April & Arga

April & Arga
Butuh Perhatian


__ADS_3

"Kita mau ngomongin apa sih mas, perasaan dari tadi mas juga sibuk sama hp aja.. " protes April. Dia kesal, setengah jam duduk hanya di anggurin oleh Arga. Padahal ini kali pertama mereka pergi keluar bersama.


Mereka sedang makan malam di sebuah restoran dekat pusat kota. Restoran itu cukup ramai karna malam minggu .


Arga mengangkat wajahnya menatap April yang terlihat memanyunkan bibirnya.


"Pernikahan kita tinggal 2 bulan lagi.. "


"La terus? " tanya April.


"Aku masih belum siap untuk menikah sama kamu Pril " ujarnya.


April menghela nafas pelan, hampir 3 tahun mereka bertunangan. Tapi baru beberapa bulan ini lancar komunikasi layaknya pasangan umumnya.


"Aku juga belum siap " Dusta April.


"Jadi kita undur aja ya " Tawar Arga penuh binar.


"Sampai kapan.. ?"


"Sampai aku naik pangkat, mungkin.. " Arga menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Terus alasan kita apa nantinya.. ?" April mensidekapkan tangannya. Dia benar-benar ingin memuaskan matanya menatap Arga.


"Kita bisa alasan kalau berdua memang belum siap.." Arga meminum jus miliknya.


"Itu kurang meyakinkan kakek mu mas.. " Sela April.


Arga membuang nafas kasar. April masih memperhatikannya lekat. Wajah tampan itu tampak menggemaskan saat sedang bingung seperti itu.


Rahang yang kokok, hidung yang mancung. Jika di telisik, wajah Arga lebih dominan mamanya. Cuma hidungnya yang mengikuti papanya. April begitu mengagumi rupa lelaki yang menjadi calon suaminya.


Sayangnya, calon suami yang tidak mencintainya .


"Kita balik ke rencana awal aja ya " April menyeruput soda miliknya yang mulai mencair.


"Apa? " Arga tak bersemangat rasanya.


"Yang itu, aku hamil sama orang. " April mengangkat-angkat alisnya.


"Gila kamu, kamu emang pengen kayak gitu? " Arga tidak habis fikir dengan jalan fikiran gadia itu.


"Amit-amit, ya ga lah mas. Senakal - nakalnya aku, aku ga berani sejauh itu.. " Dengus April.


"Tapi kalau seandainya tek dungnya sama mas Arga, kayaknya aku.. "


Duk.

__ADS_1


"Aduhh... " April mengangkat kakinya yang di tendang Arga di bawah meja.


"Istigfar-istigfar.. ! kamu ini senengnya mancing-mancing, kalau beneran aku cowok yang brengsek. Bisa aja aku langsung mbekep kamu.. !" Arga menatap kesal ke arah April yang terlihat meringis.


"Mas Arga ni kasar, aku kan bilang tadi seandainya loh, seandainya.. "


"Terus aja ngomong sembarangan .." Arga membuang pandangannya ke segala arah .


"La terus bikin alasan apa donk, yang meyakinkan.. !" April melotot kesal sambil mengusap kakinya.


"April.. kamu di sini.. ?" tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka .


"Mas Bima. . " April terkejut reflek langsung berdiri dari duduknya. Bahkan melupakan kakinya yang tadi terasa panas karna di tendang Arga.


"Apa kabar ?" lelaki bernama Bima itu mengulurkan tangannya dengan seulas senyum manis .


"Ba.. baik mas.. " April membalas uluran tangan itu. Lalu Bima beralih ke Arga.


"Ini siapa? " Tanya Bima saat mengulurkan tangan pada Arga.


"Arga " Balas Arga.


"Aku Bima.. " Jawabnya ramah.


"Ya udah, aku kesana dulu ya " Pamitnya sambil mengusap kepala April lembut penuh kasih sayang.


Arga memicingkan matanya menatap keduanya. Setelahnya lelaki bernama Bima itu mengangguk ke arah Arga dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya dan beranjak pergi.


April kembali duduk, tapi Arga langsung berdiri.


"Kita pulang sekarang.. " Arga berjalan menuju kasir. April yang terkejut akhirnya mengikuti.


Saat akan keluar terlihat Bima melambaikan tangannya, dan April pun membalasnya.


Sedang Arga hanya menatap datar keduanya.


Baru saja membuka pintu restoran. Arga di kejutkan oleh suara April yang menyapa seseorang.


"Yoga.. "


Lelaki yang di panggil Yoga baru saja turun dari motornya, tentu saja dia terkejut. Apalagi saat tau ada Arga di sebelah April.


"Kamu di sini.. ?" Sapa Yoga.


"Iya.." April tersenyum menoleh ke arah Arga yang memandang Yoga dengan tatapan tak terbaca. Begitupun Yoga.


"Kalian saling kenal..? " Tanya April yang penasaran.

__ADS_1


"Aku ke mobil dulu.. " Arga lebih dulu melenggang meninggalkan keduanya tanpa mau menjawab pertanyaan April.


"Dia siapa kamu? " Tanya Yoga saat menatap punggung Arga yang semakin menjauh.


"Dia.. Dia temen.. " April tersenyum terpaksa.


"Oh, kirain pacar.. hehe "


April memutar bola matanya,


" pacar, tunangan atau apa yang tetap ga di anggap. Baiknya di akuin temen aja.. " Batinnya.


"Oh iya, kalian saling kenal? " Tanya April lagi.


Yoga mengangguk '' Siapa yang ga kenal anak dari Putra Adi Kusuma. ? Kayaknya seluruh kawasan sini hampir semua tau deh.. "


"Iya juga.. " April menggaruk kepalanya.


"Ya udah aku balik dulu ya Ga.. dah... "


"Dah.." Yoga membalas lambaian tangan April dengan senyumnya.


April membuka pintu mobil, lalu naik dan menutupnya.


"Syukurlah aku ga di tinggal.. " Ucapnya.


Arga tidak menjawab dan langsung mulai melajukan mobilnya. Keheningan masih mengusai dua orang yang fokus pada pemikiran masing-masing .


April mendesah pelan, menoleh ke arah Arga hanya fokus ke kemudinya.


"Mas.. "


"Hem.." Jawab Arga tanpa menoleh ke arah April.


"Mas.. "


" Apa sih. .? " Ketus Arga.


April cemberut, membuang pandangannya ke luar jendela. Dia hanya ingin di perhatikan sedikit, tapi apalah daya. Arga tetap tidak perduli dan peka. Bahkan sampai di rumah April, keduanya masih saling diam.


"Aku turun dulu, Assalamualaikum.." Pamitnya


"Waalaikum salam.."


April turun dengan lesu, sedang Arga mengernyit heran. Tidak ada salim atau celoteh membosankan dari April sebelum dia turun.


"Gadis Aneh.. "

__ADS_1


__ADS_2