
April membuka pintu rumahnya saat mendengar suara salam dari luar.
"Waalaikum salam.. " jawabnya sambil melihat seorang lelaki berdiri dengan membelakanginya.
Saat mendengar jawaban salam, lelaki itu juga lekas berbalik dan mengembangkan senyumnya.
"Yoga.. ?!" Kaget dan tidak menyangka, bagaimana lelaki itu bisa tau rumahnya .
"Boleh aku masuk.. ?" Tanyanya ramah, seramah senyum yang menghiasi bibirnya.
"Ohh.. iya, silahkan.. " Membukakan pintu lebih lebar agar Yoga bisa masuk.
"Duduk Ga.. "
Yoga mengangguk,lalu duduk. Terlihat dia memandang sekeliling ruangan. Menatap beberapa figora yang terpasang di dinding warna hijau itu.
"Kamu mau minum apa.. ?" Tanya April
"Ga usah, aku udah bawa minum.. " Tunjuknya pada sekantong kresek warna putih lebel mini market tempat April bekerja . Dia mengeluarkan beberapa minuman kemasan juga snack.
"Kamu kok bisa sampe sini.. ?"
"Iya, aku hubungi nomer yang kamu kasih tapi ga bisa, jadi tadi niatnya mau nyamperin kamu di tempat kerja.Ga taunya kamu lagi cuti.Kenapa cuti, apa kamu sakit.. ?"
"Ehh.. enggak, aku lagi kena musibah, jadi ga bisa masuk kerja hari ini.. "
"Musibah apa..? " tanyanya penasaran.
"Anu, semalem pulang kerja aku kena begal.. " Tutur April yang langsung membuat Yoga kaget .
"Serius kamu kena begal? di mana? "
"Di karetan sana, jalan arah masuk desa.. "
"Tapi kamu ga papa kan.. ?" Yoga reflek menyentuh tangan April yang ternyata mendapat deheman neneknya April yang baru selesai sholat Dzuhur.
"Eh, Assalamualaikum nek.. " Yoga bangun untuk salim.
"Waalaikum salam.. kamu siapa? " tanya nenek dengan tatapan menyelidik.
"Saya Yoga nek, temennya April.. " jawab Yoga memperkenalkan diri.
Nenek ber'oh saja lalu menyuruh Yoga kembali duduk. Sedang beliau menuju kamarnya untuk istirahat.
"Itu nenek kamu, atau ibu kamu.. ?" Bisik Yoga.
"Itu nenek ku, ibu ku ada di Balam.."
Yoga mengangguk dan kembali duduk.
"Jadi gimana ceritanya Pril? "
April pun mulai menceritakan pada Yoga tentang pembegalan semalam. Tapi di Skip tentang pertemuannya dengan Arghani.
"Syukurlah kamu ga papa Pril, lain kali hati-hati. Tunggu ada barengan, baru jalan masuk. " tutur Yoga.
"Iya ga, aku juga ga nyangka. Biasanya lewat situ juga biasa aja. . "
"Kamu udah lapor polisi.. ?"
" Udah kok, ini lagi nunggu kabar dari polisi.. "
"Semoga aja cepet ketemu ya.. "
"Aamiin. Makasih"
Yoga mengangguk, dan meraih botol minuman kemasan. Membukakanya untuk April.
"Makasih ya.. " April menerimanya dan mulai meneguk minuman itu.
__ADS_1
"Sama-sama.. "
April tidak menyangka jika Yoga orangnya enak di ajak ngobrol. Meskipun mereka baru kenal beberapa hari.
"Ohh jadi dulu kamu sekolah di SMK Tunas Bangsa.. ? Aku malah SMA Negeri. Kok bisa ga kenal ya, padahal gedung sekolah kita sebelahan. "
"Aku juga ga tau Ga. Padahal banyak juga loh temen ku di SMA Negeri itu. " jawab April tak kalah semangat.
"Haha.. aneh memang, padahal kita satu angkatan. Cuma beda sekolahan.. "
"Trus, kesibukanmu sekarang apa Ga.. ? Kerja atu kuliah.. ?"
"Aku masih kuliah Pril. "
" Terus ini, kamu ga da kelas.. ?"
"Ada, tapi sore. Nanti jam 3 an. "
April mengangguk, kembali menikmati Snack yang di bawakan oleh Yoga.
"Pas kita ketemu di cafe hari itu, apa itu pertama kalinya juga kamu kesana.. ?" tanya Yoga setelah beberapa saat hening.
"Iya, kok tau.. ?"
"Karna baru hari itu aku liat kamu. . " Ucapnya dengan mata yang menatap lekat ke arah April.
April sedikit tidak nyaman di tatap sebegitu dalam oleh Yoga.
"Kenapa kamu ngliatin aku kayak gitu. ?"
"Ehh sorry.. " Yoga membuang pandangannya ke samping merasa tidak enak.
April tersenyum melihat sikap serba salah Yoga.
"Kamu udah lama nge band? "
"Sejak SMA sih, tapi baru awal tahun ini mulai aktif..
"Kata siapa, bagus kok. Aku tuh seneng liat cowo yang pinter main gitar.. " Ujar April yang membuat Yoga sumringah.
"Malem minggu besok kamu dateng lagi ya ke cafe, nanti aku nyanyiin lagu special untuk kamu.. "
"InsyaAllah, kalau ga ujan.. haha.. "
Yoga ikut tertawa menanggapi jawaban April.
Setelah cukup lama mengobrol, Yoga pamit karna sebentar lagi akan ada kelas. April menghantarkannya sampai teras depan.
Saat Yoga baru menstard motornya, sebuah mobil sedan keluaran terbaru masuk.
Yoga melambai ke April sebelum melajukan motornya. Yang di balas lambaian tangan April.
"Ekh, tante Yuna.. " April terkejut, ternyata yang datang adalah Yuna. Mamanya Arga.
Mobilnya berbeda, itu yang tadi dia tidak mengenali.
Dia pun cepat-cepat menyambutnya dan salim.
"Itu tadi siapa sayang.. ?" Tanya Yuna yang penasaran.
"Oh, itu temen aku tant. Oh , ada Nada juga, Hai Nada. ." sapa April ramah.
Nada sering kali menemani Yuna datang berkunjung ke rumah nenek April.
"Hai Prill.. " balas Nada.
"Mari masuk tante, Nada ayoo.. " April lebih dulu masuk dan membereskan meja yang berantakan sepergian Yoga.
"Maaf tante, agak berantakan.. "
__ADS_1
"Ga papa sayang, santai saja. Nenek mana.. ?"
"Ada di kamar, sebentar April panggilkan. Duduk dulu tante, Nada.. "
Yuna tersenyum dan menarik anak perempuanya untuk ikut duduk.
Sedang April, membuang sampah bekas minuman dan makanan dari Yoga tadi. Lalu membangunkan neneknya yang sedang tidur.
" Nek, ada tante Yuna.. "
"Apa, Bu Yuna di sini.. ?"
April mengangguk lalu keluar kamar membuatkan minuman.
"Ehh, bu Yuna.. " Sapa nenek lalu menyalami keduanya.
"Nenek sedang tidur ya, kami mengganggu sekali.. " Ucap Yuna tidak enak hati.
"Akhh tidak, biasalah bu. Orang tua, sedikit diam saja langsung tertidur hehe.. " Nenek membantu April menurunkan gelas teh dari nampan.
"Monggo di minum bu.. "
"Iya nek, terima kasih.. " Yuna tersenyum ramah. " April, kata Arghani semalem kamu kena begal nak, betul kah itu..? "
"Iya tante.. " April mendudukan dirinya di sebelah nenek.
"Untung saja ketemu Arga di kantor polisi bu . Kalau tidak, bagaimanalah nasib cucu saya ini.. " Nenek mengusap kepala April lembut.
"Iya nek, saya kaget banget pagi tadi Arghani cerita. Tapi kamu ga papa kan sayang? "
"Alhamdulillah tante, saya ga papa.. " Jawab April.
"Syukurlah.. " Yuna mengusap dadanya pelan. Lalu mengambil paper bag warna biru dan di letakkan di atas meja.
"April sayang, ini ada titipan dari Arghani untuk kamu. Jangan di nilai harganya ya.. "
Mata April langsung menoleh ke arah nenek, meminta persetujuan. Ketika nenek mengangguk, ragu-ragu April pun mengambilnya. Dia juga tidak mau membuat Yuna tersinggung.
Meskipun dalam hatinya juga ragu, merasa tidak yakin tunangannya itu menitipkan barang.
"Saya terima tante, terima kasih banyak. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya pada mas Arga.. "
"Iya sayang, gimana kamu suka ga? buka donk.. "
Melihat wajah Yuna yang sumringah, April pun terpaksa segera membukanya. Seperti tebakannya tadi, di dalamnya ada ponsel keluaran terbaru merek Oppa korea. Cukup keren untuk remaja yang kekinian.
"Ma, emang kapan abang beli hp tu .. perasaan ak..?" Tanya Nada tiba-tiba. dan Yuna menepuk paha Nada keras, sampai gadis itu meringis.
"Ahh, maksut Nada tadi. Dia ga tau persis kapan abangnya beli , kan dia kuliah.." Yuna berusaha memberi senyum terbaiknya. Sambil matanya melirik tajam ke arah Nada .
Gadis itu pun tahu sudah salah berucap, dan langsung menunduk.
"Ohh begitu.. " jawab Nenek yang merasa tidak masalah.
Tapi tidak dengan April, dengan lesu dia menyimpan kembali ponsel itu. Seperti dugaanya tadi, tidak mungkin ponsel itu dari Arga. Ini hanya inisiatif calon ibu mertuanya.
Seperti biasanya, calon ibu mertuanya jika datang slalu membawa sesuatu, dan mengatakan itu titipannya Arga.
Sampe kapan kayak gini.. ? .
.
Sepanjang jalan pulang, Yuna menggerutu pada anaknya Nada.
"Mama udah susah-susah usaha buat nunjukin ke keluarganya April. Biar abang kamu bisa di terima dengan baik. Ekh, kamu malah bikin berantakan Nada.. " kesalnya.
"Ya maaf Ma, aku ga tau. Kirain itu tadi emang dari mama.. "
"Kamu ini, ngeselin. Nada Savaira Adi Kusuma.. !"
__ADS_1
Nada langsung diam, memilih fokus pada kemudi.
Jika mamanya sudah memanggil nama lengkapnya. Maknanya tingkat ke marahannya sudah di level Dewa. Dan hanya jika ada papanya lah Nada atau pun Arghani akan selamat dari omelan kekesalan mamanya.