
Setelah menemui April, Arga mulai berusaha membuka hatinya untuk menerima April seutuhnya. Dia bukanlah lelaki yang mudah jatuh cinta. Terbukti dia tidak pernah punya mantan.
Sebenarnya dia cukup pandai bergaul, tapi entah kenapa dia tidak mudah tertarik pada lawan jenis. Hingga dia memilih menghindari siapapun wanita yang menyatakan perasan padanya. Satu alasannya, dia tidak mau lebih menyakiti wanita itu.
Hanya Rina satu-satunya yang pernah ada di hatinya. Teman semasa kecil yang membuatnya jadi berobsesi hingga hampir gila karna di tinggal menikah.
Tidak ada alasan untuk menolak April lagi. Dia yakin mama papanya juga sudah mempertimbangkan dengan baik tentang seseorang yang akan jadi pendamping hidupnya.
Tapi yang sekarang jadi fikirannya adalah,maukah April bersamanya kembali?
Besar harapannya April tidak akan menolaknya. Mau pulang dan melanjutkan rencana pernikahan mereka.
Arga sadar belum ada cinta di hatinya untuk April tapi dia akan berusaha berkomitmen pada pernikahannya nanti.
Dia akan menerima semua dengan niat ibadah.
"Ga... !!" Seorang wanita melambai di pojok restoran dengan senyum manisnya.
Arga tersenyum berjalan menghampiri Melati. Gadis itu tadi memintanya menemuinya di sebuah restoran sepulang kerja.
"Udah lama.. ?" tanyanya sambil menarik kursi.
"Baru aja kok, mau minum apa.. ?" Melati melambai ke arah pelayan restoran.
"Es Kopi aja Mel.. " jawab Arga.
"Makan.. ?" tanya Melati lagi, yang hanya di balas gelengan kepala dari Arga.
"Mas, Es kopi ya satu.. " Pesannya pada pelayan yang mendekat.
"Baik mbak, ada lagi.. ?" pelayan menulis pada buku pesanan.
"Itu aja dulu.. " Mendengar jawaban Melati sang pelayan mengangguk lalu pamit.
"Ada apa sih. tumben.. ?" tanya Arag tang sydah merasa penasaran. Tidak biasanya Melati mengajaknya makan hanya berdua.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu.. "
Pelayan datang mwnfhantar Es kopi di mwja mereka. Melati pun mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Apa.. ?" Arga mulai memyedot Es kopi miliknya.
"Ga... "
Arga mengangkat wajahnya menatap Melati yang terlihat gugup.
"Aku .. aku... "
"Ada apa Mel.. ?" Arga mengangkat kedua alisnya.
Terlihat Melati menghela nafas panjang lalu kembali menatap Arga.
"Ga, bisakah kita terus bersama.. ?"
"Maksut kamu.. ? bukanya kita emang selalu bersama, kita kerja bersama Mel.. ?" tanya Arga yang belum paham arah pembicaan Melati.
"Bukan itu, aku.. aku mau kita bersama terus. "
Arga diam menunggu kata selanjutnya dari Melati. Dia mulai berfikir, apa Melati akan membuat pengakuan seperti teman-teman wanitanya sebelumnya yang ternyata baper dan menyimpan rasa untuknya.
"Kamu baik Ga, aku nyaman sama kamu.. Apa bisa kita sama-sama terus. Maksut aku bukan bersama dalam hal kerja.. "
Arga menghela nafas pelan, benar tebakanya. Melati akan membuat pengakuan.
"Mel, kamu tau aku udah tunangan kan.. ?"
"Aku tau, tapi kamu ga cinta sama dia kan.. ?"
"Kata siapa..? " tanya Arga.
"Ya, aku liat kamu biasa aja sama dia, ga perduli, ga perhatian juga.. "
Arga tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan, mendengar penuturan Melati. Seburuk itu ternyata hubunganya dengan April di mata orang lain selama ini.
"Ga, maukah kamu menerima ku..? " Tatapan penuh harapan Melati sempat membuat Arga trenyuh.
"Mel, kamu baik,supel, enak di ajak ngobrol. Jujur saja aku nyaman temenan sama kamu selama ini Mel.." tutur Arga.
"Jadi kamu nau nerima aku kan..? " Binar bahagia mulai muncul di wajah yang semula sendu itu.
__ADS_1
Arga menggeleng pelan. " Aku hanya menganggapmu sebagai teman, Mel.."
"Kenapa Ga, Kenapa cuma temen.. ? " Kedua mata Melati mulai memerah.
"Karna memang hanya itu Mel, aku ga punya perasaan lebih sama kamu.. " tutur Arga lembut, takut menyakiti hati sahabatnya itu.
"Kamu juga ga punya perasaan kan sama April.. ? " desaknya.
"Sekarang belum,mungkin nanti.. bisa.. " jawab Arga mantap.
Meleleh sudah Air mata Melati , harapannya hancur bersama penolakan Arga.
"Kenapa kamu ga mau mencoba bersamaku, siapa tau kamu bisa suka dan cinta sama aku.. " ucapnya sambil berderai air mata.
"Aku akan mencoba bersama April, karna dia tunanganku.. "
"Tapi aku juga teman dekat mu, bisa ngertiin kamu. Kenapa kamu ga mau nyoba sama aku..?" Melati masih berusaha agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Maaf Mel, aku ga bisa.. "
Melati menyeka air matanya, untungnya mereka berada di meja pojok. Sehingga tidak terlalu ketara yang si wanita sedang menangis.
"Udah jangan nangis, kamu bisa dapet lelaki yang lebih dari aku Mel.. " bujuk Arga, bagaimanapun gadis itu selalu menemaninya selama ini. Mereka saling berbagi dalam suka dan duka saat bertugas di kalimantan.
"Bagi aku, kamu yang terbaik Ga... " Air mata terus mengalir membuat Arga tak tega, dia pun bangun menggeser duduknya mendekati Melati dan menepuk bahunya pelan.
"Mel, jangan memaksa. Karna hati aku lebih mantap menjalaninya bersama April. Maaf.. "
Mendengar itu Melati bangkit meraih tasnya lalu berjalan tergesa neninggalkan Arga yang diam menatap kepergiannya .
Walaupun sakit bagi Melati, tapi Arga ingin Melati melupakan perasaan padanya sebelum terlalu jauh lagi.
Arga menyandar pelan di kursinya, tatapannya menerawang jauh mengingat kebersamannya bersama Melati di Kalimantan dulu. Persahabatan itu kini telah retak karna cinta yang hadir di tengah jalinan mereka.
Cukup lama Arga hanya duduk termenung hingga suara dering ponsel dari seseorang membuyarkan fikirannya.
"Ya. Assalamualaikum.. " Sapanya pada si pemanggil.
"Waalaikum salam, jemput aku di terminal.. "
__ADS_1
Arga mengembangkan senyumnya, langsung bangkit menuju kasir.
"Tunggu di situ.. " titahnya sebelum menutup panggilan.