
Pagi ini April begitu bersemangat. Setelah bebersih dan bersiap, dia menutup pintu kontrakannya. Karna Devan sudah mengirim pesan padanya.
"Pril, udah di jemput tuh ma cowok lu.. !" Vera si tetangga kos berteriak dari depan pagar.
"iya. " April bergegas menghampiri Devan yang sedang fokus dengan ponselnya. Sekilas terlihat Vera sedang menunggu bubur pesanannya dari pedagang keliling.
"Hai.. " Devan menyapa dengan senyum hangatnya, menyimpan ponselnya di tas kecil miliknya.
"Hai juga.. " malu-malu April mendekat.
Devan mengulurkan helm untuk April, bahkan membantu memakaikannya.
"Cieee... So sweet banget sih kalian.." Goda Vera sambil nyengir membawa bubur pesanannya.
"Neng mau Sweet juga? akang bisa kok.." Sepenjual bubur mengedipkan matanya sebelah pada Vera.
Vera mencebik, "ogah.. !" berbalik menuju dalam kos. Devan dan April terkikik geli sendiri melihat keduanya.
"Ayo.. " Ajakan Devan menyadarkan April, gadis itu segera naik ke motor bagian belakang.
"Udah "
Mendengar ucapan April, Lelaki itu segera menstart motornya menuju tempat kerja April .
Dengan laju stadar, April begitu nyaman di bonceng oleh Devan, bahkan tidak segan sedikit memegang kaos yang di pakai Devan. Aroma parfum itu juga menenangkan fikirannya.
Tak lama mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Nanti kamu tunggu aku ya.. !" Dengan telaten Devan membantu April membuka pengait helm.
"Ga usah, nanti aku naik angkot aja.. "
"Enggak, kamu tunggu aku.Ok ! " Devan pun langsung melajukan motornya pergi meninggalkan April .
"Ck, yasudahlah.. " April pun masuk ke tempat kerjanya.
.
Saat April sedang menikmati makan siangnya. Ponselnya berdering. Panggilan dari adiknya.
"Hallo Assalamualikum Dani.. "
"Waalaikum salam. Mbak, ada yang mau ngomong .. "
"Maksutnya apa, sapa.. " Belum selesai April bicara. Suara bariton di sebrang bagai menyambar hatinya.
"Aku yang mau ngomong, kamu di mana? kenapa ga ngubungin aku.. "
"Ehh.. " April menjauhkan ponselnya, berusaha melihat apa dia tersalah sambungan. Tapi nyatanya nama Dani yang terpampang di situ. Bukan dia tidak mengenali suara siapa di sebrang sana. Hanya hatinya agak ragu.
"Hallo.. Sayang.. "
__ADS_1
April melongo, sejak kapan si bujang batu berubah jadi seromantis itu. Memanggilnya sayang.
"Hallo sayang.. kamu masih di sana kan.. ?"
"Sayang.. ? kamu lagi nglindur ya? salah num obat. Geli aku dengernya.. "
"Kamu di mana.. ? Pulang donk. nikahan kita kan sebentar lagi.. "
April tersenyum sinis " Kita ? "
Tanpa April tau ponsel di sebrang sudah di rebut oleh ibunya.
"April.. ! Pulang kamu. Jangan bikin nak Arga panik. Pergi ga pamit. Pulang ! ini nak Arga sampe kesini nyariin kamu.. "
April menelan ludah kasar. Ada rasa nyeri mendengar perintah ibunya. Ibunya bukan memintanya pulang karna mengkhawatirkannya. Tapi jusru lebih perduli pada Arga .
"Maaf bu, aku mau masuk kerja lagi. Assalamualikum.. "
Tanpa menunggu jawaban ibunya, April memutuskan sambungan telpon sepihak. Matanya begitu panas, rasanya begitu sesak dan sakit. Dia berjalan cepat ke arah toilet untuk membasuh wajahnya yang sudah tergenang air mata.
Hingga sore Mood April menjadi buruk, Devan yang menjemputnya pun ikut mengerutkan kening.
"Kita mampir makan dulu ya.. " Tanpa menunggu persetujuan. Devan membelokkan motornya di sebuah warung tenda yang menjual pecel lele.
"Mau pecel lele atau ayam say.. ?" Tawar Devan saat mereka sudah duduk .
"Ayam aja.. " Jawab April tidak semangat.
"Kamu kenapa? kok nekuk gitu mukanya.. "
"Ga papa.. " April menompang kedua pipinya sambil cemberut.
"Astaga. Udah kayak kupat itu pipi.. " Devan mencoba menggoda April.
"Dih, bibir dah kayak bebek.. " sambil mengepakkan kedua tangannya berbentuk sayap. Tapi tetap saja Gadis itu tak bergeming atau tersenyum.
"Ok.. ok. Karna lo ga beraksi saat di goda. Gue nebak pasti gara-gara kunyuk Gano.. "
"Kok kamu samaan kayak aku manggilnya.. ?"
"Iya dari dulu. Kalo aku kesel aku manggilnya Gano.. "
"Haha.. sama. Aku juga gitu .. " Tak sadar April bisa tertawa kembali.
Devan mengulas senyum, dan makanan pun datang.
"Ayo makan dulu, jengkel sama Gano juga butuh tenaga.. "
"iya iya.. " April juga mulai menikmati makananya . Tadi siang tidak makan dengan baik, bahkan rawon yang dia pesan baru masuk di mulutnya 5 sendok tadi.
" Jadi kenapa.. ?" Tanya Devan kudian. Keduanya sudah selesai makan dan berpindah ke taman.
__ADS_1
April yang semula sibuk melihat sekeliling taman yang ramai dengan pasangan muda mudi. Langsung menoleh ke arah Devan.
"Tadi Arga ke rumah.. " jawabnya lesu.
"Terus.. ?" tanya Devan.
"Dia nyuruh pulang.. " April jadi ingat saat tadi Arga memanggilnya sayang. Rasanya hatinya sedikit senang dan melambung.
"Kamu mau pulang.. ?"
"Aku juga bingung, tapi buat apa aku pulang. Jujur aja aku cape tarik ulur gini.. " ucapnya lesu. Beberapa tahun bersama, dia merasa tidak di hargai oleh Arga.
"Perasaan kamu ke dia gimana..? " tanya Devan sambil menatap lekat ke arah April, bahkan dia menggeser tubuhnya agar terfokus ke arah April.
April pun menatap Devan " Kamu ngeliatnya gimana.. ?"
"Di tanya balik nanya " gerutu Devan yang membuat April terkikik sendiri.
'"Aku juga ga tau.. " Jawab April setelah tawanya reda.
"Kamu cinta sama dia.. ?"
April menoleh kembali menatap Devan " sok tau.. "
"Kalo ga cinta, kamu ga akan mau di tarik ulur kayak gini.. "
April diam, menatap lurus ke depan. Sejak pertemuan mereka pertama kali, April memang terpesona dengan Arga, tak lama mereka tunangan, tapi sejak itu tidak bertemu lagi cukup lama.
"Siapa sih yang ga jatuh cinta sama orang kayak dia sih. . " Desahnya pelan.
"Aku udah jatuh cinta sejak pertama ketemu sama dia, dan tambah bahagia karna dia mau di jodohin sama aku gara-gara hutang budi "
"Pertama ketemu, aku langsung suka sama dia, wajahnya yang ganteng, bahkan seorang title polisi, aku suka ngliat matanya. Meskipun matanya ga pernah dia pakai buat ngliat aku.. "
"Aku kira rasa suka aku hanya cinta monyet, aku juga pacaran sama 3 cowo selama bertunangan dengan dia. Tapi itu cuma buat hiburan, karna dia ga pernah merduliin aku.. Ternyata, tetep dia yang indah di mata aku.
Tapi makin kesini aku ngrasa aku udah ga bisa gini lagi, mungkin karna aku uadah agak dewasa ya. Aku butuh komitmen. Tapi dia kayak ga perduli sama hati aku.. "
"Dan sialnya lagi, karna blas budi itu. Keluargaku sendiri jadi menyudutkan ku. Cuma nenek yang walaupun sangat cerewet selalu mengutamakan kebahagiaan ku .. "
Devan menepuk lembut bahu April, seolah memberi kekuatan.
"Kan aku jadi curhat.. " Di usapnya air mata yang nerembes keluar.
"Ga papa, ini yang di namakan sahabat. Saling berbagi.. " Devan mengulum senyumnya. Dan April ikut tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Jadi kamu maunya gimana.. ?"
"Aku juga bingung Dev... "
"Ahaaa.. aku ada Ide.. " ujar Devan mantap.
__ADS_1