
Arga, pria berambut hitam itu membawa Eiza keruang tamu untuk mengerjakan tugas penelitian mereka. lalu pergi ke suatu tempat dilantai dua dan kembali dengan seekor kucing di pelukannya.
"Kenalin, ini temen Arga, namanya Eiza," Ucap pria memperkenalkan Eiza kepda kucing di pelukannya.
"British Shorthair?" Ucap Eiza spontan saat melihat kucing di pelukan Arga yang dijawab anggukan oleh pria itu.
"Serius? Setau aku jenis British Shorthair gak suka dipeluk," Ucap gadis itu lagi saat melihat kucing yang begitu manja dengan pria di depannya.
"Cello beda dari British yang lain, soalnya Cello udah pindah ke Indonesia ya, harus ramah-ramah, kalo gak ntar gak punya pacar," Jawab Arga sedikit bercanda dengan hewan peliharaannya itu.
Cello adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Lior, salah satu sahabatnya, lima tahun yang lalu, sebagai pengganti dirinya yang akan mengikuti pelatihan. namun, siapa sangka bahwa meraka bertemu lagi sebagai teman ditempat pelatihan yang sama.
"Cello? Namanya lucu banget, tapi buat apa lo bawa dia kemari?" Tanya Eiza mencoba menggendong kucing di pelukan pria di depannya.
"Oh, kita diminta buat bikin penilitian 'kan? Jadi aku bawa Cello buat jadi objek penelitiannya," Jawab pria itu yang langsung disetujui pria didepannya.
🥀🥀🥀
"Udah nih? Gitu aja?" Tanya Eiza menunjukkan hasil pengamatannya yang telah selesai hanya dengan beberapa jam melihat tingkah kucing di depannya.
"Oh? Lo baru selesai?" Tanya Arga yang telah menyelesaikan penelitiannya sejak beberapa jam yang lalu.
"Ha? Maksudnya?" Ucap Eiza balik bertanya tidak mengerti maksud dari perkataan Arga.
"Ya, gue udah selesai dari tadi, lo kok bisa lama banget?" Ucap Arga menaikkan alisnya bingung, mengapa gadis di depannya membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk sebuah tugas penelitian.
"Tunggu, apa? Lo udah selesai dari tadi? Kok, kok bisa!!! Otak lo secair apa sampe bisa bikin tugas penelitian dalam hitungan menit?!" Tanya gadis itu mengambil Laptop Arga, tidak percaya dengan ucapan pria di depannya, dan benar saja, tugas pria itu telah selesai.
__ADS_1
"Kok, kok bisa sih?" Tanya gadis itu lagi, menatap pria di depannya dengan tatapan kosong.
Arga mengedipkan matanya beberapa kali, ia tidak tahu bahwa Eiza yang adalah seorang gadis periang dapat membuat ekspresi putus asa seperti itu, ingin sekali ia mengambil handphonenya dan mengabadikan wajah gadis itu, namun, ia terlalu takut membuat masalah dengan Eiza yang dalam suasana hati buruk.
"Ya, gue liat di Google, terus gue salin dan pindahin aja ke Laptop gue, dan terakhir, tinggal hapus beberapa kata gak penting di situ, selesai deh," Ucap pria itu santai seakan tidak memiliki beban sama sekali.
Eiza terdiam kehabisan kata-kata, seharusnya ia tidak bertanya kepada pria di depannya itu, apa gunanya objek penelitian bila. pada akhirnya ia menyalin teks di Google?.
"Jadi, Cello buat apa, kalo lo nyalin teks di Google? " Tanya gadis itu mengepalkan tangannya bersiap menggeplak kepala pria di depannya itu.
"Ja-jangan Za, ke-kepala gue masih diperban loh ini!!!!" Ucap Arga bangkit dari duduknya bersiap untuk kabur kapan saja.
"Gak sakit kok ini, tahan aja sebentar, ntar gue janji gue obatin lagi," Jawab gadis dengan senyum aneh diwajahnya, membuat Arga tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berlari menjauh dari gadis itu.
"Ga! Jangan lari! Disebelah situ licin nanti ja..." Larang Eiza yang sama sekali tidak digubris oleh pria berambut hitam itu dan berujung kecelakaan kecil.
Arga terpeleset tumpahan air di lantai, "Shhh" Desis pria itu bangkit, menggosok bokongnya yang terbentur ke lantai.
"Tuh kan! udah dibilangin jangan lari! Ntar jatuh! Jatuh beneran 'kan jadinya!" Cicit Eiza menoel-noel kepala pria di depannya.
"Siapa sih yang numpahin air di lantai?!" Tanya pria itu meninggikan suaranya kesal.
"Mama! kenapa?" Jawab Ana menatap tajam Arga, membuat pria itu hanya garuk-garuk kepala tidak berani berkata-kata.
"Enggak Ma, maksud Arga nanti kalo Mama yang jatuh gimana, gitu, jadi, Alhamdulillah cuma Arga yang jatuh, Mama, enggak," Ucap pria itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Huuu penjilat, penjilat huuu! Jangan percaya Tan, dia pasti mau marahin Tante tuh tadi, celananya aja sampe basah gitu, gak mungkin dia gak marah," Ucap Eiza berdiri di belakang Ana sebagai provokator.
__ADS_1
"Ih! Apaan sih, enggak kok, Arga, gak pernah gitu Ma, dia aja tuh! Mau bikin Mama marahin Arga!" Sahut Arga tidak terima pernyataan Eiza yang dengan tepat menebak pikirannya.
Ana menghela nafasnya panjang, ia tidak percaya sepasang remaja kekanakan itu adalah siswa SMA, dengan sikap yang sangat kekanakan itu, tidak berlebihan bila mereka dikembalikan ke bangku SD, namun, sayangnya mereka cukup cerdas untuk itu.
"Suaranya balikin kayak biasa dulu, gak perlu pake suara yang terlalu lembut kayak gitu, coba kayak biasa gimana suaranya?" Ucap Ana membuat anak semata wayangnya itu mengerucutkan bibirnya.
"Suara Arga memang kayak 'gini kok, suara Arga memang lembut 'gini Ma," Jawab pria itu lagi, membuat Ana menghela nafas panjang untuk kedua kalinya.
"Oh, gitu ya? Udah kamu ganti baju gih! Ntar masuk angin," Titah Ana akhirnya, membuat pria berambut hitam itu dengan senang hati pergi mengganti bajunya.
🥀🥀🥀
"Ma! Baju Arga yang warna hitam mana?" Tanya Arga berdiri di tangga, hanya dengan mengenakan celananya dan handuk yang menutupi dadanya.
"Kayak gak ada baju yang lain deh! Malu didengar tetangga, ntar dikira baju kamu cuma 2, padahal 2 lemari!" Ucap Ana tidak habis pikir dengan tingkah putranya itu.
"Udah nyaman Ma, yang lain gak sama, Arga setia, jadi maunya pake yang itu," Cicit pria itu tidak mau kalah.
"Terus, itu kenapa ditutupin pake handuk gitu? 'Kan udah pake celana? Bukannya keren, pake celana atasannya handuk malah aneh, kenapa gak pake celananya aja?" Tanya Ana pada anak semata wayangnya itu.
"Ih! Ada Eiza Ma! ntar Aurora Arga keliatan! Udah ah! Arga pake baju yang lain aja," Tolak pria itu berlari ke kamar memegangi handuk yang melilit di tubuhnya.
"Katanya setia? kok pake baju yang lain?" Cibir Ana membuat Arga mendengus kesal.
"Arga setia! Tapi berpaling gara-gara disuruh Mama!" Jawab pria sebelum menutup pintu kamarnya.
"Tan, Aurora itu apa?" Tanya Eiza setelah Arga menutup pintu kamarnya. "Aurora itu sebutan Arga buat put*ng susunya, gak tau dapet sebutan itu dari mana, tapi semenjak pindah ke Indonesia dia udah mulai gitu, 'Aurora Arga' katanya," Jelas Ana terkekeh sendiri mengingat berapa menggemaskannya
__ADS_1
putranya saat itu.