
11 Oktober 2022, Hari ini adalah hari pertama Arga dan Eiza resmi berpacaran, harusnya ini adalah hari yang penuh dengan kehangatan dan bunga musim semi diantara sepasang kekasih itu.
Namun, entah karena di Indonesia hanya ada musim Duren dan bukan musim semi, suasana diantara sepasang kekasih itu tampak canggung, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, bahkan, kedua remaja itu tampak saling menghindari kontak mata antara satu sama lain.
Jean dan ketiga temannya yang melihat sepasang kekasih itu, lantas bingung menebak alasan temannya itu saling menghindari kontak antara satu sama lain seperti pasangan suami istri yang sedang pisah ranjang.
Hingga, saat jam istirahat, keempat pria itu menanyakan permasalahannya kepada Arga yang malah mengikuti mereka makan di kantin.
"Ga, lo kok kayak pengantin lagi pisah ranjang gitu?" Tanya Jean blak-blakan kepada temannya itu, membuat Arga mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
"Gak, maksud Jean tuh, lo kenapa jauh-jauhan sama si Eiza? kalian kan baru resmi pacaran, ya kali mau langsung putus?" Ucap Lior menjelaskan maksud pertanyaan Jean yang terlalu blak-blakan.
"Gue gak tau, kalo udah pacaran gini, gimana ya? jadi canggung, 'gitu, terus rasanya gue kayak, 'oh, udah berhasil pacaran, yaudah' gitu," Jawab Arga menjelaskan maksud sikapnya yang mulai dingin kepada pacarnya itu, namun, ucapannya yang berbelit-belit justru membuat teman-temannya semakin kebingungan.
"Ha? Maksudnya?" Tanya Jean menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, pria itu sama sekali tidak dapat mencerna jawaban dari Arga, seakan itu adalah rumus Matematika.
"Jadi maksudnya tuh, pertama dia 'kan kayak terobsesi gitu buat dapetin si Eiza, terus, karena sekarang dia udah berhasil dapetin tuh cewek, nih bocah malah gak puas gitu, obsesinya itu udah dia dapetin, dan sekarang, setelah dapetin tuh cewek, dia jadi bosan, 'gitu maksud lo 'kan?" Tanya Lior kembali menjelaskan maksud ucapan teman-temannya yang selalu sulit dimengerti.
Arga mengangguk, dan seketika suasana dimeja itu berubah senyap, setelah mendengar penjelasan Lior, keempatnya langsung mengambil kesimpulan bahwa, Eiza hanya menjadi obsesi sementara temannya itu.
__ADS_1
Namun, apakah perasaan pria itu benar-benar hanya sekedar obsesi? Keempatnya masih ragu-ragu, begitu juga Arga yang bahkan tidak dapat mengerti perasaannya sendiri, ada apa dengan rasa kosong di hatinya? Apakah pria itu benar-benar telah kehilangan ketertarikannya dengan gadis yang baru saja menjadi pacarnya?.
"Gue ngerti perasaan lo, tapi kalo lo gini, namanya lo cuma mainin perasaan cewek Ga! Kita mungkin bukan cowok baik-baik, tapi jangan jadi sebangs*t ini! Kalo lo cuma mainin perasaannya, lo brengs*k Ga! Brengs*k lo!" Tukas Jean bangkit dari duduknya bersiap melayangkan tangannya, namun langsung ditahan oleh Lior dan Elan.
Arga bungkam, yang dikatakan pria itu benar, ia akan menjadi pria yang benar-benar brengs*k apabila menjadikan perasaan wanita sebagai mainannya, namun, disisi lain, ia tidak dapat berbohong tentang rasa kosong di hatinya.
"Gue, juga gak ngerti bang," Ucap pria berambut hitam itu singkat memanggil temannya itu dengan panggilan kehormatannya menyadarkan pria itu bahwa ia adalah sosok tertua diantara mereka.
"Jadi kemaren lo nangis karena apa? Taktik supaya cewek luluh? Ha? Ingat Ga! Mommy juga perempuan! Andai Mommy di posisi Eiza, gimana perasaan lo ha? Gue gak masalah lo berantem sama cowok sampe sekarat, tapi jangan mainin cewek! Apa sih gunanya?"
"Lo gak jadi hebat disaat mainin cewek! Banci lo! Bangs*t! Brengs*k! Sampah lo! Kalo air mata lo selama ini cuma buat luluhin hatinya supaya bisa lo mainin, selamat, lo udah jadi sampah paling rendah yang gak pantes buat didaur ulang!" Sarkas Jean tajam membuat teman-temannya yang mendengarnya tidak berani berkata apapun.
"Gue, gak bermaksud mainin Eiza Yan! Asal lo tau, demi dia gue sampe kecelakaan! Tapi, gue gak bisa bohong tentang hati gue yang kosong! Rasanya hampa! Dan gua gak tau kenapa!" Sergah pria itu menatap tajam pria yang sedari tadi terus memberinya nasihat dengan cara sarkasme.
Arga tidak salah, sebaik apapun penampilannya, pria itu tetaplah hanya seorang manusia biasa yang dapat merasa sedih dan bosan kapan saja, begitu juga dengan Jean, ucapan pria itu tidak salah, namun, yang salah adalah cara mereka.
"Yan, lo gak salah, tapi nasihat itu gak perlu sarkasme didalamnya! Dan lo Ga, lo memang manusia biasa, wajar kalo lo bosan, tapi bukan berarti lo bisa mainin perasaan orang lain,"
"Gini, gue yakin, air mata lo, dan perasaan lo yang selama ini buat Eiza itu tulus, bukan Acting, kenapa gue bilang gini? Kalo lo Acting, lo gak mungkin tetap bersikeras buat jalin hubungan sama tu cewek sedangkan Mommy udah bilang gak setuju, iya 'kan?"
__ADS_1
"Jadi, sekarang gue tanya sama lo, apa perasaan lo ke Eiza udah bener-bener hilang? Apa sekarang hati lo bener-bener kosong? Kalo ia, lo gapapa 'kan, kalo Eiza jadi pacar orang lain? Lo bisa terima 'kan, kalo ada cewek lain yang ngisi hati lo?" Tanya Lior memberi pengertian kepada pria di depannya itu.
Arga bungkam, di satu sisi pria itu yakin bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada gadis yang baru saja menjalin hubungan dengannya itu, namun, disisi lain, ia masih tidak dapat menerima apa bila gadis itu pergi dan menjalin hubungan dengan pria lain.
Apakah perasaannya benar-benar telah hilang? Namun, mengapa hatinya merasa tidak rela apabila gadis itu pergi jauh darinya?. Pikir Arga bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Bukan apa, Ga, banyak cowok yang akhirnya nyesel sama keputusan mereka sendiri, tapi udah telat, tu cewek udah pergi, jadi, jangan sampe lo jadi kayak mereka, gue yakin, lo bisa mikirin ini baik-baik," Ucap Lior bangkit dari duduknya, bersiap untuk mengambil pesanan mereka bersama Elan.
"Gue, gak rela," Jawab Arga bangkit dari duduknya lalu berlari pergi menyusuri koridor kembali ke kelasnya karena meninggalkan sesuatu yang sangat berharga baginya.
Arga, pria itu berlari sekuat tenaga menyusuri koridor yang dipenuhi para siswa-siswi SMA Garuda yang hendak pergi ke kantin, mata pria itu berkaca-kaca, ia cukup menyesal dengan apa yang baru saja dilakukannya, bagaimana bisa ia meragukan perasaannya sendiri, sedangkan ia telah berjuang cukup keras untuk meyakinkan ibunya?.
Brak!
Pria itu menggebrak pintu kelas untuk menghentikan larinya, lalu berjalan cepat menghampiri gadis berambut pirang yang sedang memakan bekalnya sendirian.
"Za! Ikut ke kantin sama Arga yuk!" Ucap pria itu berbicara lembut dengan senyum hangat di wajahnya, sedangkan matanya masih berkaca-kaca.
...****************...
__ADS_1
"Semua hubungan pasti memiliki beberapa kerikil dalam menjalaninya, karena itu, bersabarlah dan tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu benar-benar siap untuk mengakhirinya?"
^^^~Lior Clonelist Devox ^^^