Argeiza

Argeiza
Detik terakhir festival sekolah.


__ADS_3

Malam hari pukul 21:00. Arga, pria berambut hitam itu kini sedang berkeliaran di belakang panggung mencari teman-temannya setelah selesai mengganti kostum, festival akan berakhir tepat pada pukul 24:00, dan kini pria itu berencana untuk berjalan-jalan disekitar sekolah.


Malam ini jalanan sekolah dihiasi dengan sangat baik, ada banyak kios siswa yang menjajakan jajanan malam, dan entah darimana pihak sekolah mendapatkannya, namun, malam ini taman sekolah dihiasi dengan pohon sakura yang bermekaran, dan lampu yang berwarna-warni yang dililitkan pada cabang pohon-pohon itu.


Pria berambut hitam itu duduk pada salah satu kursi taman yang berada tepat dibawah pohon sakura yang sedang bermekaran, Arga tersenyum, entah apa yang dipikirkannya, namun, pria itu tampak sangat bahagia malam ini.


"Arga? Lo nyari gue?" Sapa seorang gadis berambut pirang berjalan mendekati seorang pria yang duduk sendirian ditengah indahnya suasana malam yang penuh dengan bunga sakura dan gemerlapnya lampu hiasa.


"Oh, iya, mau ngobrol?" Jawab pria itu menawarkan obrolan manis untuk melepaskan penat setelah seharian melakukan banyak kegiatan dalam festival.


Eiza tersenyum, lalu duduk di samping pria berambut hitam yang menatapnya dengan hangat, ia dapat menebak bahwa hari ini pria itu mungkin telah mendapatkan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.


"Lo menag lotre ya? kok seneng banget gitu?" Tanya gadis itu masih tersenyum kepada pria di sampingnya.


Pft!


"Enggak lah, gue cuma seneng aja karena drama kita lancar walau banyak dialog yang melenceng dari teks," Jawab Arga menyangkal ucapan gadis di depannya.


"Oh, iya sih, untungnya Erox bisa mikirin hasil yang bagus untuk dialog yang dia kacauin waktu drama," Timpal gadis itu setuju dengan ucapan Arga.


"Hahaha, dia ngerusak dialog nya karena dia lupa kalo yang jadi Cindarga itu gue, dikiranya gue cewek beneran, makanya langsung minta jajan," Tambah Arga, terkekeh bila mengingat betapa Abstraknya drama yang ia mainkan beberapa saat lalu.

__ADS_1


Kedua insan itu tertawa bersama, semilir angin menyapu lembut wajah pria yang tertawa bahagia bersama gadis di sampingnya, rambut hitamnya yang tertimpa terangnya cahaya lampu, bersinar seperti langit gelap yang diterangi rembulan, untuk pertama kalinya Eiza tertegun melihat wajah pria itu.


Bagaimana bisa ia baru menyadari bahwa pria yang selalu bercanda bersamanya memiliki rupa seindah ini?.


Bulu mata lentik, rambut hitam pekat seperti malam, mata coklat terang yang seakan berubah menjadi emas saat disinari cahaya lampu, dan wajah yang membuat wanita Insecure dengan keindahannya, namun dipertegas dengan mata elang dan alis tebal yang melengkapi keindahan wajahnya itu seakan dapat membuat semua gadis jatuh cinta pada dalam hitungan detik kepadanya.


"Ga? Lo manggil gue ke sini cuma buat ngobrol?" Tanya Eiza sedikit meragukan alasan pria itu memanggilnya ke taman.


"Bukannya gue ngarep ya, tapi, ya masa 'ni anak manggil gue cuma buat ngobrol sih, di suasana kayak gini 'kan paling cocok buat, o-orang nyatain perasaan 'kan? Ta-tapi gak mungkin sih, di-dia punya perasaan ke gue, eum, tapi sifatnya ke gue, gitu, akh! Auk ah gue!!!" Batin Eiza berdebat dengan pikirannya sendiri.


"Eum, ya, enggak sih, sebenarnya gue ngajak lo ke sini karena gue mau bilang, i-itu, se-sebenarnya gue..." Jawab Arga menggantung kalimatnya gugup, wajah pria itu memerah, begitu pula dengan wajah Eiza.


Jantung Eiza berdetak kencang, ujung jarinya telah mendingin, mungkinkah tebakannya benar? Apakah pria di depannya itu akan menyatakan perasaan kepadanya?.


"Jadi sebenarnya gue suka! Gu-gue suka makan sate, mau makan sate sama gue?" Sambung Arga menyelesaikan kalimatnya dan mengeluarkan dia bungkus sate yang tadinya ingin ia berikan kepada Erox.


Eiza membatu, rasanya seperti ada suara sesuatu yang patah dari dalam hatinya, ya, itu adalah suara hati dan harga dirinya yang telah hancur berkeping-keping, gadis itu benar-benar malu dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia membayangkan sesuatu hal yang sangat memalukan bersama pria yang baru dikenalnya.


"Oh, iya, lo makan duluan aja, gue mau balik dulu, udah malem soalnya, bye," Ucap Eiza meninggalkan pria berambut hitam itu tidak sanggup bertahan lebih lama, gadis itu benar-benar ingin menggali lubang dan menguburkan dirinya sendiri di sana tidak sanggup menahan rasa malunya.


Beberapa detik setelah Eiza meninggalkan taman. Arga, pria berambut hitam itu menundukkan kepalanya, wajahnya memerah, ujung jarinya mendingin, dan kini tangannya gemetaran, apa yang baru saja ia lakukan? bagaimana bisa ia dengan beraninya hampir menyatakan perasaannya kepada gadis yang baru ia kenal?.

__ADS_1


"Akh!!! Arga, lo ngapain sih? Suka sate apanya? makanan kesukaan gue rendang, gak nyambung sama sekali," Ucap pria itu menyisiri rambutnya dengan jari frustasi, ia benar-benar kehilangan akalnya saat bersama gadis berambut pirang itu.


"Eiza, kok langsung balik ya? Jangan-jangan dia kecewa karena mikir gue mau nembak dia? Tapi, masa sih? atau, jangan-jangan dia risih karena gue tawarin makanan murah? Ya cewek kayak dia pasti gak level sama makanan kayak gini 'kan ya?" Batin Arga terlalu overthinking tentang gadis yang selalu dipikirkannya itu.


"Tck! Gimana dong, Akh!!! Arga!!!! Tol*l!!! Lo ngapain sampe mau nyatain perasaan ha Anj*ng? Kalo dia gak nyaman gimana?! Lagian..." Sarkas pria itu kepada dirinya sendiri dan sedikit menggantung kalimat terakhirnya.


"Mana mungkin cewek kayak dia suka sama gue, orang yang hidup di dunia bawah yang selalu terlibat hal ilegal dan kekerasan kayak gue," Gumam Arga menundukkan kepalanya.


Mata pria berambut hitam itu berkaca-kaca, rasa sedih, kecewa, dan iri tampak jelas di matanya yang mulai berair, perasaan pria itu bercampur aduk.


Arga mulai bertanya-tanya, andai ia tidak terlahir di keluarga seperti ini, akankah kehidupannya sedikit lebih baik? Apakah ia dapat menyatakan perasaannya kepada gadis itu dengan rasa bangga dan tanpa keraguan?.


"Ga? Mana sate gue?" Tanya seseorang berjalan menghampiri Arga yang masih menundukkan kepalanya frustasi di kursi taman.


"Oh, nih, yuk makan sama gue," Jawab pria itu langsung mengukir senyum diwajahnya, seakan tidak terjadi apapun saat Erox duduk di sampingnya.


"Lo nangis?" Tanya Erox menimbang-nimbang sate pemberian Arga untuk mengetahui yang mana yang lebih berat.


"Eng-enggak! Gue gak nangik kok," Tukas Arga membantah ucapan Erox.


"Ingus lo meler," Tambah Erox tersenyum puas setelah menemukan sate terberat diantara dua sate pemberian Arga dan memilih sate yang terberat karena isinya pasti lebih banyak.

__ADS_1


"Hiks! Srot! Mana? Gak ada kok!" Tanya Arga berpura-pura tidak tahu, setelah menarik masuk cairan hidungnya.


"Ih! Buang woi! jangan dimasukin lagi! jorok tau gak!!! Gak selera makan gue gara-gara lo! Nih sapu tangan! buang sana diujung!!!" Ucap Erox memberikan sapu tangannya kepada Arga.


__ADS_2