Argeiza

Argeiza
Memulai kisah sebenarnya


__ADS_3

langit telah menggelap sejak beberapa jam yang lalu, rembulan telah sampai kepuncak tertingginya, bintang-bintang mulai tertutupi awan hitam yang menandakan cuaca mungkin dapat berubah kapan saja, dan di sebuah rumah mewah, sebuah keluarga sedang berkumpul dalam suatu ruangan kedap suara.


Mereka adalah sebuah kelompok yang dibentuk oleh seorang wanita dengan wajah lemah lembut seperti mawar putih, namun, wanita yang tampak polos dan suci itu telah bertahan dalam kerasnya dunia bawah selama bertahun-tahun hanya dengan mengandalkan kaki dan tangannya.


Dia adalah Leonor Rosenta Deaniol, seorang wanita berusia 36 tahun yang telah kehilangan suaminya sejak beberapa tahun yang lalu dan terpaksa bertahan dalam kerasnya dunia bawah sendirian demi putra semata wayangnya.


Segalanya akan menjadi mudah apabila ia memutus hubungan dengan keluarga Deaniol dan meninggalkan dunia ilegal yang penuh kekerasan itu. Namun, semua itu akan menjadi percuma apabila hanya ia yang dapat melarikan diri.


Argalixint Triader Deaniol, yang adalah putra semata wayangnya, sekaligus satu-satunya penerus keluarga Deaniol yang akan terus diincar walau ia mengeluarkan anak itu dari keluarga Deaniol sekalipun, dikarenakan, mungkin nama dapat diubah, namun tidak dengan darah.


Sekeras apapun wanita itu berusaha, ia tidak dapat lari dari kenyataan bahwa didalam darah putra kesayangannya itu mengalir darah keluarga Deaniol, sekalipun ia harus mengorbankan nyawanya untuk melindungi putranya itu, baginya itu semua sepadan, lagipula, bukankah adalah kewajiban orang tua untuk melindungi anaknya?.


"Jadi, karena kalian datang ke sini lebih awal, harusnya 'itu' selesai lebih awal 'kan?" Tanya Ana kepada para putranya terutama yang baru menyusulnya setelah menyelesaikan beberapa 'tugas' yang ia berikan.


"Yes Mom, sebenarnya ada beberapa dari kami yang selesai sebelum Mommy pergi, tapi, kami akhirnya mutusin buat pergi bareng," Jawab Lior tersenyum manis.


"Jadi, gimana sama tugas kalian?" Tanya wanita itu lagi, kali ini dengan senyum yang sama sekali berbeda dengan senyuman ramah wanita itu biasanya.


"Titik satu aman Mom,"


"Titik dua juga kelihatan tidak mengancam,"


"Titik ketiga sedikit membuat pergerakan, namun sudah saya atasi," Jawab anak-anak beraturan sambil satu persatu menyerahkan beberapa berkas yang mereka bawa.

__ADS_1


"Titik keempat sedikit lebih tenang dari biasanya Mom," Ucap Erox yang adalah mata-mata terbaik diantara anak-anak itu menyerahkan beberapa berkas yang dibawanya kepada Ana.


"Hoo, sudah kamu selesaikan?" Tanya Ana melemparkan pandangannya kearah Erox yang dijawab anggukan oleh pria itu.


"Titik lima aman Ma," Sambung Arga menyela percakapan Ana dan Erox untuk menghindari pria itu mengamuk.


Ada alasan di balik Ana yang memanggil putranya dengan berbagai sebutan, Elan yang dipanggil dengan panggilan feminim yaitu Lany, karena pria itu mengerjakan tugasnya dengan rapi layaknya seorang wanita yang memperhatikan semua pekerjaannya agar manjadi sempurna.


Erox dengan panggilan Roxy yang mungkin terdengar menggemaskan, namun, alasan wanita itu memanggilnya Roxy adalah untuk menyembunyikan sifat liar pria itu yang sangat sensitif di balik namanya yang menggemaskan.


Sedangkan ketiga putranya yang lain selalu dipanggil dengan nama mereka, karena ia tidak tahu kapan anak-anak itu akan meledak. Kelima putranya adalah sebuah keluarga sekaligus senjata paling berharga di hidupnya.


Namun, anak-anak itu juga seperti bom waktu yang dapat meledak kapan saja, setidaknya dua diantara putra-putranya itu masih dapat ia kendalikan, namun, tiga putranya yang lain, benar-benar berasal diluar kemampuannya.


...****************...


Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25, November, 2011, saat Arga masih berusia lima tahun, sebuah kejadian tidak terduga telah menghancurkan keluarganya.


Seseorang menyerang keluarganya tanpa alasan yang jelas, mereka tidak mengambil sepeser uang pun dari keluarga Deaniol, melainkan nyawa pemimpin keluarga yang saat itu dipegang oleh Siegest Triader Deaniol yang adalah Ayah dari Argalixint Triader Deaniol.


Genangan darah ada dimana-mana, dinding yang semula berwarna putih kini berubah merah bersimbah darah, Arga duduk meringkuk dibawah tempat tidurnya, anak itu gemetaran, hingga setelah suara teriakan histeris dari beberapa pembantu di rumahnya, suatu cairan berwarna merah merembes kebawah tempat tidur mewarnai lantai tempat duduknya dengan warna merah menyala.


**Deg**!

__ADS_1


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia keluar dari tempatnya bersembunyi, kepala sangat ayah sudah terlepas dari tubuhnya, anak itu terduduk lemas, tatapan matanya kosong, namun, tidak ada setetes air matapun yang keluar membasahi pipinya.


**Brak**!


Pintu kamar didobrak oleh Ana yang baru kembali dari perjalanan bisnisnya. Wanita itu terduduk lemas, senyap, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


Wanita itu dengan putus asa mengambil kepala suaminya yang telah terpisah dari tubuh, ia gemetaran, namun, tetap saja wanita itu tidak dapat menghentikan dirinya yang begitu ingin memeluk suaminya itu.


"Ma, masih bisa diperbaiki?" Tanya Arga berjalan mendekati ibunya dan memberikan sebuah lem kertas kepada wanita itu. Ana bungkam, ia tidak dapat menjawab ataupun menerima barang yang diberikan putranya itu.


Adalah sebuah pukulan berat baginya yang mendapati keluarganya hancur tepat saat ia baru kembali dengan kabar gembira setelah perjalanan bisnisnya.


"Ma, papa, masih bisa diperbaiki?" Tanya anak itu lagi, saat wanita didepannya itu tidak berbicara sepatah katapun menjawab pertanyaannya.


Ana mengalihkan pandangannya, namun, disaat wanita itu melihat mata putranya yang seakan telah kehilangan cahaya hidupnya, wanita terdiam mematung, sebuah kalimat yang muncul pertama kali di benaknya adalah, bahwa putranya itu mungkin akan kehilangan emosinya.


Dan ternyata, bukan hanya keluarga Deaniol yang mengalami hal itu, mulai dari keluarga terbesar yaitu keluarga Clonelist, Deaniol, Arex, Wolkie, dan Madava, kelima keluarga itu mengalami hal serupa, pembantaian itu tidak menyisakan sebuah nyawa pun, kecuali, putra bungsu di keluarga itu.


Sedangkan beberapa keluarga lainnya yang mengalami hal serupa, disingkirkan sepenuhnya tanpa ada yang tersisa. Peristiwa pembersihan itu kini menjadi hal yang Tabu untuk dibicarakan di dunia bawah sekalipun.


Beberapa orang menduga bahwa pembersihan itu dilakukan oleh pemerintah, sedangkan beberapa yang lainnya berpendapat bahwa, itu semua dilakukan oleh pihak yang menjunjung tinggi keadilan dan hukum.


Namun, masih belum ada bukti jelas dari semua pendapat-pendapat itu, dikarenakan siapapun yang melakukannya pastilah seseorang yang memiliki kekuatan cukup besar, bahkan mungkin sanggup untuk membeli sebuah negara di benua ini, namun, apakah orang seperti itu benar-benar ada di dunia ini?.

__ADS_1


__ADS_2