Argeiza

Argeiza
Keseruan


__ADS_3

Siang hari, jam telah menunjukkan pukul 13:30, Arga dan keempat temannya kini telah selesai membereskan rumah mereka dan kini sedang berbaring di lantai menemani si kembar bermain di ruang tamu.


Eiza, gadis berambut pirang itu sengaja membuka pintu rumah agar udara menyegarkan dari taman dapat masuk dan dapat membuat si kembar bermain dengan lebih nyaman, akan sangat bagus jika kedua bayi itu sedikit lebih besar sehingga dapat bermain keluar ke taman.


"Oh iya, dari dulu gue cuma tau nama panggilan si kembar, gimana sama nama panjang mereka?" Tanya Eiza memulai percakapan diantara mereka.


Arga terdiam, pria itu baru ingat bahwa ia belum memberi tahu pacarnya tentang nama lengkap si kembar, maupun fakta bahwa si kembar harus menjadi adik mereka, dan jika diingat kembali, hati pria itu masih sakit karena tidak dapat menjadi papa dari kedua bayi itu.


"Oh iya, lo belum tau ya? Eum, jadi nama panjang mereka adalah Leopald Phantomstive Deaniol, dan Lion Phantomhive Deaniol, gimana?" Jawab Arga menanyakan pendapat Eiza tentang nama panjang yang dipikirkan olehnya dan teman-temannya selama beberapa hari yang lalu.


"Phantomstive, dan Phantomhive? Kenapa harus beda? Kenapa gak disamain aja? Dan lagian, mereka orang Indonesia loh, kenapa dikasi nama yang ribet banget kayak gitu?" Tanya Eiza tidak mengerti jalan pikiran kelima pria itu yang memberikan nama begitu rumit kepada si kembar.


Arga memiringkan kepalanya tidak mengerti maksud pertanyaan gadis berambut pirang itu, kedua bayi itu memang ditemukan di negara ini, namun, bagaimanapun bayi itu tidak terlihat seperti warganegara Indonesia, setidaknya mereka pastilah darah campuran dari orang-orang barat.


Karena bahkan rambut mereka berwarna pirang dengan bentuk wajah yang sangat mirip dengan Arga dan Lior yang tinggal di benua Eropa, lebih tepatnya di Spanyol.


"Ya, tapi mereka gak mirip orang Indonesia sama sekali, bahkan mereka lebih mirip sama kami yang dari Eropa," Jawab Arga sederhana dengan kepala yang dimiringkan karena bingung.


Eiza tertegun, ucapan Arga memang benar, kedua bayi itu tidak terlihat seperti rakyat Indonesia, namun, bagaimana bisa bayi dengan paras seperti orang barat dapat berada di sini? Bukankah bayi dengan paras seperti ini justru akan sangat dicintai oleh orang-orang disekitarnya? Lantas, mengapa mereka dibuang?.


Jika dipikirkan kembali, asal usul kedua bayi itu memang sangat membingungkan, terutama bagi keluarga Deaniol yang sangat berhati-hati dalam membawa masuk anggota baru kedalam keluarganya, namun, walaupun mereka telah melakukan penyelidikan mendetail tentang bayi itu, tidak ada data yang mencurigakan tentang mereka.

__ADS_1


Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Carol (Annisa) tentang orang tua si kembar, kedua bayi itu adalah anak haram dari seorang Agen penjual informasi yang mendapatkan semua berita dengan menyamar sebagai seorang pelacur dan berbagai profesi lainnya.


Karena sedikit kesalahan dalam pekerjaannya wanita itu hamil dan langsung hendak menggugurkan bayinya, namun, karena alasan yang tidak diketahui ia malah mempertahankan kandungannya dan berakhir membuang bayi-bayinya karena harus tetap melakukan pekerjaan itu sedangkan bayi-bayinya hanya akan menghambat semua hal yang harus ia lakukan.


Namun, semua informasi itu hanya akan menjadi rahasia diantara Carol, Ana dan kelima remaja itu, bahkan semua dokumen tentang penyelidikan itu telah dihancurkan Carol atas perintah dari Ana agar tidak ada yang dapat mengusik kedua bayi itu kedepannya.


...****************...


Hari semakin gelap, dan Carol telah kehabisan jam kerjanya, maka, sekarang adalah giliran Arga dan keempat temannya untuk menjadi Baby sitter si kembar, karena hati yang telah sore, Lior kini menyiapkan air hangat untuk memandikan si kembar, sedangkan Elan menyiapkan makan malam, dan ketiga temannya yang lain akan membantunya untuk memandikan kedua bayi itu.


Arga, pria berambut hitam itu mengajak Leo mengobrol sambil membuka pakaiannya, entah mengapa, bayi itu tampak senang seakan mengerti ucapan Arga yang sedari tadi mengobrol dengannya.


"Gimana? Seru main sama kak Carol? Iya? Seru? Hahaha, kalo gitu sekarang main sama Abang ya? Hmm, karena gak ada mama panggil papa deh, ini papa ya? kalo yang kemarin panggil nenek, ok? sekarang Leo mandi sama papa, coba senyum dulu kalo mau mandi sama papa, mana senyumnya?" Oceh pria itu yang dijawab oleh senyuman Leo yang seakan mengerti ucapannya.


"Udah, sini bawa aja mereka ke sini!" Jawab Lior yang telah selesai dengan airnya dari kamar mandi.


Jean mengangguk, lalu dengan lembut menggendong Lion menuju kamar mandi, sedangkan Arga menggendong Leo dan Erox menjadi asisten mereka untuk membawa peralatan mandi si kembar.


"Terus ini gimana? Didudukin? Atau bayarin aja?" Tanya Jean bersiap meletakkan Lion di Bathtubnya.


"Eit! jangan dipaksa duduk! taruhnya pelan-pelan! terus badannya ditahan kayak gini! Kalo gak bisa minggir! biar gue aja!" Ucap Lior memegang Leo yang akan dimandikan duluan.

__ADS_1


"Padahal tadi kalian maksa Carol buat pulang lebih cepet, tapi akhirnya kalian gak bisa mandiin si kembar," Gumam pria itu kesal, dengan sifat tidak bertanggung jawab teman-temannya.


Beberapa menit setelahnya, kini adalah tugas Erox untuk memakaikan pakaian si kembar, dibantu oleh Arga dan Jean dengan Lior yang mengawasi pekerjaan mereka.


Tampaknya semua berjalan baik mulai saat ini, suasana di rumah besar itu memang tampak sunyi dengan kepergian Ana yang meninggalkan mereka untuk beberapa perkerjaannya.


Namun, kelima pria itu sudah terbiasa ditinggal pergi oleh Ana sejak mereka masih anak-anak, karenanya, kini mereka tidak terlalu kesulitan untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah sendiri.


...****************...


Teater kecil Jean dan kawan-kawan!!!!


"Lo udah lama gak muncul ya?" Ucap Jean kepada Eiza memegang buku naskahnya mencoba menghafalkan dialog yang akan dipakainya untuk episode berikutnya.


Eiza mengangguk, gadis itu bahkan tidak perlu waktu banyak untuk menghafalkan dialognya yang semakin hari semakin sedikit karena direbut oleh pria berambut hitam yang mirip dengan kekasihnya itu.


"Habisnya lo selalu muncul ngambil bagian gue," Ketua gadis itu menyeruput jus jeruk di mejanya kesal.


Jean memiringkan kepalanya tidak mengerti, pria berambut hitam itu kini terlihat semakin mirip dengan Arga, bukan hanya warna rambut mereka yang sama, bahkan kebiasaan mereka juga benar-benar mirip, mungkin tidak akan aneh jika seseorang menganggap mereka adalah saudara kembar.


"Loh? Mi? Kok pakek. riasan berdarah-darah 'gitu?" Tanya Jean yang langsung teralihkan pandangannya saat melihat momminya yang sedang dirias oleh penata rias mereka.

__ADS_1


"Oh, ini mbak periasnya latihan untuk riasan beberapa eps selanjutnya, kalian juga bakal dirias kayak gini kok," Jawab Ana singkat membuat Jean langsung melihat buku naskahnya untuk memastikan adegan seperti apa yang akan muncul beberapa di beberapa episode selanjutnya.


Menurut kalian adegan yang gimana? komen dibawah ya? 😊


__ADS_2