
Suasana rumah nenek tampak ramai hari ini. Sanak saudara berkumpul menjadi satu.Bahkan rombongan pengantin Pria juga sudah datang dan duduk menunggu waktu akad.
Di kamar, April menatap tampilannya di kaca rias, hari ini dia terlihat beda dengan dandanan full make-up. Kebaya putih dengan payetan yang kata perias harganya begitu mahal. Terlihat serasi untuknya.
"Jangan grogi mbak, santai aja. Keringetnya ngucur terus ini.. " Si perias tampak mengusap dengan tisu dan menambahkan bedak lagi.
"Maaf mbak, aku beneran nerveus banget.. "
Perias itu hanya tersenyum,lalu merapikan tampilan kerudung April. Bunga melati dia disisipkan di bagian kiri menyamping untuk menambah ke anggunan.
"Tarik nafas.. buang nafas .. pelan-pelan.." Nadia mencoba memberi intruksi agar bisa mengurangi ketegangan April.
"Tarik nafas loh Pril, bukan kolor. Kolornya entar malem aja... " Valen yang sibuk ber make up ikut menimpali.
"Gelo... mesum ja otak lo..! " Nadia melempar guling ke arah Valen yang terkikik sendiri. Sedang April hanya menggeleng pelan melihat tingkah keduanya.
"Gila, Hari ini putri pecicilan keliatan anggun banget Nad. Ga da suaranya, bernafas ga sih Nad... " Valen mendekat mencoba mendekat ke arah dada April.
Plak
"Sembarangan..." April yang kesal memukul bahu temannya itu.
"Haha... rasain lo..." Nadia tertawa bahagia melihat wajah meringis Valen akibat pukulan April.
__ADS_1
"Beruntung banget mbak, bisa nikah sama anak nya Pak Putra. Mas Arga tu dah ganteng, mapan, orangnya juga ga neko-neko .. " puji si perias.
April hanya tersenyum menanggapinya, kembali di usapnya keringat yang mengalir. Kipas angin sudah di nyalakan sedari tadi. Tapi entah kenapa panas pagi ini di kamarnya terasa menyengat.
3 minggu yang lalu, saat dia memutuskan pulang dan menerima ajakan Arga. Dia sudah memikirkan bagaimana nantinya. Dia juga memikirkan malunya keluarganya jika sampai pernikahan itu tidak jadi.
Ibunya sudah jauh-jauh hari berkoar-koar akan berbesan dengan keluarga pak haji pada kerabatnya.
Bukan itu saja yang jadi pertimbangan bagi April,jauh di dasar hatinya memang masih mencintai Arga. Meski dia sadar lelaki itu belum juga menyukainya. Setidaknya Arga sekarang bisa menerima kehadirannya.
Bukan lah hal buruk ,Arga lelaki yang tampan dan mapan. Tidak ada hal yang perlu di ragukan tentang masa depannya. Meski mungkin dia harus berjuang exstra untuk meluluhkan hati lelaki itu.
"Ayune putuku... " Suara nenek membuat April terkejut, dia melamun sedari tadi sampai tidak menyadari perias sudah selesai membenahi kerudungnya.
April mengulas senyum manisnya saat nenek mendekat dan meraih tangannya.
"Jadilah istri yang berbakti April.. Nenek selalu mendo'akan kebahagiaan mu.. "
"Iya nek.. " Entah kenapa dada April bergemuruh mendengar ucapan nenek. Matanya jadi berkaca-kaca.
"Jangan nangis.. " Nenek mengusap air mata yang berhasil lolos tanpa April sadari.
"Keluarga pak haji itu sangat baik dan terpandang, bu Yuna juga terkenal sangat baik. Kamu harus bisa megimbanginya. Jaga sikap mu saat di luar. Tindak tanduk mu. Jangan membuat keluarga mertuamu malu. "
__ADS_1
April mengangguk mendengar wejangan sang nenek.
Hingga tiba saatnya Ibu masuk karna akad akan segera di mulai.
Dengan di gandeng Nadia dan Valen. Sedang ibu dan nenek mengikutinya di belakang. April melenggang anggun ke arah meja akad.
Gugup setengah mati, dia justru menunduk menyembunyikan wajahnya. Hingga tidak sadar langkahnya terhenti saat kedua kaki sahabatnya juga berhenti. Dia di dudukkan di sebelah calon suaminya.
"Bener ini calonnya mas Arga.. ?" tanya si penghulu.
"Iya pak.. " Jawab Arga sambil menoleh ke arah April yang menunduk.
"Ini beneran calonnya mbak April, takut salah loh saya.. " Godaan penghulu membuat April seketika mengangkat wajah dan menoleh ke arah Arga yang terlihat memandang depan. Dari samping pun April begitu mengagumi tampilan Arga hari ini, Baju putih di padu kain songket dan peci membuat Arga terlihat bak pangeran bagi April. Tapi sedetik kemudian Arga justru menoleh ke arah April membuat mata keduanya bertemu.
"Udah dulu.. nanti udah sah baru pandang-pandangan.. "
Mendengar kata-kata penghulu, keduanya langsung memutus pandangan dan menatap lurus ke depan. Sedang para hadirin tampak tertawa melihat tingkah keduanya. Arga terlihat menyeka keringat, sedang April wajahnya semerah tomat kembali menunduk.
Tak lama pun acara akad di mulai. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuh April dan Arga. Detak jantung keduanya seiring dengan helaan nafas yang tercekat ingin keluar. Di nikahkan langsung oleh Ayah April, Arga secara lantang mengucapakan akadnya dan di sambut kata " Sah " oleh para saksi.
Rasa hangat menjalar di tubuh Arga saat April mencium punggung tangannya. Sedang april di buat jantungan saat satu kecupan mendarat di keningnya.
Rasanya semua beban nya hilang seketika. Berganti rasa bahagia bisa menikah dengan lelaki pujaannya membuat April mengulas senyumnya sepanjang resepsi. Bukan lagi grogi tapi dia merasa bangga sendiri.Setidaknya dia bisa menikah dengan Arga. tidak perduli, bagaimana hubungan mereka kedepannya .
__ADS_1
Yang pasti saat ini impiannya bersanding dengan Arghani Adi Kusuma sudah menjadi kenyataan.