
Matahari telah tenggelam, dan langit yang menggelap pun kini dihiasi oleh rembulan dan bintang-bintang. lampu-lampu rumah menyala terang mengusir gelapnya malam, tidak seperti yang pernah diceritakan oleh orang-orang sebelumnya, kini malam bukan lagi tempat gelap yang mengharuskanmu bersembunyi karena banyak hal buruk yang dibawanya.
Arga, pria berambut hitam itu kini sedang berdiri tegak memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin, melihat apakah pakaiannya malam ini terlihat bagus untuknya atau tidak.
"Ga, lo mau kemana?" Tanya Elan yang tidur sekamar dengan pria itu bersiap mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Oh, gue mau jalan sebentar, 'gimana bagus gak?" Jawab Arga yang lalu kembali mengajukan pertanyaan kepada Elan, untuk memastikan penampilannya.
"Hmm, bagus sih, tapi kalo lo mau ngedate, masih ada yang kurang," Ucap Elan membuka lemarinya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Nih, cowok tuh sebenarnya gak dinilai dari fisik ataupun hatinya, tapi dari dom-pet-nya, makanya Black Card lo jangan sampe ditinggal," Jelas pria itu yang sudah cukup berpengalaman karena sudah beberapa gagal dalam percintaan.
"Tapi gue bawa kartu yang biasa kok, jadi tetep ada uang," Ucap Arga tidak mengerti dengan ucapan pria di depannya itu.
"Hmm, iya, iya, intinya ini lo bawa aja, anggap aja jaga-jaga, kalo hilang masih ada satu lagi," Ucap Elan lelah mengakhiri perdebatannya dengan Arga.
...****************...
Tok Tok Tok!
Seseorang mengetuk pintu rumah Eiza, dan dengan cepat gadis itu membuka pintu rumahnya, menampilkan sosok pria berambut hitam dengan celana dan kemeja berwarna senada yang membalut rapi di tubuhnya.
Itu adalah Arga, pria yang sedari tadi ditunggu oleh gadis itu sejam beberapa jam yang lalu, padahal ini hanyalah sebuah kencan, namun, ujung jari gadis itu telah mendingin karena gugup takut melakukan kesalahan. apapun itu dan merusak kencan mereka.
"Gue, dateng kecepatan ya?" Tanya Arga setelah melihat jam tangannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Gak, kok, gue juga udah selesai dari tadi," Jawab Eiza dengan nada yang sedikit canggung, membuat pria di depannya tersenyum dan langsung menggenggam tangan gadis itu membawanya masuk ke mobil.
__ADS_1
"Sorry ya, rencananya sih tadi mau pake motor, tapi karena cuacanya agak dingin takutnya ntar hujan, jadi akhirnya kata Mama pakek mobil aja," Jelas pria itu mendekatkan tubuhnya ke Eiza untuk memakaikan sabuk pengaman.
Eiza, gadis berambut pirang itu terdiam membatu, wajahnya memerah dan jantungnya kini berdetak kencang, membuat gadis itu tidak dapat mendengar apapun selain suara detak jantungnya.
"Eh? Apa?" Tanya gadis itu beberapa detik setelah Arga selesai memasang sabuk pengamannya.
"Hhh, gapapa, lo mikirin apa sih, sampe gak denger suara gue ngomong?" Kekeh Arga menepuk pelan pucuk kepala gadis itu lalu mulai melajukan mobilnya.
"Eum, By the way, kita mau kemana?" Tanya gadis berambut pirang itu beberapa menit setelah Arga melajukan mobilnya.
Arga tersenyum, pria itu tidak percaya bahwa pacarnya itu dengan mudahnya mengikutinya sedangkan ia tidak tahu akan dibawa kemana, memang di satu sisi itu adalah hal yang menggemaskan, namun, disisi lain itu juga adalah hal yang berbahaya bila gadis itu dengan mudahnya mengikuti seseorang tanpa tahu dengan jelas akan dibawa kemana.
"Karena ini udah malem, gimana kalo Dinner?" Ucap Arga menawarkan untuk pergi makan malam kepada kekasihnya itu.
"Makan apa?" Tanya gadis itu kembali, membuat Arga mengangkat bahunya isyarat bahwa ia akan menuruti apapun permintaan gadis itu.
"Lo maunya makan apa?" Ucap Arga balik bertanya, karena ia tahu wanita adalah mahluk ciptaan Allah yang sangat sulit dimengerti dan sangat sensitif, jika keinginannya tidak dituruti dengan baik walau sedikit kesalahan saja, mereka akan menjadikan status hubunganmu dengannya sebagai jaminannya.
Inilah kalimat Legend seorang wanita apabila ditanya ingin makan apa, jawabannya pasti 'Terserah' ataupun 'Gak tau', namun, tahukah kalian? Saat sang pria merekomendasikan makanan pilihan mereka maka jawabannya adalah...
"Kalo gitu kita makan Sushi atau Steak di tempat langganan Mama ya?" Tanya Arga merekomendasikan salah satu tempat kesukaannya kepada Eiza.
"Ih, gue gak suka makanan yang mentah-mentah gitu, gak suka Steak juga," Tolak gadis itu mentah-mentah, membuat Arga menghela nafasnya karena inilah hal paling menyebalkan saat menanyakan ingin memakan apa sebagai menu dinner kepada kaum Hawa.
"Ya terus mau makan apa?" Tanya pria itu lagi masih berusaha untuk bersabar menghadapi tingkah pacarnya itu.
"Terserah," Jawab Gadis itu lagi, masih menggunakan kata menyebalkan itu sebagai jawaban.
__ADS_1
"Terserah gimana? Tadi Sushi gak mau, Steak juga gak mau, maunya apa?" Tanya Arga benar-benar berada diambang kesabarannya.
Pria itu telah memesan meja di restoran langganannya, namun, apa yang bisa ia lakukan jika gadis yang diajaknya menolak untuk makan di sana?.
"Aku pengen makan sate," Jawab gadis itu akhirnya, membuat Arga menghela nafas lega karena berhasil menahan emosinya hingga gadis itu memutuskan ingin makan apa.
"Ok, sate ya? Bentar gue pesen tempat di resto padang langganannya si Elan," Ucap Arga mengeluarkan handphonenya, namun, langsung dihentikan oleh gadis berambut pirang itu.
"Gue maunya makan sate yang dipinggir jalan!" Pinta Eiza membuat pria berambut hitam itu membulatkan matanya tidak percaya.
Yang benar saja? First Date makan sate dipinggir jalan? Dengan mobil mewah? Apa yang dipikirkan oleh gadis itu?.
"Serius? Mau makan sate dipinggir jalan? Pake mobil mewah? Gobl*k! Ntar dimahalin sama mamang satenya!" Ucap Arga menyentil kening gadisnya.
Eiza tertawa, gadis itu tidak menyangka Arga yang selalu serius dapat mengikuti leluconnya yang kaku, tunggu, itu benar-benar lelucon 'kan?.
Sayangnya, sepasang kekasih yang baru berpacaran itu benar-benar melewatkan First Datenya dengan makan sate di restoran padang langganan Elan!.
Siapa sangka sepasang kekasih yang baru beberapa hari berpacaran itu dapat dengan sangat kompak memikirkan lelucon yang sama?.
...****************...
Teater kecil Jean dan kawan-kawan!
Malam ini Arga akan pergi berkencan! Maka Jean dan ketiga temannya pun memutuskan untuk membuntuti pria itu, ini bukan mereka lakukan karena penasaran, mereka hanya khawatir temannya itu akan melenceng dan salah mengambil keputusan, karena itu mereka mengikutinya untuk berjaga-jaga.
"Hmm, bukannya ini resto biasanya kita nongki sambil makan sate?" Tanya Jean kepada Elan yang pertama kali menunjukkan tempat itu kepadanya.
__ADS_1
"Gak tau gue, tu anak siapa yang ngajarin sih? mana ada orang First Date makan sate disini," Cicit Elan yang kecewa karena perjuangannya mengganti pakaian setelah memakai piyama jadi terlihat sia-sia.
"Yaudah lah, kita makan juga yok! Belum makan malam 'kan tadi?" Ucap Lior angkat bicara mengeluarkan dompetnya untuk mentraktir teman-temannya itu.