
Satu minggu setelah kepergian Ana, sebuah pesan mendesak terkirim ke rumah utama keluarga Deaniol yang menjadi tempat tinggal puluhan pasukan elite yang ditinggalkan Ana di Indonesia untu menjaga kelima putranya.
Situasi di Meksiko memburuk, dan kini mereka membutuhkan setidaknya setengah pasukan dan Spanyol dan sandi dana divisi ketiga untuk membantu menyelesaikan masalah yang kian memburuk setiap harinya.
Perusahaan wanita itu kini sedang bersitegang dengan perusahaan unggul yang berada di wilayah itu yang juga terlibat dengan dunia bawah, sehingga masalah ini akan sedikit lebih rumit dan berkemungkinan besar untuk melibatkan beberapa sekutu di pihak masing-masing untuk menyelesaikan masalah hanya dengan pameran kekuatan keluarga biasa.
Setidaknya itulah yang diharapkan wanita itu, namun, siapa sangka bahwa pihak musuh akan berhubungan dengan seseorang yang tidak terduga? Tidak, itu bukanlah dalang dari rencana penghancuran beberapa keluarga mafia secara besar-besaran yang diadakan beberapa tahun yang lalu, melainkan sebuah masalah yang sedikit lebih kecil, namun, juga merepotkan.
Untuk saat ini hanya itu informasi yang dapat diberikan, dan kini Ana sedang berusaha menghubungi rumah utama keluarga Deaniol yang berada di Spanyol, namun, sayangnya mereka tidak dapat dihubungi sama sekali, apa yang sebenarnya terjadi di sana?.
Melihat kemungkinan bahwa terjadi sesuatu di Spanyol, atau seseorang telah menyabotase aliran panggilan daruratnya, Ana akhirnya memutuskan untuk menghubungi rumah utama keluarganya yang berada di Indonesia.
Mungkin ini memang keputusan yang tergesa-gesa, mengingat kelima putranya yang kemungkinan besar akan langsung menyusulnya saat mendengar situasi di tempat ini yang kian memburuk, namun, wanita itu tidak memiliki pilihan yang lain.
Oleh sebab itu ia meminta kepada Carol, asistennya untuk merahasiakan tentang kondisi masalahnya kepada kelima putranya dengan mengatakan bahwa wanita itu akan baik-baik saja dan akan segera pulang ke rumah dalam waktu dekat.
"Jadi, mama bakal pulang lebih cepat?" Tanya Arga sedikit meragukan ucapan Carol kepadanya.
Carol menganggukkan kepalanya, namun, hal itu tidak mengubah kecurigaan Arga kepadanya sedikitpun. Ana adalah wanita mandiri yang akan pulang dan pergi sesuka hatinya, wanita itu tidak pernah memberikan kabar yang jelas mengenai kapan ia akan kembali, maupun kapan ia pergi.
__ADS_1
Di hari wanita itu hendak pergi, maka di hari itulah ia akan berpamitan dengan putra-putranya, begitu pula saat ia akan kembali, maka di hari itu pula ia akan memberi kabar kepada putra-putranya untuk menjemputnya.
"Ouh, yaudah, kita mau bawa si kembar main ke rumah Eiza, gue titip rumah ya?" Ucap Arga seadanya lalu menggendong Leo untuk menemui Eiza.
"Kita nyusul mommy?" Tanya Jean beberapa detik setelah ia melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah keluarga Deaniol.
"Ya iyalah, mommy tuh memang 'gitu, kalo ada masalah besar gak pernah mau ngelibatin kita, alasannya terlalu bahaya lah, kita masih kecil lah, padahal kalo mommy yang nanggung semuanya sendiri lebih bahaya, secara mommy tuh cewek!" Jawab Lior mengeluhkan sifat Ana di sepanjang jalan.
"Kalo kita pergi sekarang, si kembar gimana?" Ucap Jean kembali bertanya, membuat Lior yang sedari tadi mengeluh kini menutup mulutnya.
Ucapan Jean benar, sekarang mereka bukanlah remaja yang bebas melakukan apapun sesukanya, kini kelima pria itu memiliki tanggung jawab yang sangat besar, yaitu anggota baru keluarga mereka yang harus mereka jaga sepenuhnya.
"Karena Carol selalu kerja secara profesional, dia gak bakal ngelakuin hal di luar tugasnya, jadi, dia gak mungkin ngejar kita, semoga aja 'gitu," Timpal Lior tersenyum kecil walau ada. sedikit keraguan di dalam hatinya.
"Tapi, gimana cara kita ngejelasin ke Eiza situasi kita buat nitip si kembar ke dia?" Tanya Elan membuat Jean tertegun hingga reflek menginjak rem dan menghentikan mobilnya ditengah jalan.
Kelima remaja itu kini terdiam mematung, bagaimana bisa mereka tidak memikirkan hal ini sebelumnya, sedangkan waktu yang mereka punya sudah tidak banyak lagi. Masalah ini bahkan lebih gawat daripada memikirkan cara mengelabui penjaga yang menjaga jet milik mereka.
Apakah sudah saatnya bagi gadis itu untuk mengetahui kebenaran dibalik keluarga mereka? Namun, apakah gadis itu benar-benar dapat dipercaya untuk mengetahuinya?
__ADS_1
Berbagai kemungkinan mulai muncul dibenak kelima pria itu, mulai dari kemungkinan Eiza akan menghianati mereka, hingga kemungkinan bahwa gadis itu dapat menerima semuanya dengan senyuman santai dan segelas teh ditangan mereka.
Akan tetapi, tentu saja kemungkinan bukanlah sebuah kenyataan, bagaimana jika kenyataannya justru berlainan dengan semua kemungkinan yang mereka perhitungkan?.
"Gimana Ga?" Tanya Lior menanyakan pendapat temannya, karena pria itulah yang paling mengerti tentang gadis yang akan mereka mintai bantuan.
Arga terdiam, mulutnya tertutup rapat, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Lior, walaupun hatinya berkata untuk mempercayai gadis itu, namun, pikirannya terus menolaknya, karena ini adalah hak yang harus dirahasiakan dari siapapun, bahkan orang terdekatnya sekalipun, haruskah ia mempercayai gadis itu sekali saja?.
"Jujur, gue gak percaya bahwa Eiza bisa nerima hal kayak 'gini, tapi, apa gue boleh sedikit terbawa perasaan buat percaya sama dia sekali aja?" Tanya pria berambut hitam itu memohon pengertian dari keempat temannya.
Keempat pria itu tersenyum, bahkan jika Arga tidak memintanya sekalipun, mereka bersedia untuk mempercayai gadis yang dipercayai oleh temannya itu, karena, mereka tahu bahwa walaupun tidak sekarang, namun, suatu hari nanti mereka juga akan mengatakan hal ini kepada gadis itu, lantas, apa salahnya sedikit mempercepat hari itu?.
"Apaan, walaupun gak sekarang, suatu hari nanti gue yakin Eiza juga bakal tau rahasia keluarga kita, jadi, apa salahnya kali dipercepat?" Jawab Jean tersenyum lebar mengacak-acak rambut pria yang duduk di sampingnya itu.
"Auk tuh, santai aja kali, kita percaya sama pilihan lo kok, ntar kalo Eiza gak mau, si kembar kita bawa aja ke Meksiko, terus dijalan kita titipin ke Grandma di 'Itali," Timpal Lior setengah bercanda mencairkan suasana tegang diantara mereka beberapa menit yang lalu.
Arga tersenyum, matanya berbinar menatap keempat temannya yang ternyata benar-benar mempercayainya tanpa syarat, keempat pria itu benar-benar adalah hartanya yang sangat berharga, mereka tumbuh bersama, dibesarkan oleh orang yang sama, bahkan memiliki nasib malang yang sama.
Namun, semua kemalangan itu membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh, bahkan mereka tumbuh menjadi sedekat ini, hingga dapat mempercayai satu sama lain tanpa syarat.
__ADS_1