Argeiza

Argeiza
Keputusan


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak Arga meminta agar si kembar tinggal bersama mereka untuk sementara, dan kini, telah tiba waktunya bagi mereka untuk mengantar kedua bayi itu ke panti asuhan yang disarankan oleh Ana.


Walau ia dapat mengunjungi panti asuhan itu kapanpun, namun, tentu saja rasanya berbeda dengan saat ia tinggal bersama kedua bayi itu, apalagi, walau terkenal sebagai panti asuhan yang baik, tetap saja itu adalah tempat yang tidak dikenalnya.


Bagaimana bisa ia menyerahkan bayi-bayi itu kepada orang asing? Sekalipun mereka bukan miliknya, namun, tetap saja ia tidak dapat menyerahkan bayi yang masih tidak tahu apapun ketempat yang tidak dikenalnya.


"Udah semua 'kan?" Tanya Ana setelah mengemasi semua barang-barang yang mungkin diperlukan si kembar kedalam tas untuk dibawa masuk kedalam mobil oleh supir.


Arga mengangguk, semuanya telah mereka siapkan sejak dini hari tadi, akan tetapi, rasanya masih terlalu sulit untuk melepaskan bayi-bayi itu. Lior menepuk lembut pundak temannya itu mencoba menguatkannya.


Mungkin waktu yang mereka jalani bersama bayi-bayi itu hanyalah beberapa hari saja, walau begitu, tetap saja mereka tidak dapat membohongi perasaannya sendiri yang akan sangat merindukan bayi-bayi itu.


Arga menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menguatkan dirinya sendiri, ia harus menguatkan dirinya untuk melepaskan mereka.


Bagaimanapun akan berbahaya bila bayi-bayi selemah mereka memasuki keluarganya, karena itu, lebih baik jika mereka tinggal bersama orang lain. Itulah yang dipikirkan oleh Arga untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Namun, usahanya itu langsung runtuh seketika saat melihat wajah si kembar yang dibawa masuk oleh Ana kedalam mobilnya untuk segera diantar ketempat yang akan menjadi rumah baru kedua bayi itu.


"Ma, gimana kalo kita aja yang jaga mereka?" Pinta Arga menundukkan kepalanya masih sedikit ragu-ragu.


Ana tersenyum, sejak kehilangan ayahnya, putranya itu tidak pernah meminta apapun sesuai kehendaknya sendiri, biasanya ia hanya akan meminta sesuatu saat orang lain juga memintanya.


Bahkan jika Ana menawarkannya sekalipun, anak itu hanya akan menggeleng dan berkata bahwa ia tidak menginginkannya, walau ia tahu, bahwa ia sedang membohongi dirinya sendiri.


Arga tumbuh dengan tidak mempedulikan dirinya sendiri, ia hanya akan meminta sesuatu yang tidak akan merugikan keluarganya, bahkan jika itu berarti membohongi dirinya sendiri, namun, sejak mereka pindah ke Indonesia beberapa minggu yang lalu, tampaknya pria itu mulai bertingkah seperti remaja pada umumnya.


Arga mulai berani meminta sesuatu yang benar-benar diinginkannya, dan kini, walau masih ragu-ragu dalam mengutarakan isi hatinya, namun, itu saja sudah lebih dari cukup untuk menjadi awal pijakan pria itu, karena kesuksesan juga berawal dari keinginan yang kuat.

__ADS_1


"Boleh kok, tapi kamu harus bertanggung jawab buat jaga mereka," Ucap Ana tersenyum dan memberikan Leo kepada putranya itu.


Mata Arga berbinar, pria berambut hitam itu tampak sangat senang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya.


"Harusnya lo bilang dari awal dong, mau ngerawat mereka," Ucap Lior mengacak-acak rambut pria itu gemas.


"Hehe, kalo lo gak bilang, gue udah siap-siap buat minta ngerawat mereka," Timpal Jean ikut-ikutan menepuk pundak pria itu.


Arga tersenyum, ia tidak menyangka bahwa teman-temannya itu juga berpikiran sama dengannya, namun, syukurlah karena mereka tidak harus memberikan si kembar ke panti asuhan dan dapat bersama mereka lebih lama lagi, namun, sekarang masalahnya adalah...


"Karena mereka bakal jadi anggota keluarga kita, mereka bakal masuk ke KK Mommy?" Tanya Erox membuat suasana bahagia diantara mereka menghilang seketika.


Kelimanya terdiam, jika si kembar dimasukkan kedalam KK Ana, maka, bukannya menjadi keponakan, Leo dan Lion justru akan menjadi adik mereka, dan tentu saja tidak ada satu pun dari mereka yang menginginkan itu.


Mereka telah memiliki banyak adik laki-laki, dan jika ditambah dengan dua lagi, itu adalah mimpi buruk, lagipula, bagaimana bisa mereka menerima dua adik lagi, sedangkan umur mereka sudah cukup untuk memiliki keponakan?.


"Mommy!!! Kita gak mungkin harus punya adik lagi!!!! Kita maunya keponakan Mi, gak mau adik!!!" Rengek Jean mengguncang tubuh Lior karena tidak berani melakukan hal itu kepada Ana.


"Jadi? Memangnya kalian punya KK? enggak 'kan? KTP aja gak punya, apalagi KK, lagian kalian juga masih jomblo, sok-sokan mau punya keponakan," Ucap Ana yang langsung dapat membuat Jean membatu mendengarnya.


Harga diri Jean terluka, namun, pria itu tidak dapat menyangkal ucapan Ana, karena ucapan wanita itu terlalu benar dan sesuai kenyataan untuk dapat disangkal dengan kebohongan dari egoisme remaja yang tidak terima harga dirinya terluka.


"Padahal gue mau dipanggil Papa sama si kembar," Batin Arga yang harga dirinya ikut terluka karena telah berharap terlalu tinggi, sementara dirinya masih jauh dari kata pantas untuk itu.


...****************...


Teater Kecil Jean dan Kawan-kawan!!!

__ADS_1


"Hahhhhh" Jean melemparkan tubuhnya di atas kasur dan menghela nafas panjang, pria itu sangat lelah dan depresi saat ini.


Bagaimana bisa impiannya untuk menjadi seorang om-om langsung hancur dengan satu kalimat dari Mommynya, mungkin setelah ini pria itu akan bermimpi buruk selama beberapa waktu.


"Ngapain lo? Desah?" Tanya Lior blak-blakan membuat Arga yang sedang minum menyemburkan minumannya mendengar ucapan pria itu.


"Apaan sih lo! gue tuh lagi menghela nafas panjang! Mana ada orang desah kayak gini! Seudzon aja lo sama gue!" Tukas Jean bangkit dari tidurnya tidak terima dengan tuduhan dari Lior.


"Ya gue juga cuma bercanda ya any*ng! Sekarang siapa yang seudzon?!" Tanya Lior yang dengan emosi mencengkram kerah baju pria di depannya.


"Ha?! Apaan lo?! Ngajak berantem ha?!" Ucap Jean balik bertanya ikut mencengkram kerah baju Lior.


Bugh!


Arga menghantukkan kepala kedua temannya itu bermaksud menenangkan keduanya, namun, siapa sangka akan berakhir dengan membuat kedua berciuman?.


Hoek!!!!!


Kedua pria itu saling memuntahkan satu sama lain merasa jijik, Arga tertawa, pria berambut hitam itu benar-benar tidak sengaja melakukannya, namun, melihat ending selucu ini juga tidak buruk baginya.


"Anj*ng lo Ga!!!!!!"


"Adek Lucknut!!!!!!! Sini lo any*ng!!!!!!!"


Keduanya kompak mengejar Arga untuk memberinya memberinya pelajaran, Arga berlari secepat mungkin berusaha kabur dari kejaran kedua pria itu, karena, jika ia tertangkap maka tamatlah riwayatnya.


Suara teriakan Arga yang berlari panik dan makian yang terus keluar dari mulut kedua pria yang mengejarnya menggema di seluruh ruangan, membangunkan si kembar yang sedang tertidur dan membuat mereka ikut meramaikan suasana rumah itu dengan tangisannya.

__ADS_1


Ana sedang tidak ada di rumah karena harus mengerjakan sesuatu di kantornya, maka, beginilah suasana rumah ini sekarang, mungkin tidak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai kebun binatang? Rumah itu benar-benar berisik.


__ADS_2