
Tap Tap Tap
Terdengar suara derapan kaki memenuhi seisi koridor menuju ruang rawat VVIP 1 yang digunakan oleh Arga dan Eiza untuk merawat bayi yang mereka temukan.
Ceklek!
Pintu dibuka dan menampilkan sosok wanita dengan rambut pirang masuk bersama keempat putranya, itu adalah Ana, wanita tampak sangat penasaran dengan bayi yang dibawa oleh putranya itu, bagaimana bisa putranya menemukan bayi ditempat seperti itu? Dan anehnya lagi, bagaimana bisa seorang ibu tega membuang bayinya yang setampan ini?.
"Ini beneran bukan bayi kalian 'kan?" Tanya Ana masih tidak dapat mempercayai bahwa ada seorang ibu yang tega membuang bayi setampan ini ditempat seterpencil itu.
"Astagfirullah, Ma, gak mungkin itu punya Arga, kita baru kenal berapa minggu Ma," Sangkal Arga benar-benar tidak mengerti mengapa ibunya itu dapat berpikir seburuk itu tentangnya.
"Tapi, mereka mirip banget loh sama kalian! Liat nih, rambutnya pirang kayak Eiza, kulitnya putih, hidungnya, ini hidung kamu, mancung, alisnya, ini alis Lior! Gak tebal, tapi juga gak tipis, pirang lagi,"
"Eh, tapi rambut Lior pirang juga, ini jangan-jangan anak kamu sama Lior?" Canda Ana membuat suasana yang sedari tadi senyap sedikit hangat.
"Ma!" Seru Lior kesal membuat wanita itu hanya dapat terkekeh melihat tingkah putranya itu.
"Ok, jadi terus kata dokter mereka gimana? Baik-baik aja 'kan?" Tanya Ana kembali serius.
Arga mengangguk, Dokter mengatakan bahwa kedua bayi itu baik-baik saja dan hanya mengalami syok karena lingkungan yang tiba-tiba berubah, dan udara dingin dimalam hari.
Namun, walau demikian, tetap saja itu adalah hal yang sulit untuk bayi sekecil mereka, jika dilihat dari berat dan ukurannya, kemungkinan mereka masih berumur satu minggu atau kurang dari itu.
"Jadi, abis ini mereka mau kalian bawa kemana? Mama punya kenalan panti asuhan yang bagus, kalo kalian mau, kita bisa antar mereka ke sana besok," Tanya Ana kepada putranya itu, namun, wajah pria itu tampak syok saat mendengar bahwa bayi-bayi itu akan diberikan ke panti asuhan.
__ADS_1
"Eum, Ma, mungkin kalau besok agak kecepetan, gimana kalau kita rawat mereka dulu di rumah? Soalnya 'kan juga harus ngurus suratnya?" Tawar pria itu tampak ragu-ragu untuk menyerahkan kedua bayi kembar yang ditemukannya ke panti asuhan.
Ana menghela nafasnya panjang, ia mengerti maksud Arga, bagaimanapun juga, walau bayi-bayi itu bukan miliknya, tentu saja ia akan khawatir jika menyerahkan mereka kepada orang asing.
Tentu saja mereka tidak butuh waktu lama untuk mengirim bayi-bayi itu ke panti asuhan, bahkan jika mereka ingin mengirim kedua bayi itu sekarang, itu tidak menjadi masalah sama sekali.
Namun, tentu saja Ana tidak akan mengirim bayi-bayi itu jika putranya masih ragu-ragu, walau Arga meminta untuk merawat kedua bayi itu sekalipun, ia tidak akan mempermasalahkannya, karena mereka punya cukup banyak tenaga untuk sekedar merawat dua bayi kembar.
"Hmm, yaudah, tapi kalian yang harus jaga si kembar waktu Mommy kerja ya?" Ucap Ana yang langsung disanggupi oleh keenam remaja yang ada di ruangan itu.
"Ngomong-ngomong, nama mereka siapa? 'Kan gak enak kalo terus manggil mereka si kembar," Tanya Lior penasaran.
Arga terdiam, pria berambut hitam itu tidak menemukan apapun di keranjang si kembar, walau secarik kertas bertuliskan nama mereka sekalipun.
Begitu ya? Orang tua mereka bahkan tidak berkenan memberikan sebuah nama kepada mereka, padahal, jika ada seseorang yang pantas disalahkan, tentu saja itu adalah ayah dari anak-anak ini dan ibunya sendiri, karena bagaimanapun, anak-anak ini tidak punya pilihan selain lahir.
Jika engkau tidak menginginkannya maka jangan lakukan perbuatan seperti itu, bahkan jika engkau melakukannya karena terpaksa sekalipun, perbuatanmu yang membenci mereka masih tidak dapat dibenarkan.
Karena, mereka tidak dapat memilih untuk dilahirkan oleh siapa, bahkan jika mereka dapat memilih sekalipun, tentu saja mereka tidak ingin lahir dari rahim wanita yang akan membuang mereka? Tentu saja mereka ingin lahir dan disambut sebagai pembawa kebahagiaan bagi keluarganya.
Mereka pastinya tidak ingin disambut cacian dan hinaan dari keluarganya, tentu saja mereka tidak ingin lahir sebagai aib di dalam keluarga mereka dan dibenci oleh wanita yang melahirkan mereka.
Tidak mungkin mereka ingin dilahirkan sebagai anak haram, tidak memiliki ayah, tidak punya hak untuk mendapatkan kata bin ataupun binti dari ayah mereka, sekalipun itu ayah kandungnya sesuai hukum negara, namun, tidak dalam hukum agama.
Dunia ini begitu kejam untuk anak-anak seperti mereka, dihina, dibenci, dan dikucilkan oleh masyarakat, bahkan orang tuanya sendiri, namun, tidak banyak orang yang hendak menundukkan pandangannya untuk melihat kearah mereka.
__ADS_1
Kebanyakan orang hanya melihat keatas, mengagumi, bahkan iri kepada orang-orang yang hidup dengan fasilitas di atas mereka, namun, pernahkah mereka melihat kebawah untuk bersyukur dan berbagi dengan orang-orang yang berada dibawah mereka?.
Arga terpaku dalam lamunannya, dengan datangnya kedua bayi itu membuat matanya terbuka, bagaimana bisa ia bertahan hidup dengan keserakahan sebesar ini? Pria itu terus melihat ke atas dan merasa iri dengan orang-orang yang dapat menikmati hidup dengan normal.
Sedangkan, dirinya tidak pernah melihat orang-orang yang berada di bawahnya, ia tidak pernah sekalipun memperhatikan dan melihat bahwa ada anak-anak yang bahkan jauh lebih malang darinya.
Pria itu beruntung karena memiliki ibu dan teman-teman yang sangat menyayanginya, namun, bagaimana perasaan anak-anak yang selalu dibenci oleh masyarakat dan keluarganya?.
Pria berambut hitam itu tersenyum, ia telah menemukan nama yang tepat untuk kedua bayi kembar yang telah membuka matanya.
"Gimana kalo yang mirip Lior kita kasi nama Lion, dan yang mirip Arga kita kasi nama Leo? Soalnya Arga yakin, mereka bakal tumbuh jadi anak yang kuat kayak singa," Saran Arga mengelus lembut pucuk kepala si kembar dengan jari telunjuknya agar tidak menyakiti bayi-bayi itu.
"Leo dan Lion ya? Nama yang bagus, yaudah, kalian jaga mereka yang baik ya?" Ucap Ana setuju dengan nama yang diberikan oleh putranya itu.
Semoga kedua bayi itu tumbuh sekuat nama mereka, dan semoga saja kisah Arga dan kekasihnya terus berjalan mulus seperti ini, namun, tentu saja dalam sebuah kisah tidak akan terus berjalan mulus, pasti akan ada satu atau dua buah kerikil diperjalanan mereka, dan yang dapat mereka lakukan hanyalah berhati-hati agar tidak tersandung salah satu atau keduanya.
...****************...
Hi semua! Eps kali ini murni cuma pandangan Aku yang greget banget sama pihak tidak bertanggung jawab yang membuang harta yang sangat berharga itu ya!.
Soalnya ada banyak pasangan yang sangat menginginkan mereka, namun, belum diberi kepercayaan oleh Sang pencipta untuk menjaga ciptaan-Nya yang sangat berharga.
Makanya Aku kesel banget, sampe yah, mungkin berlebihan, dan menyinggung beberapa pihak, untuk itu aku minta maaf sebesar-besarnya🙏.
Happy reading minna-san! Pantau terus kelanjutan kisah Argeiza dan bayi-bayi mereka yang gemoy banget ini ya!!!!
__ADS_1
^^^~Veristasia^^^