Argeiza

Argeiza
Pengaduan


__ADS_3

Ekhem!


Tegur guru yang hendak keluar dari kelasnya. "baiklah, saya permisi sekarang, jam selanjutnya akan dipegang oleh pak Jamal, ada baiknya kalian berdua yang di belakang, tidak membuat kesalahan sekecil apapun saat bersama beliau," Ucap guru itu sebelum akhirnya meninggalkan kelas.


Arga menatap Eiza menanyakan maksud dari guru itu, namun, gadis itu malah mengangkat bahunya juga tidak mengerti, dan baru beberapa detik setelah guru sebelumnya keluar, sebuah penghapus papan tulis telah terbang bebas di kelas dan mendarat dengan rapi tepat ke pipi Arga yang duduk di atas mejanya.


Pftt


"Hhh apaan tuh? Item Ga! penghapus nya nemplok pas di muka lo, Hhhhh" Kekeh gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat teman sebangkunya, dan ternyata benar kata orang tua zaman dulu, karma itu berlaku.


Sebuah penghapus lainnya mendarat ke kening gadis itu, membuat keadaannya dan Arga kembali setara.


"Oh, meleset, padahal tadi mau ngelempar ke mulutnya" Ucap seorang pria paruh baya yang diketahui bernama pak Jamal itu.


"Kalian berdua! Bawa penghapusnya ke depan dan berdiri di luar sekarang!" Titah pria itu membuat Arga dan Eiza langsung bergerak dari mejanya.


"pak, boleh cuci muka dulu gak?" Tanya Eiza menyerahkan penghapus itu kepada pria paruh baya di depannya.


"Boleh, tapi selesai cuci muka kamu lari keliling sekolah ini 30 kali" Jawab pria itu tegas membuat Eiza langsung mundur bersembunyi di belakang tubuh Arga.


"Gak pak, makasih, kami keluar dulu," Ucap gadis itu dengan senyum terpaksa, menarik Arga keluar dari kelas.


"Tch! Gara-gara lo duduk di meja nih! 'Kan jadi disuruh keluar!" Ucap gadis itu menyerahkan semua kesalahan kepada Arga.


"Yang ketawa siapa? Walaupun gue duduk di meja, kalo lo gak ketawa, lo pasti gak bakal ikut disuruh keluar kok!" Ucap pria itu membuat Eiza bungkam tidak dapat berkata apapun.


Suasana mulai sunyi Eiza berjongkok memandangi lantai dengan wajah cemberut. Arga menghela nafasnya panjang lalu duduk bersandar di dinding tepat di samping Eiza.

__ADS_1


Entah mengapa pria itu tidak dapat marah kepada gadis berambut pirang itu. Arga menarik pelan ujung kemeja gadis di sampingnya, suasana yang sunyi membuat suara pria itu dapat terdengar dengan jelas ditelinga Eiza walau ia berbicara dengan nada berbisik.


"Tadi, gue mau tukeran kontak sama lo," Ucap pria itu membuat Eiza langsung mengalihkan pandangan kepadanya.


"A-apaan, jadi kita sampe 'gitu' cuma karena lo mau tukeran kontak?" Ucap gadis itu kening Arga dengan telunjuknya.


"Ha? 'gitu' gimana?" Tanya Arga benar-benar menangkap tangan gadis itu benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudnya.


"Sa-sampe, k-kiss gitu, cuma karena mau tukeran konta," Ucap gadis itu setengah berbisik menutupi wajahnya yang memerah dengan sebelah tangannya.


******Deg******!


Arga melepas tangan gadis itu dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah, jantung pria itu berdetak cepat seakan dapat meledak kapan saja, mendadak suhu di Koridor itu terasa begitu panas, ingin sekali rasanya pria itu berlari dan menyembunyikan dirinya kedalam lubang. Arga benar-benar tersipu malu.


Sama halnya dengan Arga, gadis berambut pirang itu, kini sedang tenggelam dalam pikirannya, ia benar-benar malu dan ingin segera menyembunyikan dirinya, namun, entah mengapa gadis itu tidak bisa berhenti tersenyum bahkan saat ia menutupi wajahnya.


Jantungnya berdetak kencang, apa yang terjadi padanya? tidak mungkin ia menyukai pria di sampingnya itu bukan? atau, apakah ia benar-benar menyukai pria itu?. Batin Eiza bergelut dengan Pikirannya.


"Eh, iya, ini kontak aku," Ucap gadis itu yang kemudian membacakan nomor handphone tanpa berani menunjukkan wajahnya.


🥀🥀🥀


Bel istirahat telah berbunyi dan pak Jamal tersentak saat keluar dari kelasnya langsung disambut dengan pemandangan sepasang muridnya yang tertidur di Koridor kelasnya.


"Kasi tau mereka, nanti kerjakan tugas yang saya kasi, didalam laci meja mereka," Pesan pak Jamal tidak tega membangunkan muridnya itu kepada Axel yang adalah ketua kelas.


Eiza bersandar di bahu Arga, dan Arga bersandar di atas kepalanya, itu adalah momen langka yang begitu indah dipandang mata, namun, bagaimanapun tertidur di Koridor dapat mengganggu aktivitas orang lain, dan Akhirnya Axel membangunkan mereka.

__ADS_1


"Duh, bahu gue, pegel bangett!" Eluh Arga memijat-mijat bahunya yang pegal karena dijadikan sandaran tidur oleh Eiza.


"Hilih! Gitu aja pegel! Udah ah! Yuk makan! Yante bikini bekal nih, buat kita!" Cibir gadis menggeplak kepala Arga.


"pantatmu! Gak bisa digerakin nih bahu gue! Kesemutan berasa kegajahan!" Ucap pria tidak Terima, namun, Eiza sama sekali tidak berhenti mencibirnya.


"Ah! Udah lah, yuk makan, ntar baru ngomel lagi, ngomel juga butuh tenaga 'kan?" Ucapnya meletakkan kotak bekal dan peralatan makan di depan Arga.


"Gak, gimana mau makan, tangan gue kesemutan gini! Ya kali, gue makan pake tangan kiri," Ucap pria itu mengembalikan bekalnya kepada Eiza.


"Yaudah nih! Gue suapin! Sumpil lo manja benget! Anak siapa sih!" Ucap Eiza mengalah dengan teman sebangkunya itu, lagi pula, ialah yang membuat bahu Arga kesemutan, walau agak kesal karena hal itu seakan mengatakan bahwa ia sangat berat.


"Anak Leonor Rosenta Deaniol" Jawab Arga tanpa ragu.


"Ha? Kalo nama Tante Ana 'Leonor Rosenta Deaniol' terus kenapa dipanggil Ana? Harusnya 'kan dipanggil Leonor atau Rose?" Tanya Eiza menyuapi bayi besar di sampingnya.


"Oh, karena ini Indonesia, 'mang nya lo pernah liat ada orang Indonesia yang namanya 'Leonor'? Kalo ada pun, kemungkinan besar blasteran, makanya nama panggilan mama jadi 'Ana' deh," Jelas pria itu sambil mengunyah makanannya.


"Kalo mau ngomong, telan dulu tuh makanannya, jorok tau gak?!" Ucap Eiza menyumpal mulut Arga dengan Nori.


"Jorok gini juga banyak yang suka," Jawab pria itu dengan santainya mengunyah semua yang dimasukkan Eiza kedalam mulutnya.


"Si paling banyak yang suka," Cibir gadis itu kembali menyumpal makanan kedalam mulut Arga.


"Padahal lo baru pindah, tapi kok penggemar lo udah sebanyak itu?" Tanya Eiza menunjuk kearah para wanita dibarisan depan yang menatap tajam ke arahnya dengan mulutnya.


"Mungkin karena gue ganteng," Jawab pria itu santai membuat Eiza menggembungkan pipinya kesal.

__ADS_1


"Gara-gara gue deket sama orang ganteng kayak lo, gue jadi difitnah yang Enggak-engga," Ucap gadis itu untuk kesekian kalinya menyumpal mulut Arga dengan makanan.


"Siapa?" Tanya pria itu mengeluarkan Nori yang dimasukkan Eiza kedalam mulutnya. Wajah Arga yang serius sempat membuat Eiza gemetar ketakutan untuk beberapa saat, namun, rasa takutnya itu hilang saat menyadari bahwa pria itu marah demi dirinya.


__ADS_2