
Keesokan harinya, hari ini sekolah diliburkan untuk mengistirahatkan para siswa-siswi yang kelelahan setelah festival sekolah. Arga, pria berambut hitam itu kini sedang duduk di depan televisi bersama keempat temannya.
"Ganti napa? gue mau nonton minions," Pinta Jean merebut remot TV dari tangan Lior.
"Ih! Apaan sih, udah umur segini masih aja nonton kartun," Cibir Lior melempar bungkus kuaci di atas meja ke wajah Jean kesal.
Jean mengerucutkan bibirnya kesal, pria itu tersinggung dengan ucapan Lior yang menurutnya bahkan lebih buruk darinya yang menyukai kartun.
"Wibu diem aja! Lo kira anime bukan kartun?!" Tugas Jean membuat langsung berhasil menyulut emosi temannya itu.
"Apaan lo ha?! Anime itu bukan kartun woi! Lagian ya, gue bukan Wibu! gue cuma Anime Lovers!" Balas Lior kembali melemparkan sesuatu ke wajah Jean.
"Anj*ng!!! Lo main kasar ya! Lo duluan ya!!!! Sini lo Ba*i!!!!!" Sergah Jean mengejar Lior tidak Terima wajahnya dilempari puluhan kulit kuaci oleh pria berambut pirang itu.
Lior melompat dari sofa berusaha melarikan diri dari Jean, sedangkan teman-temannya yang lain hanya dapat tertawa melihat tingkah kedua mahluk bumi itu, suasana ruang tamu menjadi sangat ramai, penuh dengan tawa dan teriakan remaja yang bercanda dan bermain bersama.
Untuk sesaat, para remaja yang terbiasa dengan kekerasan dan topeng itu akhirnya terlihat seperti remaja usia belasan tahun pada umumnya, mereka mungkin dilatih untuk menyembunyikan emosinya, namun, walau begitu mereka tetaplah manusia dan anak-anak yang masih membutuhkan waktu bermain dan bernafas tanpa tekanan dan kepalsuan.
"Jadi, gue mau curhat," Ucap Arga ditengah suasana penuh tawa itu membuat semua teman-temannya langsung bungkam memasang wajah serius dan kembali duduk ditempat mereka semula.
__ADS_1
Para pria yang semula sangat riuh dan tertawa ria itu kini duduk dengan tenang mengambil posisi ternyaman untuk mendengar curhatan salah satu diantara mereka, Jean memeluk bantal minions kesayangannya, sedangkan yang lainnya menyimpan beberapa kuaci ditangan mereka khawatir Erox akan menghabiskan semuanya tanpa menyisakan untuk mereka.
"Jadi, gue lagi suka sama satu cewek," Ucap Arga memulai curhatannya dengan sebuah berita yang sangat mengejutkannya, namun, tidak membuat teman-temannya merasa heran.
"Dan tadi malam, gue nyatain perasaan gue ke cewek itu," Sambungnya, kali ini membuat para pria itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Terus gimana? Ditolak?" Tanya Jean penasaran, membuat Lior menepuk pahanya kesal.
"Shhht! Dengerin dulu sampe abis," Ucap Lior mengingatkan sopan santun kepada temannya itu.
Arga menggeleng, lalu kembali melanjutkan ceritanya, "Tadi malam gue mau nyatain perasaan gue, tapi gak jadi, karena, gue takut ditolak," Sambung pria itu lagi, membuat teman-teman yang mendengarnya menghela nafas merasa sedikit kecewa.
"Ya, soalnya, kayak yang kalian tau, kita tuh hidup di dunia yang berbeda sama orang lain, gimana bisa gue tega masukin cewek yang gue sayang ke dunia sekeras ini? Ini tuh kayak neraka dunia! bedanya gak panas, tapi banyak banget cobaan dan masalahnya," Jelas pria itu frustasi yang dikuatkan dengan tepukan lembut di punggung dan pucuk kepala pria itu.
"Gue setuju sama Arga, walaupun keputusan lo buat jauhin dia dari lo yang sama bahayanya dengan bom waktu, tapi, bukannya mengendalikan bom itu lebih baik dari melarikan diri?" Timpal Erox benar-benar dapat diandalkan saat dibutuhkan.
"Ga, buat ngelindungin orang yang kita sayang gak cuma butuh tempat yang aman, tapi kita juga butuh kekuatan dan kekuasaan untuk melindungi mereka! Lo liat Mommy kita, beliau gak jauhin kita dari dunia keras ini 'kan? Sebaliknya, Mommy mendidik dan melatih kita supaya bisa bertahan dengan berpijak di dunia ini dengan kaki kita sendiri!" Tambah Lior mengingatkan temannya itu.
"Tapi semuanya balik lagi ke Lo, lo yakin bisa liat dia sama orang lain? Lo yakin jauhin dia dari lo memang jalan terbaik? Kami cuma bisa ngasi solusi Ga, dan keputusannya selalu balik lagi ke lo," Elan angkat bicara mengakhiri saran yang diberikan oleh teman-temannya.
__ADS_1
Arga bungkam, ucapan teman-temannya benar, namun, pria itu masih belum yakin untuk menyeret seorang gadis biasa kedalam konflik besar yang selalu menerjang kehidupannya.
Apakah keputusan yang tepat bila ia menjauhkan gadis yang dicintainya dari dirinya sendiri? Apakah ia sanggup melihat gadis itu bersanding dengan pria lain? Namun, jika itu dapat membuat gadis yang dicintainya bahagia, ia rasa itu saja sudah cukup untuknya, setidaknya itulah yang ia pikiran sekarang.
"Tapi, kalau boleh jujur, gue gak mau liat dia sama orang lain, gimana caranya buat nambah kekuatan dan kekuasaan yang cukup buat melindungi orang yang kita sayang?" Gumam pria berambut hitam itu bertanya kepada teman-temannya.
Para remaja itu tersenyum puas, inilah sosok Arga yang mereka kenal, seorang remaja yang pantang menyerah dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hal yang diinginkannya.
"Hhhhh, itulah guna kami sebagai temen lo! Makanya! Kita harus nambah relasi dan kerja keras buat ngasilin lebih banyak uang dan pasukan lagi! Ingat selain uang kita juga butuh temen yang bisa dipercaya!!!" Ucap keempatnya kompak saling tersenyum satu sama lain.
"Lo gak sendiri Ga! Kita gak pernah sendiri, Ada Mommy dan temen yang udah kayak Saudara sendiri selalu jalan berdampingan sama Lo! Makanya kalo ada masalah kita curhat rame-rame kayak gini!" Ucap Jean merangkul leher Arga tersenyum bahagia membuat pria berambut hitam itu juga ikut tersenyum melihatnya.
"Film Minions Lo udah mau mulai tuh!" Seru Lior memberikan remot TV kepada Jean.
"Woah!!! Udah mulai!!! Jangan berisik ya kalian!" Ucap Jean memeluk bantal Minions kesayangannya.
"Ini kuacinya mana semua? Udah habis nih?" Tanya Jean saat hendak mengambil kuaci untuk menjadi cemilannya menonton film, namun, sudah tidak ada yang tersisa.
"Udah dijadiin hak milik sama Erox, udah dipeluk gitu piringnya!" Jawab Lior terkekeh saat melihat temannya yang mengambil semua sisa kuaci dimeja sebagai gak miliknya.
__ADS_1
Kebahagiaan itu memang sederhana, beberapa kali pria berambut hitam itu berpikir, apakah dirinya terlalu egois karena mengharapkan kehidupan normal sedangkan kehidupannya saat ini juga cukup baik?.
Pria itu memiliki ibu dan teman-teman yang sangat menyayanginya, walau banyak masalah yang menerjang kehidupannya, ia masih dapat tertawa dan hidup dengan baik bersama orang-orang yang berharga baginya, jadi, apakah ia terlalu egois karena mengharapkan lebih, bukannya mensyukuri kehidupannya yang sekarang?.