
Malam hari, pukul 19:00, setelah pernyataan cinta yang dilakukan Arga kepada Eiza, sepasang kekasih itu masih belum dinyatakan resmi berpacaran karena belum mendapatkan izin dari Ana yang adalah satu-satunya orang tua Arga.
Maka, setelah menyatakan perasaannya kepada Eiza, pria berambut hitam itu langsung membawa gadis itu untuk meminta persetujuan orang tuanya.
"Jadi, kalian yakin mau pacaran?" Tanya Ana melipat tangannya di bawah dada, kepada sepasang kekasih tidak resmi yang duduk di depannya itu.
Keduanya mengangguk yakin, walau gadis berambut pirang itu belum berpikir jauh tentang resiko mereka yang berpacaran, namun, Arga telah memikirkan banyak persiapan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah ia menyatakan perasaannya kepada gadis itu.
Ana, menghela nafasnya panjang, walau wanita itu sangat menyukai Eiza, namun, merupakan keputusan yang tergesa-gesa bila kedua remaja itu mengambil keputusan untuk berpacaran, sedangkan mereka tahu konsekuensi dari tindakan mereka itu.
Namun, bagaimanapun, sebagai seorang ibu ia tidak berhak terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadi anak-anaknya, dan ia hanya bisa memberikan solusi dan nasihat terbaik dari pengalamannya untuk anak-anaknya.
"Semua orang tolong tinggalin ruangan ini, kecuali Arga," Titah Ana yang langsung patuhi semua orang yang ada di ruang kerja wanita itu.
Ana menatap lurus mata putranya yang kini duduk tepat di depannya, pria berambut hitam itu menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata ibunya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi, namun, walau pria itu telah menduga hal ini sekalipun, ia tetap tidak berani menatap mata ibunya yang sedang menatapnya dengan tatapan yang seakan dapat menembus kedalam dirinya.
"Kamu tau konsekuensi dari tindakan kamu 'kan?" Tanya Ana menatap dingin pria di depannya. Pria itu menganggukkan kepalanya, dan di detik berikutnya Ana kembali mengajukan pertanyaan kepada pria itu.
"Jadi, walau kamu tau konsekuensi dari tindakan kamu, kamu tetap bersikeras melakukan hal itu?" Tanya wanita itu lagi, membuat pria di depannya itu terdiam mematung tidak berani mengangguk atau menjawab ucapannya.
__ADS_1
"Apapun itu, Mama gak bisa menyetujui hubungan kalian," Ucap wanita pada akhirnya, membuat keputusan untuk bersikap tegas kepada putranya itu.
"Tapi kenapa Ma? Kalau masalahnya ada di berbagai masalah yang bakal datang karena dia bakal jadi kelemahan Arga, Arga janji bakal berusaha buat jadi lebih kuat!" Ucap pria berambut hitam itu memberanikan dirinya bertanya kepada wanita yang sangat dihormatinya itu.
"Sekuat apa?" Ucap wanita itu kembali bertanya dengan tatapan dingin yang seakan menembus jantung pria yang ditatapnya.
"Kamu bisa jadi sekuat apa? Ingat, di atas langit masih ada langit, sekuat apapun kamu, pasti ada seseorang yang berada di atasmu! Mau jadi sekuat apa untuk melindunginya? Lihat Mama! Bahkan walau Mama sudah berdiri di tempat setinggi ini, masih banyak masalah yang bermunculan!"
"Bahkan untuk melindungi kalian yang sudah dewasa sekalipun, Mama masih ragu-ragu apakah sanggup atau tidak? Berapa banyak pengikut kita? Berapa banyak uang yang kita punya? Namun, semua itu tidak dapat selalu melindungi kita!"
"Mama gak mau kamu berakhir seperti Papa sayang," Lirih wanita itu pada akhirnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama gak mau kamu berakhir seperti itu! Eiza memang gadis yang baik, tapi, dia gak cukup kuat bahkan untuk melindungi dirinya sendiri, bahkan, sekalipun kamu rela mengorbankan diri kamu sendiri demi melindunginya, apa kamu tega melihatnya menanggung semua beban yang kamu tinggalkan?"
"Kamu tega membuatnya menanggung beban dari menjadi kekasih seorang penerus keluarga Deaniol, mungkin ia dapat melarikan diri setelah pengorbananmu, namun, sampai kapan ia sanggup berlari? apakah setelah kepergianmu masih ada orang yang rela mengorbankan nyawanya demi gadis itu?" Jelas Ana memberi pengertian kepada putranya itu, berharap pria itu akan menyerah.
Namun, sikap keras kepala putranya itu benar-benar mirip dengannya, pria berambut hitam itu sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun ketika ibunya sedang menjelaskan konsekuensi dari tindakannya, akan tetapi, pria itu mulai mengangkat suaranya saat wanita itu selesai dengan ucapannya.
"Ma, mungkin Arga egois, tapi, Arga bener-bener gak bisa ngelepas Eiza, dan Arga ngerasa, kalau dia gak Arga kasi tau apapun tentang keluarga kita, Arga yakin dia gak bakal terluka," Ucap pria itu membuat ibunya bungkam.
__ADS_1
Namun, tetap saja hal itu tidak menjamin 100% bahwa gadis itu tidak akan terluka, namun, mungkin itu adalah cara paling sederhana yang dapat dipikirkan oleh pria berambut hitam itu, walau tidak dapat membuat ibunya langsung menyetujuinya, namun, setidaknya itu cukup untuk membuat wanita itu kembali memikirkan masalahnya.
"Lalu, bagaimana jika Eiza terluka tanpa tau apa-apa? Apa yang akan kita katakan untuk menjelaskan kepadanya?" Ucap Ana kembali mengajukan pertanyaan kepada putranya itu, membuat pria itu bungkam karena tidak berfikir sejauh itu.
"Kalau kamu bahkan gak bisa menjawab pertanyaan Mama, bagaimana cara kamu melindungi dan menjamin keselamatan orang yang kamu sayang?" Tanya wanita itu dengan nada mencibir putranya itu.
Arga bungkam, tatapan matanya kosong, sebelumnya, pria itu berpikir bahwa ia pasti dapat menjawab dan menyelesaikan berbagai pertanyaan dari ibunya dengan mudah, namun, ia salah, semua yang dipikirkannya selama ini hanyalah angan-angan dan omong kosong yang tidak akan semudah itu dilakukan di dunia nyata.
Untuk kedua kalinya, Ana menghela nafasnya panjang, sepintar apapun putranya, pria itu masihlah remaja berusia belasan tahun yang berpikiran pendek dan hanya mengutamakan egonya.
Melihat putranya yang menunjukkan tatapan kosong seakan telah berputus asa dengan apa yang beberapa detik lalu begitu diperjuangkannya membuat wanita itu sedikit kecewa dengan putranya.
Pria itu mungkin memiliki sikap keras kepala yang mirip dengan dirinya, namun, tampak jelas dirinya lebih keras kepala dari putranya itu.
"Kalau kamu keras kepala, jangan setengah-setengah, jadilah keras kepala sepenuhnya, sehingga apapun masalahnya, kamu akan terus mendapatkan jawaban di kepalamu tanpa sedikitpun mengubah rencanamu yang sebelumnya" Ucap wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati putranya yang menundukkan kepala dengan putus asa.
"Keluarga Deaniol gak pernah menyerah sama keinginannya, jadi, Mama harap kamu juga bisa 'gitu, dan karena selain Mama, kamu juga punya teman-teman yang siap menjadi kekuatan kamu, Mama rasa untuk sekedar pacaran, Mama masih sanggup ngatasi masalahnya," Tambah wanita itu mengelus lembut pucuk kepala putranya.
Arga mengangkat kepalanya menatap wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, ibunya baru saja menyetujui hubungannya? Mungkin ini adalah hari paling membahagiakan baginya di bulan ini.
__ADS_1