
Bel masuk kelas telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, kini suasana kelas berubah menjadi sunyi saat guru pelajaran pertama telah memasuki kelasnya.
Arga terdiam tanpa berbicara sepatah katapun setelah memasuki kelas, dikarenakan, teman sebangkunya tampak bersikap acuh tak acuh padanya, jangankan bercanda seperti biasanya, gadis berambut pirang itu bahkan tidak menyapa pria di sampingnya.
Apa yang terjadi pada gadis itu? Apakah ia masih mempermasalahkan kejadian pada malam festival beberapa hari yang lalu? Namun, jika memang gadis itu mempermasalahkan kejadian beberapa hari yang lalu, maka, dimana letak masalahnya? Apa yang diinginkan gadis itu pada malam itu sebenarnya?.
Pria berambut hitam itu melakukan kebiasaannya yang akan bergelut dengan pikirannya sendiri saat mengalami masalah, beberapa kali pria itu akan mencuri pandang memperhatikan gadis di sampingnya, namun, selalu berujung salah tingkah karena terlalu mengagumi keindahan gadis itu.
"Ah, dia cantik banget, hari ini dia ganti parfum ya? Padahal parfum yang biasa bagus, yang ini juga bagus sih, dia pake apapun tetap bagus sih," Batin pria itu begitu mengagumi gadis di sampingnya hingga terkesan seperti obsesi dan terasa sedikit menyeramkan.
Disisi lain, Eiza, gadis berambut pirang itu kini sedang berusaha keras terlihat senatural mungkin saat pria yang disukainya terus-menerus melirik kearahnya, bahkan sesekali tersenyum saat melihat wajahnya.
Bagaimana ia tidak terlalu berharap jika pria itu terus melakukan hal yang dapat membuatnya salah paham? Bukankah orang-orang hanya akan tersenyum dan tersipu saat melihat dan mengagumi orang yang ia cintai? Lantas, dapatkah ia menyimpulkan bahwa tindakan pria itu sekarang karena memiliki perasaan padanya?.
Namun, apakah itu mungkin? Pria setampan dan sebaik itu? Menyukainya? Bukankah itu terlalu indah untuk terjadi di dunia nyata? Ini bukanlah sebuah novel dimana protagonis wanita yang miskin dan buruk rupa dapat membuat seorang protagonis pria jatuh cinta dan tergila-gila padanya, di dunia ini semua harus setara, maka, ia juga harus sadar diri.
Hal seindah itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata, bahkan, walau mungkin sekalipun, ia harus sadar bahwa itu tidak akan terjadi padanya, mungkin pria berambut hitam itu adalah yang terbaik untuknya, namun, ia harus selalu sadar bahwa ia belum tentu adalah yang terbaik untuk pria itu. Batin gadis itu bergelut dengan pikirannya sendiri sama seperti Arga.
"Gue, bukannya gue gak mau ngejar dia, tapi gue sadar diri," Batin gadis itu lagi, kali ini terlihat jelas kerutan di alisnya, gadis itu terlihat sangat kecewa dan sedih, menerima kenyataan memang adalah hal yang sangat sulit, begitu juga dengan Eiza yang harus menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak cukup pantas untuk dicintai oleh pria sesempurna Argalixint Triader Deaniol.
...****************...
Bel pulang telah berbunyi, menandakan sudah waktunya para siswa dan siswi SMA kembali ke rumah atau asrama mereka masing-masing.
__ADS_1
Arga duduk diam memperhatikan gadis berambut pirang di sampingnya sedang menyimpan alat tulisnya bersiap untuk pulang, dan saat gadis itu bangkit dari duduk dan mengenakan tasnya.
**Brak**!
Arga, pria berambut hitam itu menggebrak meja bangkit dari duduknya, dan di detik berikutnya tangan pria itu telah mencengkram erat tangan Eiza yang hendak meninggalkannya tanpa berkata sepatah katapun.
Kelas telah kosong, hanya tersisa mereka berdua di dalam kelas itu, dan kini, Arga telah menggenggam tangan gadis di depannya menghentikan gadis itu yang hendak pergi.
"Gue, salah apa?" Gumam pria itu setengah berbisik, membuat Eiza kesulitan untuk mendengarnya.
"Gue salah apa Za? Dari tadi lo gak ngomong sepatah katapun sama gue! Kenapa? Gue salah? Ok sorry, gue minta maaf, tapi, tolong kasi tau gue, gue salah apa?!" Tanya pria itu menatap mata gadis di depannya setengah berkaca-kaca.
Gadis berambut pirang itu bungkam, ia benar-benar tidak ingin mengatakan alasannya, karena yang diinginkan gadis itu hanya menjauh, agar ia tidak terlalu berharap kepada pria di depannya itu, karena ia tahu, berharap kepada manusia hanyalah seni menyakiti diri sendiri yang sangat rumit.
"A-apa? Apa lo bilang?!" Tanya gadis berambut pirang itu menggenggam tangan Arga tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
**Bruk**!
Arga mendorong gadis itu untuk duduk kembali ke bangkunya, dipegangnya bahu gadis itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengelus lembut wajah gadis yang sangat dicintainya itu.
"Gue cinta sama lo Za, gue, gue tau mungkin lo gak bakal percaya karena kita bahkan belum kenal lebih dari sebulan, tapi, tapi gue gak bisa bohongin diri gue sendiri, gue cinta sama lo,"
"Dan gue takut gue cuma bakal nyakitin lo kalau gue mempertahankan perasaan ini, makanya, gue gak berani bilang sama lo, tapi, tapi gue janji bakal berusaha buat jadi tempat sandaran yang kokoh buat lo, jadi, jadi, hiks! Gue mohon Za, jangan jauhin gue kayak gini! Hiks! Gue minta maaf! Hiks!" Jelas pria berambut hitam itu panjang lebar berlutut menyandarkan kepalanya kepangkuan Eiza.
__ADS_1
Eiza tertegun, dan tanpa sadar gadis berambut pirang itu ikut menangis saat melihat sosok Arga yang selalu tampak kokoh tanpa celah itu kini berlutut dan menangis di depannya.
Eiza, gadis berambut pirang itu dengan lembut menghapus air mata pria di depannya, dan memegang bahu pria itu agar duduk di tempatnya.
"Bod*h! Kenapa lo minta maaf? Lo gak salah Any*ng! Gue yang salah karena ngejauhin lo! Hiks, jadi jangan minta maaf lagi! Gue yang salah! Hiks!" Ucap gadis itu mengelus lembut pucuk kepala pria di depannya.
"Jadi, hiks! gimana? Lo, lo mau jadi pacar gue?" Tanya Arga masih berpegang teguh pada niat awalnya.
Eiza tersenyum, menahan tawa, gadis itu masih terisak, namun, pertanyaan Arga yang masih dengan keras kepala menyatakan perasaannya walau dengan wajah yang penuh lintasan air mata, benar-benar lucu di matanya.
"I-itu, kalo itu, gu-gue butuh waktu," Ucap Eiza berusaha tetap mempertahankan harga dirinya, walau hatinya ingin langsung menganggukkan kepalanya untuk segera berpacaran dengan pria di depannya itu.
...****************...
TAMBAHAN ADEGAN KECIL
Sementara Arga menyatakan perasaannya kepada Eiza, beginilah keadaan keempat temannya yang sedang menunggu pria itu untuk pulang bersama.
"Mana Arga?" Tanya Jean yang adalah supir bus itu. Ketiga temannya menggeleng, tidak tahu, dan akhirnya mereka berempat pun memutuskan untuk mencari temannya itu di kelas.
"Padahal gue cinta sama lo!"
Terdengar suara Arga yang menyatakan cinta kepada seseorang di dalam kelas, keempatnya tertegun, dan karena penasaran merekapun memutuskan untuk mengintip kejadian menggemparkan itu.
__ADS_1
"Kita kapan we?" Tanya Jean kepada teman-temannya setelah selesai menonton kejadian mengharukan Arga yang membuatnya sedikit iri.