Argeiza

Argeiza
Pertemanan


__ADS_3

Keesokan paginya, langit berwarna gelap, matahari tertutup awan, dan buliran bening jatuh dari langit membasahi bumi. Arga, pria itu memandangi tirai hujan dari teras rumahnya, hari ini sekolah kembali dimulai seperti biasa.


Pria berambut hitam itu kini berdiri bersama ketiga temannya menunggu Jean mengeluarkan mobil dari garasi, beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil melaju kearah mereka, itu adalah Jean yang membawa kendaraan untuk membawa mereka ke sekolah. Namun, kendaraan yang dibawa oleh pria itu sedikit tidak terduga.


...****************...


Sebuah bus berwarna putih dengan stiker bertuliskan "Janda Kembang" berwarna ungu dengan hiasan bunga kembang sepatu dibagian belakangnya memasuki gerbang sekolah.


Beberapa detik setelah bus itu mengambil tempat di parkiran, pintu bus terbuka dan menampilkan sosok pria berambut hitam dengan list putih dibagian poninya berdiri tegap menatap lurus kedepan, itu adalah Jean, pria itu kini sedang celingak-celinguk mencari seseorang yang dapat meminjamkannya sebuah payung.


"Gak ada yang bawa payung lebih woi! gimana nih?" Tanya Jean kepada keempat temannya yang masih dengan santai menyelimuti diri mereka sendiri.


"Bentar," Jawab Lior yang kemudian membisikkan sesuatu kepada Erox.


Erox menganggukkan kepalanya menyanggupi perintah yang dibisikkan Lior kepadanya, lalu berdiri di samping Jean yang berada di depan pintu bus.


"Boleh pinjem payung?" Tanya Erox tersenyum pada empat gadis yang baru saja keluar dari mobil mereka, dan benar saja, demi memenuhi keinginan Erox gadis-gadis itu rela memberikan semua payung mereka dan memilih berlari dengan menjadikan tas mereka sebagai pelindung dari hujan.


Namun, tentu saja Erox tidak menginginkan hal itu, dan memutuskan hanya meminjam dua buah payung agar keempat gadis itu dapat menggunakan dua payung lainnya untuk mereka.


"Woahh, salut gue sama lo Rox, kok lo bisa gitu? Lo kenal sama mereka?" Tanya Jean menepuk pundak temannya itu kagum.

__ADS_1


"Iya, mereka Kakak-kakak yang sering beliin gue makanan sama cemilan enak," Jawab pria itu menganggukkan kepalanya dan memberikan sebuah payung kepada Jean.


Jean dan ketiga temannya yang mendengar jawaban pria itu sontak bertepuk tangan, mereka tidak tahu bahwa temannya itu tidak hanya diincar teman seangkatan, namun, juga menjadi incaran para kakak kelas.


"Memangnya siapa aja sih yang sering ngasih lo jajan?" Tanya Lior penasaran, karena selama ini mereka tidak pernah membahas hal ini.


"Kadang ada adik kelas, kakak kelas, sampe ada Kakak-kakak anak kuliahan sama Kakak-kakak kantoran yang ngasih jajan setiap liat gue, mereka baik banget," Jawab pria berambut kemerahan itu dengan polosnya tanpa beban sama sekali.


Keempat pria itu membulatkan matanya tidak percaya bahwa temannya itu telah sampai sejauh itu, jika terus dibiarkan mungkin saja mereka akan kehilangan Erox karena penculikan dan tindakan lain yang dilakukan oleh orang-orang yang terobsesi dengannya.


Namun, tunggu dulu, mereka harus tetap berpositif thinking, bagaimanapun juga Erox adalah petarung yang sudah dilatih keras bersama mereka, jadi, hal seperti penculikan dan lain-lain tidak akan berbahaya untuknya, namun, tetap saja kelalaiannya sangat mengkhawatirkan.


"Rox, lo pernah diapa-apain gak sama Kakak-kakak yang ngasih lo jajan?" Tanya Elan sedikit panik, membuat pria berambut kemerahan itu memiringkan kepalanya tidak mengerti, namun, beberapa saat kemudian ia tampak berfikir keras menjawab pertanyaan Elan.


"Yang lain? Yang mungkin bikin lo gak nyaman 'gitu?" Tanya Arga yang juga mengkhawatirkan temannya itu, membuat pria berambut kemerahan itu kembali berfikir.


"Hmm, kadang-kadang ada Kakak-kakak yang bakal nyubit pipi gue waktu makan, katanya gemes, terus ada beberapa juga yang nyium pipi gue, dan gue gak nyaman karena sakit, terus lipsticknya nempel di pipi gue, kalo Mommy sih gapapa," Jawab pria itu lagi membuat keempat temannya kembali membulatkan mata mereka.


Bukankah itu sudah termasuk pelecehan? Apakah Erox kami sudah tercemari? Oh Erox kami yang lucu dan polos! Kep*rat lo Kakak-kakak pedofil!!!!. Batin keempatnya mengutuk wanita-wanita yang mereka anggap mencemari kesucian temannya itu.


"Rox, sini gue kasi tau," Ucap Arga memanggil pria berambut kemerahan itu untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Lain kali kalo ada Kakak-kakak yang ngasi lo jajan terus pegang-pegang lo, bilang 'Yamete!' 'gitu," Ucap Arga bercanda dengan wajah serius membuat teman-temannya membatu mendengarnya.


"Jadi maksud lo apa ha Anj*ng?!!!!" Tanya Lior emosi bangkit dari duduknya.


"Jadi nanti tuh Kakak-kakak pedofil bakal lari karena ada wibu!" Kekeh Arga tidak dapat menahan tawanya membuat emosi Lior benar-benar meledak.


"Anj*ng lo!!!! Udah berani ikut-ikutan Jean ya lo Anj*ng!!!!" Sarkas Lior melemparkan bantal dan selimut yang ada disekitarnya.


"Hahahaha, sorry, sorry, canda doang gue," Ucap pria berambut hitam itu menenangkan temannya yang bersiap mengejarnya kapan saja.


"Ok, balik serius lagi, Rox, lain kali kalo ada orang yang ngasih lo jajan, jajannya sih lo terima aja, tapi kalo mereka pegang-pegang, apalagi sampe cium, lo lari aja, jangan lo amuk ya! ingat, jangan diamuk! Lo lari aja, ok? Karena yang boleh pegang-pegang lo cuma istri lo nanti, ok?" Jelas Arga mengelus pucuk kepala pria berambut kemerahan itu.


"Kalo cowok gimana?" Tanya Erox dengan wajah polosnya, membuat pria berambut hitam di depannya merasa dapat mengerti wanita-wanita yang tidak tahan ingin menyentuh pria itu.


"Lo hajar aja! Berarti mereka udah bengkok itu! Lo pecahin aja ******nya, terus, muka lo itu jangan polos-polos banget, bahaya buat lo dan orang yang liat lo," Jawab Arga menyentil kening pria berambut kemerahan di depannya.


"Padahal diantara kita berlima, lo yang paling kecil, tapi lo juga bisa lebih dewasa dari Erox yang lebih tua dari lo ya," Ucap Jean terlihat mengacak-acak rambut Arga daripada mengelusnya.


"Yang kanakan 'kan cuma lo," Jawab Arga menepuk tangan Jean yang mengacak-acak rambut yang sudah dengan susah payah ditatanya.


"Hmph! Asal lo tau, walaupun gue kayak gini, gue juga bisa dewasa tergantung waktunya, kalo kita terlalu serius ntar cepet tua loh!" Tukas pria itu berjalan kembali ke pintu bus membuka payungnya bersiap untuk memasuki kelas setelah mendengar bel masuk telah berbunyi.

__ADS_1


"Teori siapa tuh! Gak logis banget," Cibir Arga yang akan satu payung dengan Jean dikarenakan payung yang mereka punya hanya ada dua.


Kelimanya berjalan menembus hujan hanya dengan dua buah payung, walau pundak mereka sedikit terkena hujan karena payung yang tidak cukup lebar untuk melindungi mereka semua sepenuhnya dari hujan, namun mereka tetap berjalan bersama tanpa meninggalkan satu orang pun diantara mereka, mungkin inilah yang disebut sebagai pertemanan sejati.


__ADS_2