar, nanti ga empuk tapi kuahnya dah kering ." kembali Nenek memberi instruksi.
Jika dulu April sering marah-marah saat nenek mengkomplen caranya memasak. Tapi sekarang dia jadi lebih sabar . Karna mulai sadar jika semua ucapan nenek ada benarnya ,dia saja yang kepala batu susah menerima masukan orang lain.