Argeiza

Argeiza
Tragedi Tupperware


__ADS_3

Pukul 17:00, Arga dan kelima temannya kini sedang berkumpul di parkiran membahas tentang solusi dari masalah yang mereka ciptakan di jam istirahat beberapa waktu lalu.


"Gimana nih? Ini beneran punya Mommy? Kok lo bawa bekal pake Tupperwarenya Mommy?" Tanya Jean memegang tutup Tupperware yang telah pecah karena kepalanya.


"Ya, ini Tupperware yang dipake Tante buat bekal kami beberapa hari yang lalu, terus, belum sempat aku balikin, jadi, niatnya mau aku balikin hari ini, sekalian jadi wadah bekalnya Arga," Jelas Eiza menceritakan kronologi penyebab Tupperware Ana bisa ada padanya.


Arga mengangguk setuju, begitu juga dengan ketiga saksi lainnya yang dapat mengerti penjelasan gadis berambut pirang itu.


Namun, Jean masih sulit menerima kenyataan, dikarenakan, selain tutup Tupperware itu pecah karena perbuatan Arga, kepalanya juga ikut andil dalam peristiwa menggemparkan itu, jadi kemungkinan besar, ia akan mendapat hukuman setimpal dengan penyebab utama tragedi ini.


"Arkh!!!! Terus gimana dong, gara-gara lo sih! Mommy kalo marah nyeremin banget Any*ng!" Sarkas Jean terus menerus merengek tidak berani bertemu Mommynya.


"Tch! Yaudah! Kenapa kalian gak beli Tupperware yang banyak buat hadiah? Anggap aja kompensasi, daripada ngerengek di sini gak jelas, cari solusi kagak, pulang juga kagak! Udah sore nih! Gue mau cepet-cepet pulang!" Ucap Eiza meninggikan suaranya, membuat bocah-bocah bertubuh besar itu terdiam seketika.


Arga terdiam, pria itu berpikir sejenak dan mendapati ide dari gadis berambut pirang itu tidak buruk dan pantas dicoba, namun, masalahnya adalah apakah hal seperti penyuapan dapat dilakukan kepada ibunya?.


"Ya, masuk akal sih, tapi, 'mangnya bisa mempan sama Mommy?" Tanya Jean sedikit meragukan ide dari Eiza.


Arga mengangguk setuju, Jean benar, ibunya bukanlah wanita yang dapat dibujuk semudah itu, bagaimanapun juga, jika telah menyangkut Tupperwarenya, wanita itu mungkin tidak segan-segan mencoret kedua pria itu dari kartu keluarganya.


"Tapi siapa yang tau sebelum nyoba? Dulu Mommy gak gitu 'kan? Cuma semenjak perjalanan bisnis ke Indonesia dua tahun yang lalu, tiba-tiba habis perjalanan bisnis tiga bulan di Indonesia, Mommy jadi punya harta karun yang namanya Tupperware," Ucap Lior angkat bicara, berusaha meyakinkan kedua temannya itu untuk segera mengambil keputusan.


"Perjalanan bisnis?" Tanya Eiza tidak mengerti, membuat Lior tidak tahan untuk tidak menceritakan legenda asal muasal Mommynya menganggap Tupperware seperti harta karun.


"Jadi ceritanya tuh gini," Ucap pria itu duduk disalah satu sepeda motor di sampingnya, mulai bercerita.


...****************...

__ADS_1


Dua tahun yang lalu, di sebuah apartemen di Madrid-Spanyol, "Anak-anak! Besok Mommy bakal perjalanan bisnis ke Indonesia, Kampung halamannya Lany dan Roxy, mau oleh-oleh apa?" Tanya Mommy kepada anak-anaknya penuh semangat.


"Mommy Lany mau Sate!"


"Roxy mau Lontong!"


"Lior mau Rendang!"


"Jean mau Pecel!"


"Arga! Arga mau Terasi!!!"


Seluruh anak-anak mengajukan permintaannya dengan semangat kepada Mommy, mendengar permintaan anak-anaknya Mommy pun tertawa mengingat betapa polosnya anak-anaknya itu, yang meminta makanan basah sebagai oleh-oleh.


"Ok, nanti Mommy bawa bahannya, terus kita masak sama-sama ya?" Ucap Mommy tersenyum mengelus pucuk kepala anak-anaknya itu.


Namun, setelah melakukan perjalanan bisnis selama beberapa bulan, Mommy pulang tanpa membawa bahan-bahan untuk membuat makanan permintaan anak-anaknya, melainkan membawa berbagai wadah berwarna-warni yang menjadi tren ibu-ibu di negara tempatnya melakukan perjalanan bisnis.


Mommy tertegun, ia benar-benar melupakan hal terpenting dari perjalanan bisnisnya, dan hanya dapat meminta maaf kepada anak-anak.


Anak-anak yang sakit hati karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau pun mulai mengamuk dan merengek, hingga salah satu diantara mereka tidak sengaja memecahkan Tupperware milik Mommy.


"Jean!!! Kamu gak dapet jatah Puding sebulan!" Dan begitulah akhir dari Jean malang yang memecahkan Tupperware setelah dimarahi selama beberapa jam.


...****************...


"Tamat,"

__ADS_1


Ucap Lior mengakhiri ceritanya, yang disambut dengan dengan tepukan tangan oleh teman-teman yang mendengarkan ceritanya.


"Tapi, menurut gue gak dapet jatah puding sebulan itu gak terlalu berat 'kok, 'kan cuma puding?" Ucap Eiza setelah mendengar cerita singkat dari Lior.


Arga dan keempat temannya menggeleng tidak setuju dengan ucapan gadis itu, puding memang tidak seberapa, namun, mendengar ucapan yang menusuk hati selama beberapa jam adalah pelatihan mental yang sangat berat hingga dapat melukai hati seorang pria dewasa.


Disitulah kesabaran dan ketahanan kita sebagai seorang anak diuji, bahkan Arga pernah mogok makan selama beberapa hari karena sakit hati mendengar ucapan ibunya yang begitu menusuk.


"Puding memang gak seberapa, tapi kalo Mommy marah, HP dan uang jajan menjadi jaminannya, kemoceng, sendok dan semua yang perlatan rumah menjadi senjata, aib dan kesalahan lama mulai jadi kartu Asnya, gimana gak sakit hati cobak! Kepala boleh keras, tapi hati kita tuh lembut!" Jawab Jean dramatis menolak ucapan Eiza yang menganggap enteng kemarahan Mommynya.


Arga dan keempat temannya mengangguk setuju, kemarahan seorang Emak memang tidak dapat diragukan lagi tingkat mematikannya. Bahkan bila seseorang berlatih menghindari segala serangannya pun akan berujung tidak berguna, karena seorang Emak selalu memiliki tehnik baru dalam pertempurannya.


🥀🥀🥀


Pukul 18:00, Arga beserta teman-temannya memutuskan untuk pulang ke rumah setelah membeli beberapa set Tupperware baru sebagai ganti Tupperware Ana yang mereka rusak.


Dan kini adalah saat-saat penentuan apakah mereka lulus dalam tragedi huru-hara perang dunia ketiga melawan ibunya, atau terpaksa menetap dan mempertaruhkan seluruh kesiapan mentalnya dalam penyerangan sepihak yang mungkin dilakukan oleh Ana beberapa menit lagi.


"Nih, Tan, Tupperware yang kemarin Rizal pake," Ucap Rizal menyerahkan sebuah Tupperware berwarna merah muda kepada Ana.


"Oh iya, hmmm, cuma satu ya?" Tanya Ana beberapa detik setelah menerima Tupperware yang dikembalikan Rizal kepadanya.


"Oh, kemarin memang ada dua Tan, satu buat bekal Eiza, satu lagi buat Arga, yang punya Arga 'kan udah dibalikin dari semenjak kecelakaan kemarin?" Ucap Eiza sedikit menyembunyikan kebenaran dari Ana.


Ana terdiam, mungkinkah ia melupakan dimana ia meletakkan Tupperwarenya karena terlalu terburu-buru membawa putranya ke Rumah sakit?. Pikir wanita itu sedikit menimbang-nimbang ucapan gadis di depannya.


"Hmm, ya, mungkin aja sih, yaudah deh, yuk makan! Oh iya, kalian kenapa gak bilang sama Mommy mau nyusul lebih cepat?" Tanya Ana yang perhatiannya teralihkan kepada putra-putranya yang pindah ke Indonesia sedikit lebih cepat dari yang direncanakan.

__ADS_1


"Oh, masalah di Madrid udah selesai Mi, makanya kita langsung nyusul, oh iya, ini ada Tupperware buat Mommy, soalnya tadi kita ngelewatin tokonya, jadi sekalian aja deh, beli buat hadiah," Jawab Jean menyerahkan Tupperware yang dibelinya dengan senyum canggung kepada Ana.


"Eh? Tumben, 'mang kalian dari mana? Kok bisa lewatin toko Tupperware?" Tanya Ana sedikit bingung, namun, hanya dapat dijawab dengan senyum canggung oleh kelima putra kesayangannya.


__ADS_2