
Mata hari telah tenggelam, dan bulan pun menerangi malam dengan bintang-bintang kecil yang bertaburan menghiasi langit. Arga, pria berambut hitam itu kini sedang bermain bersama si kembar di kamar ibunya.
Di siang hari, si kembar akan diletakkan di kamar khusus yang dipersiapkan dengan penuh ketelitian oleh Ana, sebagai tempat bermain dan tidur siang mereka bersama Baby Sitternya , sedangkan di malam hari, si kembar akan tidur bersama Ana, karena, Baby Sitter mereka juga membutuhkan istirahat.
"Ma, gimana kalo si kembar gak usah jadi adik kita?" Pinta Arga kepada ibunya itu.
Ana mengerutkan dahinya bingung? Jika anak-anaknya itu tidak ingin si kembar menjadi adik mereka, lalu, mengapa mereka melarangnya untuk mengantar kedua bayi itu ke panti asuhan?.
"Maksudnya? Kalian mau mereka diantar ke panti asuhan lagi?" Tanya Ana kebingungan dengan ucapan ambigu putranya itu.
"Bukan gitu Ma, kita maunya jadi om mereka, dan Arga pengen dipanggil papa sama mereka," Jawab pria itu dengan jujur mengatakan maksudnya.
untuk kedua kalinya Ana kembali mengerutkan dahinya mendengar ucapan putranya itu, ingin dipanggil papa? yang benar saja? bagaimana bisa pria itu berpikir demikian?.
"Ha? Apa? Mau dipanggil papa? Umur kamu berapa sih? Mau sok-sokan dipanggil papa? Yang bener aja, pipis aja belum lurus, mau sok-sokan dipanggil papa!" Kekeh Ana bercanda dengan menyentil dahinya putranya itu.
Arga menggembungkan pipinya kesal, pria itu serius dengan permintaannya, ia benar-benar ingin dipanggil dengan sebutan papa oleh si kembar, namun, ibunya malah menanggapi permintaannya sebagai candaan.
"Hmph! Memangnya mama gak pengen dipanggil nenek sama si kembar? Mama 'kan pernah bilang pengen punya cucu," Ucap Arga mendengus kesal dengan pipinya yang menggembung dan mulutnya yang mengerucut, membuat dirinya benar-benar seperti kembali menjadi anak kecil dimata Ana.
"Hahaha, mama pengen sih, punya cucu, tapi Leo sama Lion memang lebih cocok jadi adik kalian, soalnya kalian masih bocil," Kekeh wanita itu lagi, kali ini sambil menarik pipi putranya gemas.
__ADS_1
"Mi! Erox laper," Ucap Erox sengaja melemparkan tubuhnya ke pelukan Ana ingin bermanja-manja dengan Mommynya itu.
"Ih! Apaan sih lo! Sana dulu woi! Gue lagi bujuk Mommy supaya kita bisa jadi om-om!" Sergah Arga menarik temannya itu untuk keluar dari pelukan ibunya.
Namun, usahanya itu sia-sia, Erox sama sekali tidak bergeming dan malah tersenyum miring meremehkan pria berambut hitam yang berusaha keras untuk menariknya.
"Any*ng lo Erox kampret!!!! Gue kasi tau cewek-cewek kelas kita lo tidur harus dikelonin sama Lior kalo enggak Elan!" Sarkas Arga kehilangan kesabarannya, pria itu benar-benar kesal dengan tingkah Erox sekarang.
"Apaan lo!!! Lo juga gitu ya Ga! Gue tau waktu ada petir lu ngumpet di keteknya Lior! Terus waktu liat gue nyaman tidur dipeluk sama Lior lo jadi ikutan meluk Lior kan? Ngaku lo!" Balas Erox bangkit dari pelukan Ana membalas ucapan Arga karena tidak terima jika hanya aibnya yang dibongkar oleh pria itu.
Lior membulatkan matanya tidak percaya dengan apa saja yang telah terjadi padanya selama ini, pria itu memang dengan sengaja memeluk Erox saat tertidur karena pria berambut kemerahan itu selalu merengek karena mimpi buruk saat tidur tanpa dipeluk oleh seseorang.
Tapi, Arga? Lior tidak menyangka bahwa temannya itu takut petir hingga dapat bersembunyi di bawah, ketiaknya? Yang benar saja? Ini hanyalah candaan bukan?.
"Eh? Masa sih? 'Mangnya gue beneran 'gitu?" Tanya Arga tidak menyadari apa yang dirinya lakukan sendiri.
Erox mengangguk yakin, ia memang selalu melihat Arga yang akan langsung memeluk Lior saat mendengar petir dalam tidurnya, namun Erox juga tidak tahu apakah pria itu melakukannya secara sadar atau tidak, tetapi, jika melihat reaksi pria itu saat ini, tampaknya Arga benar-benar tidak menyadari apa yang telah dilakukannya.
"Sumpah? Ih, ketek Lior udah ternodai, eh, tapi gimana rasanya nyium ketek Lior sepanjang malam Ga?" Tanya Jean yang sedari sibuk bermain dengan si kembar kini ikut angkat bicara.
"Heh! Lo kira ketek tuh apaan bisa ternodai, lagian ketek gue wangi kok, selalu gue semprotin Parfume," Jawab Lior tidak terima perkara ketiaknya yang dijelek-jelekkan.
__ADS_1
Lain hal dengan Lior, Arga kini sedang bingung memikirkan penyebab dirinya yang tertidur mencari perlindungan seseorang saat mendengar petir, sedangkan ia merasa petir bukanlah hal yang ditakutinya.
Beberapa menit setelah berpikir, pikiran aneh muncul di benaknya, Arga tiba-tiba mengingat sesuatu yang pernah dikatakan guru agamanya beberapa tahun yang lalu.
"Guys, katanya, kalo kita tidur roh kita 'kan keluar dari tubuh kita, terus kalo kita mimpi ada di taman, berarti roh kita itu lagi nyasar ke taman 'kan ya? Nah, jadi kalo kita mimpi ketemu kunti? Berarti roh kita lagi ketemu kunti?" Tanya pria itu langsung dapat mengubah arah topik diantara mereka.
Keempat pria yang mendengar ucapan Arga terperanjat, jika diingat-ingat, memang ada seseorang yang pernah mengatakan hal yang sama kepada mereka, dan jika ucapan itu benar, maka selama ini mereka...
"Berarti selama ini roh gue udah ngeisekai, tapi balik lagi karena lupa bawa badan," Ucap Lior yang sangat sering bermimpi tentang anime.
"Kalo gue selalu mimpi makan makanan yang enak banget, tapi gue gak tau itu namanya apa, berarti selama ini roh gue makan sendiri," Timpal Erox yang mimpinya sudah dapat tertebak oleh keempat pria itu bahwa tentu saja Erox hanya akan menceritakan mimpinya yang satu ini.
Mendengar teman-temannya yang menceritakan mimpi mereka, Jean kini terdiam, ia tidak dapat mengingat satupun mimpinya, bahkan, pria itu tidak yakin apakah ia benar-benar pernah bermimpi di dalam tidurnya?.
"Kalo gue gak pernah mimpi, berarti roh gue kemana?" Tanya Jean kebingungan dengan wajah yang benar-benar polos mengharapkan jawaban pasti dari teman-temannya.
"Mungkin roh lo lupa bayar token listrik," Jawab Lior seadanya.
"Yan, berarti lo harus tobat, lo gak mimpi apa-apa 'kan? Cuma gelap doang 'kan? Lo bayangin tempat apa yang gelap selain alam kubur?" Jawab Arga sengaja mengusulkan temannya itu, membuat Jean yang mendengarnya langsung panik karena termakan ucapan temannya sendiri.
"Eh? Yang bener Ga? Tapi kok gue gak denger suara orang diazab ya? Terus gue 'kan selalu baca doa, tiga Qul, sama ayat kursi, jadi kok gue masih mimpi 'gitu ya?" tanya pria itu lagi membuat Arga yang sengaja mengusilinya menjadi tidak berani berkata-kata jika sudah menyangkut hal-hal tentang agama.
__ADS_1