
Malam hari, pukul 20:30, Arga kini terbaring di rumah sakit, tidak ada luka serius yang dialaminya, penyebab pria itu pingsan hanya karena kehilangan banyak darah, dan sekarang hanya membutuhkan sedikit istirahat setelah ditangani dokter.
"Lo pulang aja, gue ada mama kok," Ucap Arga kepada Eiza yang masih setia duduk menemaninya.
"Gak, gue gak mau pulang sampe lo sehat lagi, karena kalo bukan karena gue yang tiba-tiba pergi, lo, lo pasti gak bakal kayak gini" Tolak gadis itu menundukkan wajahnya.
Arga tersenyum, pria itu tidak tahu harus berkata apa, namun, melihat gadis di depannya itu begitu mengkhawatirkannya membuat hati kecil pria itu benar-benar bahagia hingga ia dapat tertawa di detik itu juga.
"Gue udah gapapa kok, dokter juga bilang gue cuma butuh istirahat 'kan? Kalo lo nemenin gue semalaman di sini, ntar lo yang sakit, tugas dari pak jamal belum dikerjain loh, gue gak mau ngerjainnya sendiri," Hibur Arga menepuk lembut pucuk kepala gadis itu dengan tangannya.
"Tangan lo gak boleh banyak gerak! ntar jarum infusnya bergeser!" Omel Eiza menangkap tangan Arga dan kembali meletakkannya di kasur.
"Yaudah, pulang gih, gue gapapa kok, soalnya ada mama yang jagain, ya 'kan ma?" Ucap pria itu meyakinkan gadis di depannya.
"Yaudah gue pulang, tapi besok gue balik lagi, pasti gue balik lagi!" Ucapnya penuh keyakinan, namun, langsung ditolak oleh Ana.
"Besok Arga udah pulang, Tante gak suka tempat umum kayak rumah sakit, jadi nanti Arga dirawat di rumah aja, lagian sakitnya juga gak parah," Tolak Ana menjelaskan situasinya kepada Eiza.
"Gak suka tempat umum, gimana Tan?" Tanya gadis itu pada Wanita paruh baya di depannya.
"Rahasia," Ucap Ana tersenyum kepada gadis di depannya.
Eiza terdiam, lalu melemparkan tatapan aneh ke Arga, isyarat menanyakan apa maksud perkataan Ana sebelumnya, namun, Arga hanya menjawab gadis itu dengan senyuman.
...****************...
Argalixint Triader Deaniol, Pewaris tunggal keluarga Deaniol yang adalah salah satu mafia terbesar yang memproduksi berbagai senjata ilegal, mulai senjata ringan seperti pistol, hingga senjata perang.
__ADS_1
Menjadi bagian dari keluarga Mafia berarti kamu harus merelakan semua hubungan sosialmu dengan Teman-teman, dan keluarga yang tidak memiliki hubungan dengan bisnis ilegal itu, demi melindungi mereka.
Cukup sulit menemukan teman sejati dalam. konflik besar seperti dunia Mafia, pertemanan hanya sebutan untuk Partner bisnis dan hanya akan menjadi pedang bermata dua bagi pihak yang menjalinnya.
Namun, Arga cukup beruntung karena memiliki empat dengan takdir yang sama, yang selalu mendukungnya.
...****************...
Pagi hari berikutnya, Arga merebahkan tubuhnya di kasurnya, memang benar kata orang-orang, senyaman apapun tempat oral lain, masih lebih nyaman rumah sendiri.
Pria berambut hitam itu memegangi kepalanya yang diperban, itu hanyalah luka kecil yang bahkan tidak cukup dalam untuk melubangi tengkoraknya.
Pria itu tidak nyaman dengan perban di kepalanya, dan memutuskan untuk membukanya, namun, belum sempat pria itu melancarkan aksinya, seseorang membuka pintu kamarnya. Itu adalah Eiza yang membawa keranjang buah dan lembaran tugas ditangannya.
"Za," Sapa pria berambut hitam itu canggung, dengan tangan yang masih berusaha melepas perban di kepalanya.
"Aduh! sakit Za, ini bekas jarum infus!" Eluh pria itu mengusap tangannya yang ditepuk oleh Eiza.
"Sakit mana sama kepala?!" Bentak gadis itu mengangkat tangannya bersiap memukul pria di depannya lagi, membuat pria itu mengerucutkan bibirnya tidak berani menjawab.
Eiza menghela nafasnya panjang melihat tingkah pria di depannya itu, ia tidak percaya bahwa pria yang masih kekanakan di itu adalah pria yang sama dengan pria yang mencarinya secara membabi buta hingga kecelakaan kemarin.
"Nih, aku gue bawa buah, dimakan ya?" Ucap gadis itu meletakkan keranjang buah yang dibawanya di nakas.
"Terus, ini ada tugas dari pak jamal kemarin, kita disuruh buat bikin penelitian, terserah meneliti tentang apa," Ucap gadis itu memberikan lembaran tugas ditangannya kepada Arga.
Arga, pria berambut hitam itu mengernyitkan alisnya saat melihat kertas yang diberikan Eiza kepadanya, "Kertas kosong?" Tanya pria itu kebingungan.
__ADS_1
"Coba baca tulisan kecil di ujung kertasnya," Ucap Eiza memberikan kaca pembesar kepada Arga.
Untuk kedua kalinya, pria itu mengernyitkan alisnya kebingungan, namun, pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti ucapan gadis di depannya itu.
"Itu adalah gambaran masa depan kalian kalo ke sekolah cuma buat pacaran, terlalu terang sampai tak terlihat," Pesan pak jamal di kertas itu.
"Te-terus mana soalnya?" Tanya pria itu menutupi wajahnya yang memerah dengan kertas putih yang dipegangnya. Entah mengapa, namun, pria itu benar-benar bahagia sekarang, sindiran pak Jamal di kertas itu terdengar seperti kabar gembira di telinganya.
Apakah ia dan Eiza terlihat seperti orang yang sedang berpacaran dimata orang lain?. Batin pria itu yang terlalu Positif Thinking sehingga dapat membuat orang lain kesal saat mengetahuinya.
Arga, pria itu hanya mendengar apa yang ingin didengarnya, dan hanya akan menafsirkan sesuatu sesuai apa yang diinginkannya, bahkan bila itu sindiran sekali pun.
"Soalnya? Itu stiker, kopek aja, ntar kalo udah di kopek muncul soal di balik kertas pesan pak Jamal tadi," Ucap gadis itu sedikit tidak masuk akal.
Diluar nalar, bagaimana bisa pria paruh baya itu memberikan soal dalam bentuk seribet ini? Bagaimana jika sang murid tidak dapat mengerti jalan pemikirannya dan mengira bahwa pria itu hanya memberikan kertas kosong?. Batin Arga setelah membuka stiker itu dan mendapati sebuah tugas terpampang jelas di balik kertas pesan dari gurunya.
"Gimana, cara lo nemuin soalnya?" Tanya Arga menatap kosong gadis di depannya.
"Sumpil, lo harus berterima kasih ke gue, lo tau perjuangan gue buat nemuin soal ini?"
Ucap gadis itu tersenyum getir, menunjukkan secarik kertas yang tampak lusuh setelah terendam air kurang lebih semalaman.
"Asal lo tau ya! Demi nyari nih soal, gue sampe pake kaca pembesar! Tapi bukannya dapet soal malah dapet kata-kata mutiara! kesel gak tuh!" Ucap gadis itu yang hanya berani dijawab anggukan oleh Arga.
"Yaudah! Karena kesel gue rendam deh tuh kertasnya semaleman, eh, tadi pagi kertasnya udah ada dua, ternyata itu stiker dong Any*ng!!! sumpil demi apa! Tu pak guru terlalu kreatif!!!!" Tambahnya, masih belum selesai menceritakan seberapa berat pengorbanannya mengikuti jalan pikiran pak Jamal.
"Liat nih mata gue!!! Aaaa!!!! Jadi panda gini gara-gara nyari soal!!!!" Tambahnya lagi, menghapus riasan matanya, menunjukkan kantung matanya yang menghitam persis seperti panda.
__ADS_1
Arga bungkam, tidak dapat mengatakan sepatah kata pun setelah mendengar berapa besarnya pengorbanan gadis di depannya, dan hanya berani mengacungkan jempolnya sebagai tanda kagum darinya.