Argeiza

Argeiza
Mimpi buruk


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Arga dan keempat temannya kini di pulangkan dan dijaga ketat oleh anggota keluarga Deaniol yang berada di divisi mereka dikarenakan semua anggota yang lain telah pergi menyusul Ana.


Hari semakin larut, namun, kediaman keluarga Deaniol masih terang benderang tanpa ada satupun lampu ruangan yang telah dimatikan, dikarenakan, Arga dan keempat temannya masih terjaga dan kini sedang berkumpul bersama di ruang tamu kediaman itu.


Kelimanya tidak dapat tidur sekalipun mereka memaksakan untuk menutup matanya, mereka hanya akan terbangun karena mimpi buruk yang langsung menghantuinya tepat setelah mereka menutup mata, dan di sinilah mereka, terus terjaga tanpa berani menutup matanya.


"Rox, lo gapapa? Lo 'kan jarang begadang, jadi tidur duluan aja sana," Tanya Arga menghawatirkan temannya itu.


Erox menggeleng, sama halnya dengan keempat temannya, pria berambut kemerahan itu juga takut untuk menutup matanya karena mimpi buruk yang terus menghantuinya. Berbagai emosi bercampur aduk di dalam hati kelimanya.


Kekhawatiran, amarah, sedih, dan rasa takut kehilangan sosok paling berharga di hidup mereka, mungkin itulah yang memicu mimpi buruk kelima pria itu.


Wajar saja, rasa tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apa-apa sedangkan orang yang paling berharga bagimu sedang mempertaruhkan nyawanya diluar sana, akan membuatmu depresi karena merasa begitu tidak berguna.


Terutama, apabila kamu mengetahui cara untuk menyelesaikan masalah tersebut hanya dengan menggantikan posisi orang itu denganmu, namun kamu tetap tidak dapat melakukan itu, hal itu mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidup bagimu.


"Gue mimpi buruk," Ucap Jean memeluk erat boneka Minionsnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Gue juga, dan ini mimpi paling buruk diantara mimpi buruk gue," Timpal Elan yang selalu mengalami mimpi buruk.

__ADS_1


Namun berbeda dengan mimpi buruk lainnya yang dapat ia atasi hanya dengan melupakannya tepat setelah ia bangun tidur, mimpi kali ini berbeda, pria itu tidak dapat melupakannya sedikit pun, justru, mimpi itu tertanam dengan sangat baik di benaknya.


Sekeras apapun ia mencobanya, pria itu tetap tidak dapat melupakannya, sebuah mimpi buruk yang dapat membuat kelima pria itu benar-benar tidak berani memejamkan matanya, sebenarnya mimpi apa itu?.


Kelima pria itu memimpikan hal yang sama, yaitu kematian Ana dalam permainan caturnya, apakah ini pertanda? apakah mimpi ini merupakan sebuah pesan agar mereka dapat bersiap dan menerima semuanya saat kenyataan itu datang?.


Lantas, bagaimana bisa lima pria dengan tubuh dan jiwa yang berbeda memimpikan hal yang sama di dalam tidurnya? Jika mimpi itu benar-benar pertanda, maka, apa yang harus mereka lakukan untuk mencegahnya?.


"Yer, gue takut mommy kenapa-napa," Ucap Erox menyandarkan kepalanya di bahu Lior yang diikuti oleh keempat temannya sehingga kini mereka saling bersandar kepada satu sama lain.


"Gue yakin mommy gak bakal kenapa-napa kok, soalnya mommy kita orangnya kuat dan pinter banget, iya 'kan?" Hibur pria itu yang berada di tengah-tengah sambil mengelus pucuk kepala Erox dan Arga yang bersandar di bahunya dengan senyuman hangatnya yang selalu berhasil memenangkan teman-temannya.


Dan seperti biasa, walau senyuman itu berhasil menenangkan hati teman-temannya, namun, tidak dengan hatinya. Ana mana yang tidak khawatir saat orang tuanya berada dalam bahaya? Karena itu, kekhawatirannya kali ini sangatlah normal dan dapat diterima.


Sebuah gunung tidak akan menjadi ringan hanya karena engkau berusaha mengangkatnya bersama kelima saudaramu, walau bebannya menjadi terbagi-bagi, namun gunung itu tetap saja terasa berat.


Oleh karena itu engkau harus membongkarnya dan menyusunnya kembali sedikit demi sedikit agar engkau dapat memindahkannya, jika tidak, bahkan saat keturunan ketujuhmu lahir sekalipun, engkau tidak akan pernah bisa mengangkat apalagi memindahkan gunung tersebut.


"Apa yang harus kita lakuin buat bantu mommy?" Kini Jean yang gantian bertanya, membuat Lior menghela nafasnya panjang dengan senyuman yang sedikit pudar dari wajahnya.

__ADS_1


"Entahlah, lagian kita cuma manusia biasa, kita bukan pemeran utama dalam novel yang punya kekuatan khusus untuk mendamaikan dunia, kita juga bukan seorang author yang dapat mengubah jalan cerita sesuai keinginannya,"


"Kita cuma manusia biasa, bergerak sesuai kemampuan dan berusaha sekeras mungkin untuk hidup dan mengubah takdir sedikit demi sedikit," Jawab Lior menengadah ke langit, tampak benar-benar lelah dengan semuanya.


"Kalau ngomong gini gue jadi inget kata-kata orang bahwa manusia itu sama seperti 1000 jika dikurangi satu akan menjadi nol (1000-1\=0), selemah itu," Timpal Elan mengingatkan kata-kata seseorang yang ditemukannya entah dimana.


Ucapan itu masuk akal, jika diibaratkan dengan hal yang lebih mudah mungkin kita dapat mengambil contoh seperti ketika sebuah pena kehilangan tintanya, maka pena tersebut hanya akan menjadi sebuah batang plastik biasa yang tidak lebih berharga dari sampah.


Dan ketika manusia telah kehilangan akalnya manusia itu tidak akan berbeda dengan hewan, seseorang pernah berkata, pada dasarnya manusia adalah hewan, hanya saja kita memiliki akal, oleh karenanya, jika manusia itu kehilangan akalnya, maka ia sudah selesai seperti angka 1000 yang kehilangan angka satunya dan hanya tersisa nol.


Ada banyak artian dalam kata tersebut, namun, setidaknya itulah hal yang paling mudah dimengerti dan kerap dilupakan oleh orang-orang diluar sana, sesuatu yang sederhana, namun, memiliki makna yang sangat dalam.


Hanya sedikit orang yang menyukai dan bersedia meluangkan waktunya untuk mengamati seberapa tidak berartinya manusia dan belajar untuk mensyukuri serta memperbaiki dirinya sendiri.


Itu adalah hal yang mungkin sudah sering mereka lihat dalam kehidupannya, namun, mereka terlalu sibuk dengan kegiatannya sehingga tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hal-hal seperti itu.


Beberapa orang benar-benar sibuk, dan beberapa orang lainnya memiliki harga diri yang sangat tinggi sehingga mereka tidak dapat menundukkan kepalanya untuk memperhatikan sesuatu dengan seksama sehingga sering kali menyalahkan seseorang untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan.


Terkadang mereka melakukan kesalahan dengan memberikan hukuman yang tidak sesuai dengan tindakan kecil seorang yang tua renta karena ingin menghidupi cucunya dan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak melirik kepada kesalahan besar mereka yang lalai dalam tugasnya sehingga masih ada seseorang yang sesulit itu disekitarnya.

__ADS_1


Dan mereka tidak menyadari betapa besar jamur yang telah tumbuh ditubuh mereka yang membusuk, bukannya mereka tidak diperbolehkan tegas terhadap kesalahan seseorang, namun, dimana keadilan yang selalu mereka bicarakan? Bukankah itu semua dilakukan demi keadilan?.


Jika begitu, maka lakukanlah keadilan yang setimpal kepada dirimu dan orang-orang yang setara maupun yang berada di atasmu, hukuman tidak hanya dibuat untuk orang-orang yang kecil, namun juga berlaku bagi mereka yang besar, karena jika dibiarkan, yang kecil akan semakin kecil, dan yang besar akan terus membengkak dan akhirnya meledak menebarkan bau busuknya dimana-mana.


__ADS_2