Argeiza

Argeiza
Kesalahpahaman kecil


__ADS_3

"Siapa?" Tanya pria itu mengeluarkan Nori yang dimasukkan Eiza kedalam mulutnya. Wajah Arga yang serius sempat membuat Eiza gemetar ketakutan untuk beberapa saat, namun, rasa takutnya itu hilang saat menyadari bahwa pria itu marah demi dirinya.


...**************...


"Eh? Ya, gapapa sih, udah diberesin sama Cewek rambut pendek yang aku ceritain tadi," Ucap gadis itu berusaha menenangkan pria di sampingnya. Dengan wajahnya yang semarah itu, akan menjadi apa seorang gadis lemah yang berhasil menyulut kemarahannya?.


"Lo, marah demi gue?" Tanya gadis itu menatap mata pria di depannya.


"Eh, eh? Gue, mungkin iya, ya, gimanapun lo kan temen pertama gue di sini! Sebagai temen gue harus ngejaga lo dong! Itu wajar-wajar aja 'kan?" Ucap pria itu berusaha semaksimal mungkin menjelaskan alasan yang masuk akal kepada Eiza.


"Iya, itu wajar aja ya, kita 'kan temen," Ucap gadis itu dengan senyum diwajahnya, namun, entah mengapa Arga sama sekali tidak merasa bahwa itu adalah senyuman tulus, hatinya seperti tersayat saat melihat senyuman gadis di sampingnya itu.


Apakah ia telah mengatakan sesuatu yang salah? Mengapa senyuman gadis itu terlihat begitu getir dimatanya?. Batin pria itu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


"Za, tadi pak Jamal minta kalian berdua ngerjain tugas, tugasnya ada di dalam laci kalian ya" Ucap Axel ramah.


Arga diam mematung melihat gadis di sampingnya berbicara dengan pria lain di depannya, namun, pria itu tidak berani mengatakan sepatah kata pun.


"Ga, coba liat di laci lo ada tugas dari pak Jamal gak?" Ucap Eiza membangunkan pria itu dari lamunannya.


Pria berambut hitam itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam lacinya tanpa berbicara, Eiza menatap pria itu bingung, namun, yang ditatap justru memalingkan wajahnya seakan merasa tidak nyaman dengan kehadiran gadis itu.


"Ga? Ini ada tugas dari pak Jamal, disini kita disuruh ngerjain bareng, mau ngerjain dimana?" Tanya gadis itu berusaha membuat pria di sampingnya berbicara, namun, pria itu tetap menutup rapat mulutnya.


Gadis itu terdiam, dan beberapa detik setelahnya ia pergi keluar dari kelas itu tanpa berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


Arga terperanjat, ingin rasanya ia menghentikan gadis itu untuk tetap menemaninya, namun, ia terlalu takut untuk berbicara, pria itu benar-benar tidak ingin melihat senyum getir dari gadis itu lagi.


Lain hal dengan Arga, gadis berambut pirang itu kini berjalan tak menentu arah menyusuri koridor. "Bahkan dia gak ngejar gue keluar," Batin Eiza tenggelam dalam pikirannya tentang ucapan Arga, dan sikap pria itu yang mendadak berubah.


Bagaimanapun, adalah hal konyol apabila kita menyukai seseorang yang baru kita temui, kita masih tidak cukup mengenalnya, bagaimana sikapnya, bagaimana masa lalunya, dan yang terpenting, apakah ia memiliki perasaan yang sama kepada kita?.


Arga adalah pria yang berada di dunia yang berbeda dengannya, pria itu bagaikan matahari, sedangkan gadis itu hanyalah remah roti yang bahkan dibuang oleh keluarganya sendiri.


Seseorang berkata, "Janganlah bermimpi setinggi langit, jika kau tidak ingin tenggelam sedalam lautan," Dan itulah yang dirasakannya sekarang.


Pria yang bahkan disegani oleh para guru disekolah, dan memiliki begitu banyak wanita yang menginginkannya, bagaimana bisa gadis itu berharap menjadi lebih dari sekedar temannya?.


Bahkan hanya untuk menjadi temannya pun adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Maka, apabila ia berharap lebih, itu hanya akan membuat pria itu merasa tidak nyaman dan berbalik menjauhinya, bagaimanapun, Ngengat yang terbang tinggi mengharapkan matahari, pada akhirnya akan berakhir terbakar cahayanya. Batin gadis itu tenggelam dalam lamunannya.


🥀🥀🥀


Eiza tidak membawa handphone ataupun dompet di tasnya, gadis itu benar-benar pergi tanpa membawa apapun.


Bagaimana jika terjadi sesuatu dan ia tidak dapat menghubungi siapapun? Bagaimana jika ia ingin pulang, namun, tidak membawa sepeser uang pun?. Batin pria itu dengan panik menginjak pedal gas mobilnya.


Arga, pria itu mencari Eiza secara membabi buta, ia tidak tau alamat rumah gadis itu sehingga memutuskan untuk menyusuri seluruh jalan yang dapat dilihat matanya.


Rasa sakit, panik, dan penyesalan membuat pria itu kehilangan kendali atas dirinya hingga menyebabkan kecelakaan.


Teen!!!!! Ckiiiit!!! **Bruk**!

__ADS_1


Mobil Arga menabrak pohon demi menghindari Truk di depannya. "Shhh" Desis pria itu merasa sakit di kepalanya.


Arga memegang kepalanya yang terasa perih dan mendapati darah segar mengalir deras dari sana, apakah kepalanya bocor? Atau hanya luka goresan? Pikir pria itu yang langsung teralihkan oleh bunyi ponsel di sakunya.


Itu adalah pesan dari ibunya yang meminta pria itu segera pulang dikarenakan ada masalah besar di rumahnya.


Arga terdiam, pria itu bimbang, apa yang harus dilakukannya? Haruskah pria itu pulang? Tetapi, ia belum berhasil menemukan Eiza.


Pria berambut hitam itu keluar dari mobilnya yang sudah tidak dapat digunakan, lalu memesan taksi online untuk pulang ke rumahnya. Hatinya tak tenang, ia masih mengkhawatirkan Eiza, namun, masalah baru muncul di rumahnya.


Apakah ibunya baik-baik saja? Masalah apa yang begitu besar sehingga ibunya hanya menghubungi pria itu lewat pesan Whatsapp dan bukan menelfon?. Pikir pria itu disepanjang perjalanan pulangnya.


Sesampainya di rumah, Arga berlari sekuat tenaga memegangi kepalanya yang terasa semakin pusing melewati taman di depan rumahnya.


Kepalanya sakit, sangat sakit seakan dapat pecah kapan saja, namun, perjuangannya untuk pulang tidaklah sia-sia, gadis yang sedari tadi dicarinya ternyata sedang berdiri di depan rumahnya.


"Arga? Lo, lo kenapa Ga?!" Ucap Eiza langsung berlari menangkap pria yang berdiri sempoyongan itu.


"... Za, lo kenapa? Kenapa pergi duluan? gu-gue salah? Kalo gue salah bicara, gue minta maaf, tapi, lo gak boleh pergi lagi ya?" Lirih pria itu membuat Eiza tak kuasa membendung air matanya.


Buliran bening jatuh membasahi pipi gadis itu, dipeluknya erat pria yang terduduk lemas di depannya. Perasaan gadis itu bercampur aduk, antara lega karena Arga yang ternyata sama sekali tidak berniat menjauhinya, dan rasa penyesalan terhadap tindakan sembrononya yang membuat Arga terluka separah ini.


"Gu-gue, sorry Ga, karena gue, hiks! Lo jadi kayak gini," Tangis Eiza menyesali keputusannya yang membuat pria di pelukannya itu menanggung semu rasa bersalahnya sendirian.


Perasaan ini begitu aneh, mengapa gadis itu begitu tidak rela melihat Arga terluka? Mengapa gadis itu begitu takut pria di pelukannya itu menjauh darinya? Bagaimana bisa ia memiliki perasaan seperti ini kepada pria yang baru dikenalnya?.

__ADS_1


Beberapa pertanyaan muncul didalam benak gadis berambut pirang itu, namun, untuk sekarang itu bukanlah hal yang penting, karena yang terpenting saat ini adalah kondisi pria dalam pelukannya itu.


Arga tersenyum lega, dan akhirnya pria itu pingsan seakan semua tenaga yang ia sisakan hanya untuk meminta maaf kepada gadis berambut pirang yang memeluknya itu, dan saat tujuannya telah tercapai, pria itu langsung kehilangan semua kekuatannya.


__ADS_2