Argeiza

Argeiza
First Date


__ADS_3

Sabtu, 15 Oktober 2022, malam ini adalah malam minggu, malam dimana para pasangan muda yang masih berpacaran maupun yang sudah sah menikah berkencan dengan pasangannya.


Arga, pria berambut hitam itu tampak dengan serius menatap handphonenya mencari sesuatu di mesin pencarian, dan semua yang dilihatnya adalah berbagai rekomendasi tempat yang bagus untuk First Date, mungkin, karena ini adalah kencan pertamanya, pria itu sangat berhati-hati dalam menyiapkannya agar menjadi sesuatu yang benar-benar pantas untuk dikenang.


"Ga, lo pesen apa?" Tanya Jean mengeluarkan kertas dan pulpen dari sakunya, menulis pesanan mereka agar segera diproses oleh bibi kantin.


Namun, nihil, pria berambut hitam itu sama sekali tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Jean, dan tetap asik dengan handphone di tangannya.


"Eiza mana Ga?" Tanya pria itu lagi, sengaja memancing Arga untuk melihat apakah saat ia menanyakan soal Eiza, apakah temannya itu akan merespon atau tidak.


Kerena, jika Arga menjawab pertanyaan Jean yang bertanya tentang Eiza, maka, kemungkinan besar Arga sengaja tidak menjawab pertanyaan Jean dan malah berpura-pura tidak mendengarnya.


"Makan sama Elda," Jawab Arga tepat tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone di tangannya, membuat Jean kesal karena merasa sengaja diabaikan.


"Lo liat apa sih Anying! Gue nanya lo mau pesen apa loh ini!" Tukas pria itu merebut ponsel Arga penasaran dengan apa yang sebenarnya dilihat pria itu sejak tadi.


Dan jreng, yang dilihat pria berambut hitam itu ternyata hanyalah rekomendasi dan refrensi tempat-tempat yang cocok untuk melakukan First Date yang mungkin akan menjadi pengalaman yang harusnya akan dikenang cukup lama.


"Lo nyari tempat malam mingguan aja mesti buka Google, tanya sama kita-kita 'kan bisa!" Ucap Jean mengembalikan handphone temannya itu.


"Gimana mau nanya, kalian 'kan jomblo semua," Gumam Arga, namun masih dapat didengar oleh teman-temannya membuat keempat pria itu membatu mendengarnya.


"Lo! Lo gak boleh gitu Ga! Pacaran juga belum tentu langgeng sampe pelaminan 'kan Any*ng!" Sergah Jean emosi karena merasa diremehkan oleh temannya itu.


Plak!

__ADS_1


Lior menempelkan tangannya ke bibir Jean membungkam mulut pria itu secara paksa. Pria berambut pirang itu benar-benar tidak percaya bahwa temannya yang tidak pernah berbicara dengan baik dan sulit dimengerti itu benar-benar lebih tua darinya.


"Hush! Gak boleh ngomong 'gitu Yan, Alkalamu fiddu'a, ucapan itu adalah do'a, lo sebagai abang, do'ain yang baik-baik buat adek lo," Ucap Lior membungkam mulut Jean dengan telapak tangannya.


"Ya ini gue do'ain yang baik woi! Pacaran tuh dosa! Ya kali mau langgeng ngelakuin dosa, Jahanam waiting you brother!" Jawab Jean tepat sasaran membuat teman-temannya bungkam, karena jika sudah menyangkut agama, tentu saja tidak ada lagi yang berani menjawabnya.


"Si paling stay halal," Cibir Arga yang merasa tersindir dengan ucapan Jean, karena diantara mereka berlima hanya dirinya yang terpikat godaan pacaran.


"Napa? Iri?! Bilang deck!!!" Tukas Jean membuat Arga menatapnya tajam karena kesal.


****************


Bel pulang telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, kelas mulai sepi, dan kini hanya ada Eiza dan Arga yang berada di kelas.


"Za, malam ini malam minggu 'kan?" Tanya pria berambut hitam itu kepada Eiza dengan wajahnya yang sedikit memerah.


Jantung gadis itu berdetak kencang, kebiasaan buruknya kambuh, gadi itu kini mulai membayangkan apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya.


"Eum, iya, 'mangnya kenapa?" Tanya gadis itu dengan wajah yang mulai memerah berpura-pura tidak tahu agar pria di depannya itu mengatakan maksudnya dengan mulutnya sendiri.


"Eum, yah, e-enggak sih, lo, sibuk gak, malam ini?" Tanya Arga membuat wajah gadis di depannya itu semakin memerah.


Eiza, gadis itu benar-benar tidak tahan untuk mencubit pipi pria di depannya yang tampak malu-malu mengatakan maksudnya, pria itu benar-benar menggemaskan, tingkahnya yang malu-malu kucing itu benar-benar mirip dengan balita yang meminta mainan kepada ibunya.


"Eum, gimana ya, kayaknya lumayan sih, soalnya tadi banyak PR kan?" Jawab Gadis itu sengaja membuat seolah ia menolak Arga, karena tidak tahan untuk tidak mengerjai pria dengan wajah sepolos itu di depannya.

__ADS_1


Arga menundukkan pandangannya, pria itu tampak benar-benar kecewa, tampangnya yang sekarang sangat mirip dengan anak anjing yang ditinggal bekerja oleh majikannya, benar-benar menggemaskan hingga membuat Eiza yang melihatnya tidak tahan untuk tidak mengerjainya.


"Ya Allah, gemes banget! pengen aku unyel-unyel, akh!!!! Anak siapa sih itu?!!!" Batin gadis itu benar-benar tidak tahan melihat wajah pria di depannya.


"Ekhem! , tapi kayaknya gue bisa luangin waktu sebentar," Tambah gadis berusaha tetap Cool di depan pacarnya, karena imejnya akan hancur apabila ia tidak tahan dan tiba-tiba mencubiti pria di depannya itu.


Arga mengalihkan pandangannya, lalu menatap gadis berambut pirang itu dengan mata berbinar, pria itu tampak sangat bahagia dan seakan tidak percaya bahwa gadis di depannya itu rela meluangkan waktunya yang berharga hanya demi permintaan tidak penting darinya.


"Beneran? Kalo 'gitu, malam ini mau keluar bareng?" Tanya pria itu penuh harap, membuat Eiza langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang ataupun bertanya kemana pria itu akan membawanya.


"Kalo gitu gue jemput jam lapan ya?" Ucap pria itu langsung menarik tangan Eiza mengajaknya keluar kelas menuju parkiran. Ya, sejak mereka berpacaran, kini Arga rutin menjemput dan mengantar Eiza ke sekolah.


Dikarenakan, selain gadis itu tinggal sendirian di rumahnya, ia juga selalu mengandalkan taksi online untuk mengantar-jemputnya ke sekolah, karena itu, setelah mereka berpacaran Arga yang akan bertugas menjadi supir pribadi gadis itu.


...****************...


Drama Kecil Jean dan kawan-kawan


"Yer, makin hari kita makin jarang aja muncul di nih novel," Ucap Jean menggerutu sambil mengupas kuaci sebagai cemilannya menonton TV.


"Ya wajar sih, soalnya kita kan bukan MC," Jawab Lior menukar chanel TV untuk menonton anime kesukaannya yaitu Naruto.


Jean menghela nafasnya panjang, ia tidak percaya bahwa pria setampan dirinya hanya dijadikan pemeran pendukung oleh Author yang tidak berperasaan, bagaimana dunia bisa menjadi begitu tidak adil?.


"Andai, ada lowongan kerja buat jadi MC di novel lain, gue mau ngelamar ah, lagian, gue sama Arga 'kan jauh lebih baik gue," Gumam pria itu lagi, membuat Teman-temannya yang jauh lebih jarang di sorot hanya dapat mengelus dada bersabar dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Syukuri aja, liat Elan, dari tadi santai, padahal dialognya cuma satu-dua," Tukas Lior langsung membuat Jean berhenti dengan ucapannya.


Jean bungkam, perkataan Lior benar, bagaimana bisa Author menyia-nyiakan karakter sepenting Elan untuk hanya disorot dalam beberapa dialog saja? Maka, dimulailah Demo berkepanjangan dari Jean yang menuntut keadilan untuk pemeran pendukung kepada Author kita tersayang.


__ADS_2