
"Aku mencintai lelaki lain.. "
Begitu April memberikan alasan. Bahkan gadis itu langsung membuang pandangannya ke samping. Takut jika ketahuan berbohong.
"Lalu masalahnya apa jika kamu mencintai lelaki lain.. ?"
April melotot sambil ternganga, tidak Menyangka dengan respon Arga. Seketika itu juga dia berbalik menatap lelaki yang justru menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja aku tidak akan menikah denganmu.. "
"Kenapa.. ?" tanya Arga lagi. Jujur saja April mulai kesal. Perasaan takutnya tadi sudah menguap berganti perasaan ingin menimpuk kepala Arga detik itu juga.
"Karna aku mencintai lelaki lain, itulah aku tidak mau nikah sama kamu !"
Arga kembali menarik bibirnya, menggeleng pelan. Mengabaikan perkataan April.
"Tunggu.. " rengek April lagi saat sadar lelaki itu kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa lagi..? " Arga mulai menjalankan mobilnya.
"Berhenti donk, kita mau kemana.Aku tu ga mau pulang.. " Rengek April.
"Aku masih mau di sini, kerja, nikmati masa muda, pergi kencan, romantis-romantisan. Aku ga mau pulang.. " Di goyang-goyangnya lengan tangan Arga. Lelaki itu hanya diam dan sekali sekala menoleh lalu fokus ke jalanan.
"Berhenti aku bilang.. !!"
"Kenapa sih kamu selalu sesukamu sendiri. " Lirih April, matanya mulai memanas, dadanya juga sesak. Dia menghadap ke jendela, mulai merembes dah air matanya.
Arga yang tau April menangis menepikan mobilnya . Di tariknya lengan April agar menghadapnya . April yang kesal menghempas tangannya Arga. Dan tetap menghadap ke jendela.
"Kenapa kamu nangis ?"
"Pake nanya lagi, aku tu kesel sama kamu..!!" Di elapnya ingusnya dengan lengan jaketnya.
Arga menarik paksa April menghadapnya. Dan saat wajah mereka saling berhadap-hadapan. Dengan cepat Arga meraih tisu, mengelap ingus juga air mata yang membasahi pipinya. April tercengang dengan apa yang Arga lakukan. Dia diam membatu memperhatikan wajah Arga yang cukup tampan sedang mengusap air matanya.
Jantung April memompa lebih laju dari biasanya saat netra mereka saling bertemu. Keduanya diam, hanya saling memandang. Arga dengan fikirannya sendiri. April pun sibuk meredam debaran jantungnya. Hingga dia memilih memutus pandangan mereka.
"Memangnya siapa yang kamu cintai ? " tanya Arga kemudian.
April tergagap, dia tidak sempat memikirkan siapa yang bisa dia jadikan alasan.
"Aduh, begok.. kenapa ga mikir sih dari tadi. Masak jawab Devan . "
Arga terus memperhatikan April, terlihat gadis itu meremas ujung bajunya.
"Pernikahan kita udah di siapin sama orang tua kita, bagaimana jika gagal. Apa ga kasian sama mereka. "
April mulai lemah mendengar penuturan Arga, jujur dia juga memikirkan betapa malunya keluarganya nantinya jika pernikahan itu gagal.
"Tapi aku ga mau nikah sama kamu.. "
"Lalu kamu mau menikah dengan lelaki yang kamu cintai begitu. .?"
"Ya iya lah.. "
__ADS_1
"Siapa.. ? aku tanya dari tadi kamu ga jawab.. "
April diam, bingung merangkai kata. " Devan " lirihnya kemudian.
"Kamu mencintai Devan? " Kembali April hanya diam.
"Jawab April.. ! kamu mencintai Devan? kamu mau menikah dengannya? apa kamu tau Devan menyukai Nada sejak dulu.. "
April tentu saja terkejut, fakta baru yang bodohnya dia tidak tau.
"Apa maksut kamu..? "
Arga menyunggingkan senyum sinis nya.
"Alasan apa lagi yang mau kamu buat..? " tantang Arga yang memang mengetahui kebohongan April.
April terdiam, gagal sudah semua rencana yang sudah dia rancang. Dia pun membenarkan ucapan Arga, karna Devan menyimpan foto Nada sebagai Wallpaper ponselnya . Bukankah itu sudah bisa di jadikan bukti. Apa dia akan ngotot sedang kenyataanya antara dia dan Devan hanya teman.
"Pokoknya aku ga mau nikah sama kamu titik..!" April membuka seatbelt nya dan bersiap keluar dari mobil tapi sejurus kemudian Arga menahan tangannya.
Cup.
Tanpa April duga Arga langsung membenamkan bibirnya di bibir April. April yang terkejut dan syok akan apa yang terjadi seakan menjadi patung. Jantungnya berdetak kencang. Bahkan mungkin Arga bisa mendengarnya.
Ciuman Arga tidak hanya sampai situ, lelaki itu lebih menekan tangkuk April, memagut lembut bibir itu, menyesap pelan dan tanpa sadar April justru memejamkan matanya. Menikmati ciuman pertama mereka.
Menyadari April mulai menikmatinya Arga menghentikan gerakan bibirnya, mata April langsung terbuka.
Dengan posisi seintim itu, keduanya saling memandang. Deru nafas bahkan aroma keduanya saling merasai .
"Apa aku perlu membawamu ke hotel agar pernikahan kita tetap akan berjalan semestinya..? "
"Kau menantangku.. " Arga tergelak.
Sungguh April justru terpana melihat wajah Arga, ini pertama kalinya Arga tertawa lepas di depannya. Dan cukup membuatnya terpesona.
"Baiklah, mari kita ke hotel. " Trrlihat lelaki itu mulai melajukan mobilnya kembali.
"Apa.. ?" April baru menyadari apa yang tadi dia lakukan.
"No.. ! kamu gila. Kamu bisa di bunuh papa mu atau kakekmu nantinya.. " April berusaha menyadarkan Arga, agar lelaki itu menginagt batas.
"Ga masalah, yang penting udah pernah ngrasain yang kata orang surga dunia.. "
"Dasar mesum.. berhenti ! Aku tidak segila itu bujang batu.! "
"Oh ya.. ?" Arga melirik sekilas April yang gelagapan.
"Ahh kenapa grogi banget sih tiap di liatin dia.. "
Semua bagai hal baru bagi April, yang semula seolah berjarak sekarang justru jarak mulai terkikis.
"I.. iyalah. Emang kamu kira aku cewek apaan.. "
"Menurut kamu, kamu cewe apa.. ?" Arga justru balik bertanya pendapat April.
__ADS_1
"Cewe jadi-jadian.. " Sebal April. Apaan dia di suruh menilai dirinya sendiri. Yang pasti jatuhnya jadi memuji diri sendiri kan.
Arga kembali tergelak, bahkan memukul stir mobilnya.
"Ahh, kenapa jadi sedekat ini sih kita. Bahkan tadi kita ciuman.. "
Darah April jadi ser-seran. Pikiranya melayang entah kemana. Dan saat dia sadar Arga sudah membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan.
"Kita mau ngapain ke sini.. ?"
" Makan lah, atau kamu mau ke hotel saja.. ?" kembali Arga menjahili April. Gadis itu langsung membuka seatbeltnya dan turun dari mobil.
April menunggu Arga di depan mobil, dai tidak mau masuk duluan. Takut salah tempat.Karna di situ berderet cafe-cafe yang tampak ramai meski jam sudah menujukan 10 malam lebih.
Saat Arga mulai brrjalan, April hanya membuntutinya di belakang. Keduanya masuk di salah satu cafe dan langsung memilih tempa duduk.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu.
"Kamu mau makan apa.. ?" tanya Arga tanpa melihat April. Dia juga sedang membaca menu.
"Apa ya.. Aku tadi udah makan,aku minum aja "
Arga mengangkat wajahnya " Kamu tadi makan dengan Devan.. ?"
Terlihat gadis itu mengangguk, lalu Arga memilih Spagheti juga disert yang cukup membuatnya tertarik.
"Nanti kamu beneran suka sama dia kalau terlalu deket.. "
"Maksutnya.. ?" April tidak tau arah bicara Arga. Dia sibuk melihat nuansa cafe yang menurutnya sangat kekinian. Banyak juga pasangan muda mudi yang duduk bersama pasangannya.
"Lupakan.. " Arga membuka ponselnya. Memeriksa pesan yang masuk ternyata dari mama Yuna. 1 lagi dari Melati .
Mendengar jawaban Arga, April ingin bertanya tapi bersamaan itu pelayan datang mengantar minuman.
Dan tak lama pesanan pun datang .
Hanya Arga yang makan, April benar-benar menolak untuk makan.
"Kamu makan disertnya aja.. " tawar Arga.
"Ga mau, itu ada coklatnya. "
"Kamu lagi diet.. ?"
"Iya lah, nanti kebayanya ga muat.. " cerocos April tanpa sadar yang langsung membuat Arga tersenyum tipis. April tidak menyadarinya, dia juga sibuk membuka pesan dari Dani.
"Aku langsung pulang malam ini, aku ga bisa ninggalin kerjaanku lama. " ucap Arga setelah selesai makan.
April pun menyimpan ponselnya, tidak sopan rasanya di ajak berbicara tapi dia malah mainan hp.
"Harusnya kamu ga perlu kesini mas.. "
Situasinya sudah melunak, bahkan April sudah mau memanggilnya mas. Menurut Arga ini saat yang tepat berbicara serius dengan April.
"Yas.. "
__ADS_1
.
.