Argeiza

Argeiza
The chess of destruction


__ADS_3

Pukul 16:30, Arga, pria berambut hitam itu kini sedang mencoba menjelaskan situasinya kepada Eiza, namun, entah mengapa suaranya tidak dapat keluar untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya, dan malah berakhir dengan benar-benar hanya membawa si kembar untuk menemui Eiza.


"Kita pamit Za, thanks udah nemenin anak-anak main," Ucap Lior menggendong si kembar bergerak mengambil tindakan untuk segera membawa bayi-bayi itu pulang.


"Eh? Kalian baru nyampe loh, udah mau pulang?" Tanya gadis berambut pirang itu kebingungan, namun, Lior hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan langsung pergi meninggalkan rumah itu.


"Hahhhh, gue gak bisa ngomong apa-apa, padahal gue yakin banget buat bisa percaya sama dia, tapi, waktu gue mau ngomong, rasanya..." Eluh Arga beberapa menit setelah Jean melajukan mobilnya.


Huhh


Lior menghela nafasnya kasar, pria itu mengerti apa yang dirasakan oleh Arga, sejak kecil mereka diajarkan untuk tutup mulut tentang apapun yang terjadi di dalam keluarganya, tidak apapun yang terjadi, atau siapapun yang bertanya, mereka tidak akan membuka mulut untuk mengatakannya sedikitpun.


Lantas, bagaimana bisa mereka mengatakan hal itu kepada gadis yang hanya berstatus sebagai pacar dengan sangat mudah? Walau orang-orang berkata, saat jatuh cinta seseorang akan menjadi buta, tuli, atau bisu sekalipun, itu hanya berlaku untuk orang yang benar-benar bodoh hingga termakan rayuan manusia.


Dan kebanyakan yang termakan rayuan itu hanyalah wanita, karena mereka berpikir sesuai hati dan perasaan, sedangkan kebanyakan laki-laki berpikir dengan otak dan logikanya, bukan hati yang dapat berubah sewaktu-waktu.


"Bagus sih, setidaknya kita gak di cap penghianat karena ngebongkar rahasia. keluarga sendiri, tapi, sekarang gimana? Kita pulang? Atau lanjut ke Meksiko si kembar kita bawa aja?" Tanya Jean yang menjadi pengemudi, bingung tentang arah tujuan mereka sebenarnya.

__ADS_1


"Harusnya tadi kita gak bawa si kembar," Ucap Arga sedikit menyesal dengan keputusannya, namun, di detik berikutnya sebuah ide cemerlang langsung muncul dipikirannya.


"Oh iya, penjaga pesawat 'kan orang kita, si kembar kita titip ke mereka aja buat diantar pulang, soalnya kalo kita pulang pasti gak bakal diijinin pergi lagi," Sambung pria itu yang langsung dijawab dengan anggukan setuju dari teman-temannya.


Maka, setelah berbelit-belit, akhirnya kelima pria itu telah memiliki tujuan yang jelas untuk pergi menyusul Ana ke Meksiko, namun, siapa sangka bahwa rencana mereka terpaksa dihentikan karena Carol sudah berada di sana.


Ternyata, saat kelima pria itu sampai ditempat perawatan berbagai kendaraan keluarga Deaniol, Carol dan puluhan bawahannya sudah berada di sana seakan telah mengetahui rencana mereka dan bersiap-siap untuk menyeret mereka pulang.


"Carol? Lo, lo kok di sini? 'Kan gue bilang jaga rumah," Tanya Jean kaget sekaligus panik saat melihat sosok wanita berambut panjang dengan jeans hitam itu tiba-tiba berada di depan matanya.


"Gue sama anak-anak yang lain tiba-tiba dapet panggilan ke Meksiko, dan cuma kita, jadi kalau kalian keras kepala buat ikut, sebaiknya kalian balik, kita buru-buru," Jawab wanita itu mengintimidasi.


"Tunggu, apa?! Kenapa mommy minta kalian buat ke Meksiko? Di sana ada apa? Perang? Enggak mungkin 'kan? Ini bukan jaman dimana semuanya bisa selesai dengan cara perang!" Jean kembali bertanya, namun, kali ini tatapannya berubah, pria itu benar-benar mengkhawatirkan mommynya.


Carol menggeleng, ini bukanlah permainan kasar seperti berperang, melainkan sebuah permainan klasik yang biasa dimainkan oleh berbagai kalangan, baik muda maupun tua, baik kaya ataupun miskin, semua orang dapat memainkan permainan ini, nama permainan ini adalah...


"The chess of destruction," Jawab Carol singkat membuat kelima pria itu membulatkan matanya tidak percaya.

__ADS_1


The chess of destruction, atau catur kehancuran adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh keluarga Aldric, sebuah keluarga yang juga merupakan bagian dari dunia bawah dengan menggunakan bidak yang sedikit berbeda dengan catur pada umumnya.


Jika catur pada umumnya menggunakan bidak berupa pahatan kayu, kaca, atau berbagai hal lainnya, pada Chess of destruction bidak yang mereka gunakan adalah manusia atau lebih tepatnya anggota kelompok mereka sendiri. Sang pemimpin dari kedua belah pihak akan duduk di atas sebuah singgasana layaknya seorang raja, dan memerintahkan para bidaknya untuk bergerak sesuai keinginannya.


Akan tetapi, Sang pemimpin itu tidak akan sendirian, masing-masing dari mereka akan memperkenalkan asistennya untuk bertukar posisi antara asisten pihak A dengan dengan asisten pihak B, kemudian kedua asisten itu akan diberikan sebuah pistol beserta beberapa peluru dan mereka diberikan pilihan untuk mengisi penuh pistol itu, atau hanya mengisinya sebagian, atau bahkan hanya satu.


Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk tidak mengisi pistol itu sama sekali, dan setelah mereka mengisi pistol tersebut, pistol itu akan dicampurkan dengan puluhan pistol lainnya yang diisi penuh, dan disusun disebuah meja yang diletakkan tepat di depan pemimpin kedua pihak.


Sang pemimpin duduk di singgasananya, akan memerintahkan bidaknya untuk bergerak sesuai keinginannya, dan setiap bidak yang gugur dalam permainan akan ditembak mati di tempat itu juga, oleh penembak jitu yang akan berdiri di setiap sudut lapangan catur itu.


Namun, jika bidak yang gugur adalah bidak yang melambangkan raja, maka bukan hanya bidak itu yang akan ditembak mati, akan tetapi, pihak musuh akan memilih salah satu dari pistol-pistol yang disusun di atas meja tadi, dan asistennya akan mengambil pistol yang dipilih oleh pemimpinnya untuk digunakan sebagai senjata yang akan membunuh musuhnya.


Jika setelah pelatuknya ditarik dan kemudian pelurunya tidak keluar, maka selamat, berarti itu adalah pistol yang didalamnya mungkin hanya diisi satu, atau beberapa peluru, namun, berapa persen kemungkinan itu terjadi diantara puluhan pistol yang terisi penuh?.


Inilah alasan permainan tersebut dinamakan The chess of destruction atau catur kehancuran, karena belum pernah ada nyawa yang tidak menghilang dalam permainan ini, baik menang ataupun kalah, keduanya sama-sama memakan korban nyawa.


Yang membedakannya hanyalah, jika engkau menang, maka nyawamu seratus persen aman, dan jika engkau kalah, ada kemungkinan 99% nyawamu akan berakhir di hari itu juga.

__ADS_1


Ditambah kenyataan bahwa belum ada pihak yang lolos dengan keberuntungan seperti mendapatkan pistol yang hanya berisi beberapa peluru saja, permainan ini benar-benar hanya membawa kerugian bagi para pemainnya.


(Jangan dimainin di rumah ya? Gak ada manfaatnya soalnya:)


__ADS_2