Argeiza

Argeiza
Kedatangan Teman


__ADS_3

Rabu, 28 September, 2022, hari ini, seperti biasanya Arga berangkat ke sekolah cukup terlambat, pria itu dapat dengan mudah melakukan apa yang diinginkannya seakan sekolah itu adalah miliknya, karena ibunya adalah pemilik saham terbesar di sana.


Tidak ada seorang pun yang berani melarang maupun mengusik pria itu, ya, tidak ada, kecuali seorang gadis berambut pirang, dan beberapa murid baru yang mulai bersekolah. hari ini.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya, hari ini kita kembali kedatangan beberapa orang teman baru, silahkan perkenalkan diri kalian," Ucap bu guru mempersilahkan keempat murid baru yang dibawanya memperkenalkan diri.


"Assalamu'alaikum, kenalin gue Elan Madava Aksara, gue asli orang Indonesia, cuma pindah ke luar karena urusan keluarga dan akhirnya balik lagi ke Indonesia," Ucap salah seorang diantara keempat pria itu sebagai pembukaan yang ramah.


"Wolkie Erox Gaxandara, sepupu Elan," Sambung pria setelah Elan dengan perkenalan diri yang cukup singkat, namun, dapat dengan mudah dimengerti oleh pendengarnya, ia adalah sepupu Elan, dan dengan namanya yang cukup melokal, pria itu juga pasti adalah rakyat Indonesia yang pindah keluarga negeri, dan kembali lagi.


"Lior Clonelist Devox, kalo gue, asli Spanyol sih, tapi gue punya nenek di Indonesia," Sambung pria setelah Erox sedikit canggung, dan kini tibalah giliran pria terakhir diantara mereka.


"Cloudemfire Jeaniol Arex, maaf kalau nama saya agak sulit, namun, ini murni kesalahan orang tua saya yang terlalu serius mencari nama yang keren untuk putra pertama mereka," Ucap menundukkan kepalanya, membuat semua orang yang melihat hal itu berfikir bahwa Jean adalah pria tersimpan diantara murid-murid pindahan di minggu ini.


🥀🥀🥀


Bel istirahat berbunyi, dan dalam hitungan detik, barisan belakang telah dikerubungi para kaum hawa yang penasaran dengan keempat murid baru yang baru memasuki kelas mereka.


"Kalian berempat pindahan dari mana? 'Kok bisa pindah bareng? Nama kamu gak aneh 'kok, justru keren banget, Cloudemfire Jeaniol Arex, keren banget!" Begitulah pertanyaan beruntun diajukan oleh para kaum Hawa yang sangat mencari perhatian para kaum Adam yang baru memasuki wilayahnya itu.


"Bang! Arga mau kantin nih!" Seru seorang pria berambut hitam membelah kerumunan.


"Lior ikut!" Jawab pria berambut pirang diantara keempat pria itu keluar dari kerumunan mengikuti Arga, disusul ketiga pria setelahnya.


"Maaf ya, ntar kalo ada waktu kita ngobrol lagi," Ucap Jean sebelum meninggalkan kerumunan gadis-gadis yang tertarik padanya.


"Ga, lo gak boleh ganggu Abang lo nyari jodoh loh, gak sopan banget," Ucap Jean menggerutu disepanjang jalan menuju kantin.

__ADS_1


"Lo bahkan gak sadar ada cewek di sini, dan sama sekali gak ngabarin gue kalian bakal nyampe lebih cepat, sekarang siapa yang gak sopan?" Tanya Arga membuat pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu terdiam.


"Cewek? Eh, iya, sorry kita gak sadar, nama lo siapa? Mau kenalan?" Tanya Jean sedikit canggung.


"Kita? gak sih, kita semua udah nyapa Eiza, kecuali bang Jean," Ucap Elan tidak setuju, membuat Jean semakin merasa dikucilkan oleh Adik-adiknya.


"Woi! Kalian pikir siapa yang selama ini ngurusin kalian ha? Adek gak tau diri!" Tanya pria itu melingkarkan tangannya di leher Elan kesal.


"Tante Ana," Jawab pria itu singkat, padat, dan menusuk hati.


Jean terdiam tidak dapat berkata-kata, ia tidak menyangka adik yang telah dibesarkannya selama bertahun-tahun telah mampu menjawab semua perkataannya dengan tepat untuk membuatnya terdiam membatu.


Pftt


"Udah Lan, kita udah sampe, pesan aja apa yang kalian mau, gue yang bayar, sekalian anggap pesta Kecil-kecilan buat nyambut kalian," Ucap Arga penuh kedermawanan, membuat Teman-temannya itu merasa sedikit terharu.


"Ga, lo gak pesen?" Tanya Erox saat melihat anggota termuda dari mereka itu tidak memesan apapun.


"Oh, gue? Za, lo jadi bawa bekal buat gue 'kan?" Tanya Arga menagih janji gadis yang duduk di sampingnya.


"Oh? Gue pikir lo udah gak mau, hampir aja gue makan semua," Jawab gadis berambut pirang itu memberikan kotak bekal berwarna oranye kepada Arga.


"Gak mungkin gue gak mau, 'kan kemaren gue yang minta sama lo, sebagai kompensasi karena bikin gue jatoh," Ucap pria itu mengambil kotak bekal yang diberikan Eiza kepadanya.


"Jatuh hati sama lo," Sambung pria itu didalam hati, tersenyum dengan wajahnya yang memerah tersipu malu.


"Apaan nih? Kita udah mau punya adik ipar?" Bisik Jean ditelinga Lior yang dijawab anggukan oleh pria itu.

__ADS_1


"Ga? Cewek ini, pacar lo?" Tanya Jean kepada pria berambut hitam di depannya.


"oh, bukan, kita masih belum pacaran," Jawab Arga membuat Jean tersenyum aneh melihat pria berambut hitam itu dengan ujung matanya.


"Belum guysss," Ucap pria itu mengulang pernyataan Arga, dengan senyum aneh di wajahnya.


"Belum nih yeeeee," Sorak ketiga temannya bersamaan sambil membawa pesanan mereka yang telah siap disantap.


"A-apaan sih, gaje banget," Ucap Arga bersiap memukul kepala Jean dengan tutup Tupperware yang menjadi kotak bekalnya.


"Eh! Ga!!! itu Tupperwarenya Tante Ana!!!!" Pekik Eiza menghentikan Arga yang hendak memukul kepala Jean.


**Tuk**!


Terlambat, bagian tengah tutup Tupperware itu telah pecah akibat Arga yang tidak memperhitungkan tenaganya saat memukul kepala Jean.


"L-lo kok gak bilang ini punya Mama sih! Gimana nih!!! Pecah jadinya gara-gara kepala bang Jean!!!" Ucap pria berambut hitam itu panik dan berujung mengkambing hitamkan kepala Jean.


"Kok gue! 'Kan lo yang mukul kepala gue pake tutup Tupperware, udah tau kepala gue keras!" Jawab Jean tidak terima dijadikan kambing hitam.


"Udah, ganti aja sama yang baru, 'mangnya berapa sih, harga Tupperware, sini gue yang bayar," Ucap Lior angkat bicara merogoh mengeluarkan Black Cardnya dari saku.


"Bukan masalah duit! Di Tupperware Mama itu selalu ada tandanya, biar gak ketuker sama punya tetangga, nih, di tutupnya ada tanda tangan siapa ini, gak tau gue!" Jelas Arga menunjukkan tanda tangan diujung tutup Tupperware yang dipecahkannya.


"Terus gimana dong ini, kalian yang mecahin Tupperware, tapi gue ikutan gak berani ketemu Mommy," Eluh Lior dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah Sate di tangannya.


Bagi Lior, Jean, Elan, dan Erox, sosok Ana sudah seperti ibunya sendiri, dikarenakan sejak menginjak usia lima tahun mereka yang telah kehilangan keduanya orang tuanya telah dirawat dan dianggap seperti anak sendiri oleh Ana.

__ADS_1


Bahkan Ana tidak mengizinkan keempat putranya asuhnya itu memanggilnya dengan sebutan Tante atau Bibi, melainkan mereka harus memanggilnya Mama Atau Mommy untuk menyamaratakan mereka dengan Arga yang adalah Putra kandungnya.


__ADS_2