
Pukul 02:15, Tangisan bayi menggema memenuhi seisi ruangan. Arga yang sedari tadi terlelap kini terbangun karena kerasnya suara tangisan yang memekakkan telinga.
"Hmm, siapa? Anak siapa yang nangis?" Tanya pria itu setengah terjaga.
Plak!
Lior menggeplak kepala pria itu kesal, tentu saja suara tangisan itu adalah tangisan dari si kembar, tidak mungkin ada bayi orang lain yang berada di dalam rumah mereka.
"Anak lo lah Any*ng! Makanya yuk bangun! Liat mereka kenapa!" Ucap Lior menarik pria itu agar bangun dari kasurnya.
Arga berjalan sempoyongan keluar dari kamarnya dan menghidupkan satu persatu lampu menuju kamar ibunya, lain hal dengan Arga, Lior kini telah sampai di depan pintu kamar Ana dan langsung mengetuk pintu meminta izin masuk.
"Ma, si kembar kenapa?" Tanya Lior panik.
Ana menggeleng, ia baru saja mengecek popok bayi-bayi itu, dan saat ia menyiapkan susu untuk mereka juga tidak ada tanggapan, mereka tidak lapar, dan juga tidak dalam keadaan harus mengganti popok, lalu apa masalahnya?.
"Coba, sini, sama om, kenapa sayang? Takut ya? Gak mau di keranjang? Hm? Iya? Gak mau di keranjang ya?" Tanya Lior kepada Leo yang tampak paling keras tangisannya.
Pria berambut pirang itu dengan lembut menepuk-nepuk pundak Leo di pelukannya, mencoba menenangkan bayi itu. Tutur katanya pada bayi itu sangat lembut dan ramah, ia terlihat seperti dapat mengerti dan berkomunikasi dengan bayi yang bahkan belum dapat berbicara itu, ia benar-benar seorang Baby sitter profesional.
"Ma, kayaknya si kembar takut ditaruh di keranjang deh, mungkin mereka inget waktu dibuang, soalnya waktu itu mereka juga ditaruh di keranjang," Ucap Arga yang baru sampai dan langsung menggendong Lion di dalam pelukannya.
Lior mengangguk setuju, tumben Arga dapat mengerti pemikirannya, namun, yang membuat pria itu benar-benar kesal adalah, bagaimana bisa Jean dan kedua temannya yang lain tidak bangun sedangkan suara tangisan bayi-bayi itu sangat berisik?.
Brak!
Jean menggebrak pintu kamar Ana yang telah terbuka, pria itu baru saja bangun dari tidurnya dan langsung berlari menuju kamar Ana saat mendengar suara tangisan di kembar.
__ADS_1
"Hiks! Hueee!!!!!!!!"
Leo kembali menangis karena terkejut mendengar suara pintu yang digebrak oleh Arga, Lion yang mendengar saudaranya menangis tentu saja tidak mau kalah, dan akhirnya, kedua bayi itu menangis bersama memecah heningnya malam dan membangunkan dua pamannya yang lain untuk ikut menenangkannya.
"Arga Anj*ng! Tol*l! ngapain lo gebrak pintu?! Tol*l!!!!!" Sarkas Arga yang sedang menggendong Lion menendang kaki Arga.
"Ya gue gak tau kalo mereka bakal kaget!" Sangkal pria itu langsung menghindar.
"Berisik Anj*ng!!!" Ucap Lior angkat bicara menendang Arga dan Jean bergantian.
Leo tertawa, begitu juga dengan Lion saat Lior menendang Arga dan Jean. Lior mengerutkan dahinya bertanya-tanya apa yang membuat kedua bayi itu tertawa? Mungkinkah karena ia menendang Arga? Atau Jean? Atau mungkin keduanya?.
Tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, Lior langsung menendang Arga, namun, nihil, kedua bayi itu tidak merespon, maka Lior pun menendang Jean, dan benar saja? Bayi-bayi itu langsung tertawa, seakan puas karena orang yang telah membuatnya terkejut dihukum oleh Lior.
"Ih! Yer! Salah gue apa Any*ng!!!" Sarkas Jean tidak terima dengan penindasan yang dilakukan oleh temannya itu.
"Heee? Lo pura-pura gak tau apa gimana? Lo liat, waktu gue nendang lo? Si kembar langsung ketawa, dan sekarang lo masih nanya kenapa?" Ucap pria itu langsung membuat Jean ambruk terduduk ke lantai.
Bagaimana bisa keponakan pertama, sekaligus kesayangannya telah membencinya sejak dini? Jika terus begini, tentu saja ia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bermain dengan mereka lagi.
"Tega, gak mungkin keponakan kesayangan gue bisa benci sama gue, ini pasti karena didikan sesat dari lo!" Ucap pria itu dramatis merasa menjadi korban dalam kasus ini.
"Ha? Lo harus Terima kenyataan Yan! Muke badak kayak lo memang udah seharusnya diperlakuin kayak gini!"
"Kagak percaya gue!"
"Gak tau malu lo!"
__ADS_1
"Lo yang gak tau malu! Sesat jangan bawa-bawa ponakan gue Any*ng!"
Jean dan Lior terus berdebat, keduanya sama sekali tidak mau kalah, bahkan Lior yang selalu bersikap dewasa pun tampak tidak berniat mengalah sedikitpun.
Ana menghela nafas kasar, jika kedua pria itu tidak dihentikan, kemungkinan besar Leo dan Lion yang sudah tenang akan kembali menangis karena terusik oleh kebisingan perdebatan kedua pria itu.
Lagipula, bukan contoh yang baik jika mereka saling mencaci di depan bayi yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, bagaimana jika kedua bayi itu mengikuti kebodohan paman-pamannya saat dewasa nanti?.
Plak!
Ana menggeplak kepala kedua putranya itu, dan mengambil Leo dari pelukan Lior dan membaringkannya di atas kasur.
"Udah! Mama mau tidur, kalau kalian terus berantem gini kapan tidurnya? Ingat, besok hari senin, kalian sekolah 'kan?" Tanya wanita itu langsung membuat putra-putranya itu berhenti melakukan tingkah bodoh mereka.
"Ma, si kembar tidur sama Mama lagi?" Tanya Arga meletakkan Lion untuk berbaring di samping Leo.
Ana mengangguk, tentu saja si kembar akan tidur bersamanya, jika ia membiarkan mereka membawa si kembar untuk tidur bersama, kemungkinan besar kedua bayi itu akan tertimpa tubuh mereka yang tidur seperti mayat yang tidak peduli apapun yang terjadi.
"Kita juga mau tidur sama si kembar Ma," Rengek Jean menghentakkan sebelah kakinya, bertingkah seperti anak kecil.
Namun, Ana sama sekali tidak goyah, justru wajahnya tampak datar melihat tingkah Jean, bagaimanapun, pria itu tidak tampak imut sama sekali. Menyadari bahwa tingkahnya tidak mempan kepada Ana, Jean lantas berbisik memberitahu Erox untuk melakukan tingkah yang baru saja dilakukannya.
Dan tentu saja Erox akan langsung menuruti ucapan kakaknya itu, karena selain Jean, pria berambut kemerahan itu juga ingin tidur bersama si kembar.
"Erox juga mau," Pinta pria itu menghentakkan sebelah kakinya pelan, persis seperti apa yang diajarkan oleh Jean.
Ana terdiam, tentu saja wanita itu langsung menuruti permintaan Roxynya tersayang, dan tentu saja mereka semua tidak diizinkan untuk tidur di kasur karena alasan sempit, dan akhirnya para pria itu hanya tidur di sofa, kecuali Erox yang diperbolehkan untuk tidur di kasur bersama Ana.
__ADS_1
"Ternyata bener ya, dunia hanya milik si tampan, yang lain cuma ngontrak," Ucap Jean yang merasa diperlakukan tidak adil bersama teman-temannya.