April & Arga

April & Arga
Permintaan Arga


__ADS_3

2 manusia yang berlainan jenis itu hanya saling menghela nafas pelan dan saling pandang.


"Mau kah kamu pulang..? " kembali terdengar bujukan Arga.


"Kenapa ga kita akhiri saja sih mas. Kamu bisa nikah sama cewek lain.." Lidah berkata demikian, tapi tidak dengan hati April. Sejujurmya dia tidak akan rela jika Arga sampai menikah dengan wanita lain. Hanya saja dia ingin memastikan bagaimana perasaan Arga sekarang.


"Ga da kandidat lain. " jawabnya sembari menghela nafas.


"Astaga, ga mungkin lah. Kamu tu ganteng, mapan apa lagi ya... orang terpandang. Ga mungkin ada cewek yang nolak sama kamu.. " cerocos April.


"Buktinya kamu nolak.. " Arga terus memperhatikan mimik wajak April yang terlihat terkejut.


"Yaa.. kecuali aku mungkin ya.. " April meringis, merasa termakan omongannya sendiri.


"Pulang ya.. " kali ini Arga terlihat begitu menghiba.


"Kita tu ga saling suka, gimana bisa nikah. hidup bersama. Itu mustahil.. "


(Karna cuma aku yang suka kamu, sedangkan kamu enggak)


Kata-kata terakhir itu hanya bisa April ucapkan di dalam hati tentunya.


"Itu ga jadi hal Yas.. Yang penting komitmen. Apa kamu yakin kita ga bisa saling suka nantinya.. ?"


Hati April berbunga-bunga. Dia menyukai jika Arga memanggilnya "Yas". Tapi dia berusaha bersikap biasa saja.


"Seberapa yakin sih kamu mas .. ? aku ga mau loh jadi janda.. "


"Ga akan, aku janji.. " Tegas arga.


"Apa janjimu bisa di pegang.. ?" tanya April memastikan.


"Ini pertama kalinya aku janji sama seorang wanita.. "


Bolehkah April merasa istimewa, sungguh dia merasa tersanjung.


"Kenapa kamu milih aku.. ?"


Cukup lama Arga diam, hanya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil menunduk. Padahal orang di depannya sangat menunggu jawabanya sampai kesal sendiri.


15 menit hening.


"Udah kan.. pulang yuk, aku besok kerja.. " Dia menggeret tasnya. Memendam rasa kecewanya dengan melangkah kan kaki keluar lebih dulu.


Arga pun segera membayar bill dan bergegas keluar. Mencari keberadaan April.


Sedang yang di cari ternyata sedang berdiri di trotoar dan di hampiri seorang gelandangan yang menggendong anaknya, samar-samar Arga mendengar wanita lusuh itu meminta makan untuk anaknya .


April pun langsung membuka tas dan mengeluarkan uang selembar berwarna merah.


Terdengar wanita itu beterima kasih sambil duduk sedikit sujut. Sedang April langsung ikut terduduk untuk membantu wanita itu berdiri.


"Ini kah salah satu alasan mama kenapa memilihkannya untuk ku.. " Batin Arga.

__ADS_1


Setelah memastikan wanita itu pergi, Arga mengambil mobilnya dan menjalankan mobil mendekati ke arah April.


Tin.


Melihat kedatangan Arga, April pun langsung masuk dan mobil kembali berjalan ke arah kontrakan.


Hening, keduanya saling diam hingga tiba di kos'an.


Saat April hendak membuka pintu, Arga memegang tangannya .


"Ada apa lagi.. ?" Kesal April.


"Kamu kesal karna aku ga jawab pertanyaan kamu tadi.. ?"


"Enggak. Itu hak kamu.. " April kembali ingin membuka pintu mobil. Tapi di tarik Arga.


"Apa sih.. ?"kesalnya.


"Kamu mau tau jawabanya kan, kalo kamu mau tau. Kamu pulang. Aku tunggu di kampung.. "


Meski belum paham, April memilih untuk cepat turun dan masuk ke dalam kos-kosan. Tanpa menoleh kembali ke arah Arga yang menatapnya hingga masuk kamar.


Setelah memastikan April masuk, Arga melajukan kembali mobil untul pulang ke lampung. Karna besok dia harus kerja.


Sedang di dalam kamar kost-kostan, April yang sudah mandi merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.


Dia bingung, apa pulang jalan terbaik untuknya.


Tiba-tiba dia teringat ciuman yang di berikan Arga tadi. Yang membuat darahnya berdesir.


.


Pagi datang kembali dengan sejuta harapan setiap orang tentunya. April menunggu kedatangan Devan hingga 30 menit tapi tak ternampak batang hidungnya.


Karna takut telat, dia pun memilih pergi naik gxxxxxx.


Betul saja, dia terlambat masuk hingga mendapat teguran dari atasannya.


"Potong aja bu gajinya. Nanti kebiasaan.. " Fani teman kerja yang iri padanya pun semakin memanasi bos nya agar memotong gaji April.


"Tapi kan saya baru kali ini bu telat. " April berusaha membela diri.


"Alah, alasan kamu aja. Dasar anak baru nglunjak.. " Fani pergi setelah menyiram minyak pada bara api.


"April, saya tidak akan memotong gaji kamu kali ini. Tapi kalau kamu telat lagi, tidak ada maaf untuk kamu, mengerti.. !" Ujar Bu Lina.


"Iya bu, terima kasih.. " April sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berjalan masuk.


Fani yang mendengar itu pun jadi murka sendiri . Dia mencari cara bagaimana membuat April keluar dari sana.


April yang fokus pada olahan kue di depannya tidak menyadari gelagat Fani yang mendekatinya dengan segenggam garam.


"Awas, Pril.. ada tikus.. !!"

__ADS_1


April celinguk'an, bukan dia takut. Cuma geli saja. "Mana...? " Tanyanya sembari menoleh ke arah Fani.


..."Bawah meja.. " Saat April sibuk melongok bawah meja, Fani langsung menabur garam yang dia bawa ke adonan April....


"Mampus lo.. " Fani menyeringai sembari mengibaskan tangannya.


"Ga da tuh.. " April masih celingak celinguk karna penasaran.


"Udah lari kayaknya, gue duluan ya. Kayaknya udah mateng.. " selamba gadis itu menhauhi April.


Sedikit mengerutkan kening, April menatap adonannya dan melanjutkan kerjaanya .


Setelah selesai, dia pun mencetaknya. Seperti biasa dia akan menjilat sedikut adonan untuk merasai pas tidaknya takaran.


Tapi pupil matanya langsung melebar seketika.


"Astaga... ini apa.. kenapa bolunya jadi asin gini.. " gerutunya.


"Ada apa Pril.. ?" Beni yanng biasa mengawasi pekerja mendekat melihat April yang tampak panik.


"Maaf Bang, ini adonan bagian saya buattidak bisa di cetak.. " April sedikit menunduk.


"Kenapa.. ?" Beni mengerutkan keningnya.


"Adonannya sangat asin bang. Maaf, saya teledor. " Sesal April masih dengan menunduk


Beni lebih mendekat dan sedikit mencuel adonan untuk merasai.


"Astaga.. kamu mau kawin ya. Asin banget. . buang aja.. "


April meringis, membuang adonan itu. Tapi ternyata bersamaan itu bu Lina justru datang dan melotot tajam.


"Ada apa, kenapa di buang..? "


Beni yang semula akan melangkah keluar mengurungkan niatnya, dan justru berbalik.


"Maaf bu, adonannya salah. Maafkan saya.. "


"Ga bisa gini donk, rugi saya kalo kayak gini. Kamu kalau ga bisa bikin, ga usah di bagian produksi.. Kamu bagian packing aja.. !" makinya.


"Mbak, itu hanya hal kecil kan, ga usah di besar-besarin.. " Beni menghampiri keduanya.


" Kamu ga usah sok-sok an mbela dia.. kamu mana tau untung ruginya orang usaha. " Dina melotot kesal pada Beni yang ternyata iparnya.


"iya, maaf mbak. Udah ga usah di besar-besarin..April, kamu kembali kerja.. " Pinta Beni sambil menepuk pundak April.


"Ya, kamu lah bosnya di sini kan..? " Sindir mbak Lina lalu pergi meninggalkan keduanya.


Sedang April dan Beni hanys diam mekihat kepergian Lina.


"Lanjutkan kerjanya Pril.."


"Iy-ya bang.. "

__ADS_1


Perasaan April jadi tidak nyaman melihat saudara ipar itu saling berselisih karna dia.


__ADS_2