Argeiza

Argeiza
Kepergian Ana


__ADS_3

Satu minggu setelahnya, Sabtu, 29 Oktober 2022, hari ini Ana mendapat kabar bahwa sesuatu terjadi di perusahaannya yang berada di Meksiko, karena berbagai hal wanita itu harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana.


Mendengar ibunya yang akan pergi sendirian ketempat berbahaya, Arga dan keempat temannya dengan tegas melarang kepergian wanita itu dengan berbagai alasan, seperti, si kembar yang akan menangis jika menyadari bahwa Ana pergi, berbagai kemungkinan yang terjadi di kantor yang berada di Indonesia saat wanita itu pergi, dan berbagai alasan serta bujukan lainnya yang kemungkinan tidak dapat dibantah oleh wanita itu.


Namun, tekad Ana telah bulat, masalah di Meksiko benar-benar besar hingga dapat membahayakan keluarga yang sangat dicintainya, sehingga apapun yang terjadi, wanita itu tetap harus meninggalkan mereka untuk pergi menyelesaikan masalah di sana.


"Ma, mama yakin? Walaupun sepenting apapun, mama 'kan gak perlu pergi sekarang," Ucap Arga yang menghentikan ibunya yang hendak masuk ke jet pribadinya.


"Iya 'mi, mommy 'kan setidaknya bisa di sini beberapa hari lagi, 'kan mommy bosnya, kehilangan beberapa cabang di Meksiko juga kerugiannya gak seberapa," Timpal Jean ikut membujuk Mommynya agar tidak pergi meninggalkan mereka.


"Yakin gak seberapa, di Meksiko ada 12 cabang, dan kalau semuanya hancur, total kerugiannya bisa triliunan loh, tapi, semua itu memang gak seberapa dibandingkan sama nyawa Mommy, tapi, gimanapun juga, mommy ke Meksiko bukan karena udah dapet kabar tentang kematian keluarga kita 'kan?" Jelas Lior berujung pertanyaan yang sangat tepat untuk kondisi mereka sekarang.


Ana menghela nafasnya panjang lalu tersenyum tipis kepada kelima putranya itu. Wanita itu tidak menyadari bahwa anak-anak yang dibesarkannya sejak mereka kecil, telah tumbuh sedewasa ini hingga dapat menyimpulkan semua rencananya dengan kalimat yang sangat sederhana.


"Enggak kok, mommy janji bakal pulang lebih cepat, lagian di Meksiko 'kan memang selalu ada banyak masalah, dan bukan cuma di Meksiko, Italia, dan Jepang juga, jadi, jangan khawatir yang berlebihan, mommy gapapa kok," Jawab wanita itu sesantai dan senatural mungkin.


...****************...


Beberapa jam telah berlalu sejak Ana meninggalkan kelima remaja itu di rumah untuk menyelesaikan beberapa masalah di Meksiko, dan kini kelimanya sedang duduk termangu di depan teras rumah seperti anak anjing yang ditinggal pergi oleh pemiliknya.

__ADS_1


Arga duduk termenung memangku wajahnya, matanya menatap kosong taman bunga kesayangan Ana yang berada tepat di depan matanya, baru beberapa jam sejak ibunya pergi, namun, pria berambut hitam itu telah merindukan sosok wanita lembut yang selalu menemaninya selama ini.


"Ahhhh, gue kangen Mommy," Eluh Jean melemparkan tubuhnya berbaring di lantai.


Keempat pria yang mendengar keluhan temannya itu hanya dapat menghela nafas, tidak dapat menjawab ataupun membantah ucapan pria itu. Karena, bukan hanya Jean, keempat pria itu juga benar-benar sangat merindukan Ana.


"Gimana kalo kita nyusul mama? Mama pasti seneng 'kan? Soalnya dikasi kejutan kayak 'gitu," Saran Arga asal berbicara, memulai sebuah topik pembicaraan diantara teman-temannya.


"Kalo orang tua lain sih pasti seneng, tapi mommy kita, agak beda," Jawab Lior tersenyum canggung bila mengingat sifat Ana dibalik senyuman hangat dan wajah cantik wanita itu.


Keempat remaja itu kini ikut tersenyum, mommy mereka memang benar-benar definisi dari "Jangan menilai buku hanya dari sampulnya" karena, dibalik kecantikan dan senyum lembut wanita itu, tersimpan sosok wanita yang telah memimpin sebuah keluarga mafia kurang lebih sepuluh tahun lamanya.


Bagaimana mungkin wanita seperti itu dapat menjadi benar-benar lembut luar dan dalam? Ditambah lagi, walaupun penampilan Ana terlihat polos dan hangat, itu tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa ia adalah wanita yang melatih dan melemparkan anak-anaknya untuk membunuh dan bertahan hidup di dunia yang sangat keras ini.


Keempat remaja itu tersenyum dan mengangguk setuju, walau terlihat tegas, bagaimanapun Ana tetaplah wanita yang sudah membesarkan mereka selama bertahun-tahun, wanita itu memang keras kepala dan sangat teguh dengan prinsipnya, akan tetapi, kelimanya sadar, bahwa apa yang wanita itu lakukan murni untuk kebaikan mereka bersama.


...****************...


Teater Jean dan kawan-kawan!!!

__ADS_1


Beberapa menit setelah obrolan hangat mengenai sifat Ana. "Gue jadi inget, kalo gak ada mommy, kita bakal jadi apa ya?" Gumam Elan seketika membuat suasana hangat diantara mereka berubah suram.


"Kebiasaan lo Lan! jangan ngomong yang sedih-sedih woi! Belum waktunya nih! Masih juga eps awal-awal, udah mau ada bawang aja!" Sergah Jean bangkit dari tidurnya mengacak-acak rambut Elan kesal.


"Auk tuh! Kita eps awal happy-happy dulu ya 'kan, nanti udah pertengahan, baru kita ceritain gimana masa kecil kita, bagian sedih-sedihnya, yang senengnya ya diceritain juga, biar lengkap pahit manisnya," Jelas Lior angkat bicara membuat Arga mengangguk setuju dengan ucapan pria itu.


"Lagian, 'kan udah ada Lior yang bau bawang, jadi jangan ditambah-tambah lagi," Timpal Arga ikut mengacak-acak rambut Elan kesal.


Lior, pria berambut pirang itu mengernyitkan alisnya kesal, ia tidak mengerti mengapa pembicaraan ini tiba-tiba berubah arah menjadi tempat untuk menghinanya. Dan entah mengapa candaan kecil dari Arga terdengar sangat menyinggung di hatinya.


"Ha?! Maksud lo apa nj*ng? Gue dari tadi gak 'ngusik lo ya b*bi!!!!" Sarkas Lior merasa tersinggung dengan ucapan remeh temannya.


"Ha? gue ngomong bener?, 'kan lo yang sering nyaranin gue nonton anime yang kata lo bagus, padahal bikin mata berkeringat?" Tanya Arga dengan wajah polos saat melihat temannya yang tiba-tiba tersulut emosi setelah mendengar ucapan remehnya.


"Makanya lo jangan sering suudzon sama temen sendiri, nih es lilin, biar lo adem lagi," Timpal Erox yang baru saja kembali setelah mengeluarkan beberapa barang es lilin buatannya semalam dari dalam kulkas.


Mendengar ucapan Arga dan Erox, wajah Lior memerah, pria berambut pirang itu benar-benar malu dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berpikiran buruk terhadap temannya sendiri?.


Walaupun teman-temannya itu memang berkelakuan seperti binatang, namun, terkadang mereka juga memiliki sedikit sisi yang manusiawi, karena itu, sebagai teman yang baik, sudah menjadi tugasnya lah untuk membimbing para mahluk-mahluk itu kembali kejalan yang benar.

__ADS_1


"Kok es lilin? Gak bikin es krim aja?" Tanya Lior sambil menggigit simpul es itu mencoba merobek plastiknya agar terbuka.


"Belum bisa bikin," Jawab Erox singkat, mengakhiri teater kecil mereka hari ini.


__ADS_2