Argeiza

Argeiza
Mandiri


__ADS_3

Keesokan harinya, Minggu 30 Oktober 2022, karena Ana yang sedang dalam perjalanan bisnis, Arga dan keempat temannya kini diharuskan melakukan segala sesuatu sendiri, mulai dari membereskan rumah, hingga memasak.


Bukannya tidak ingin memanggil pembantu dari luar atau memanggil salah satu dari anggota keluarga mereka untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah, namun, dengan kepergian Ana, wanita itu telah membawa sebagian orang-orangnya untuk ke Meksiko, dan sebagian lagi dikirim menuju Italia.


Karena itu, sekarang anggota keluarga mereka yang berada di Indonesia hanya kurang dari seratus orang saja. Ditambah lagi, mereka telah mengurangi jumlah tenaga dengan mengambil wakil jendral mereka sebagai Baby sitter si kembar, oleh karenanya mereka tidak boleh membuat para penjaga itu lebih kesusahan lagi.


"Siapa yang masak?" Tanya Jean yang baru bangun tidur langsung mencari makanan ke dapur.


"Gue," Jawab Elan singkat sambil menyajikan menu sarapan mereka di meja makan.


Elan, pria berambut kecoklatan itu telah bangun sejak subuh untuk menyiapkan sarapan teman-temannya dan si kembar, bahkan pria itu dengan teliti memeriksa bahan makanan yang sudah tidak segar untuk segera diganti dengan yang baru oleh teman-temannya.


"Ini daftar belanjaan minggu ini, kalian beli ya? Gue yang masak," Pinta pria itu yang langsung disanggupi keempat temannya.


Arga mengangguk, lalu meminta notebook dan pulpen yang dibawa oleh Elan, untuk menulis pembagian tugas diantara mereka agar terstruktur dan tidak menciptakan perang saudara.


"Jadi, selama mama pergi, Elan jadi koki kita, terus Lior yang belanja, Jean sama Erox tukang kebun, gue beresin rumah ya?" Tanya Arga meminta persetujuan teman-temannya.


Jean menggeleng tidak terima, bagaimanapun tugasnya adalah yang terberat diantara mereka, bagaimana caranya merawat kebun yang berhektar-hektar hanya dengan bantuan Erox?.


"Masa Lior tugasnya cuma belanja, terus si Elan 'kan cuma masak, ya kali tugas mereka segampang itu, sedangkan gue sama Erox harus banting tulang ngerawat taman," Eluh pria itu tidak terima dengan tugas yang diberikan oleh Arga.

__ADS_1


"Enggak, nanti mereka juga beresin rumah kaca di taman belakang," Jawab Arga berhasil menyelesaikan perdebatan yang hampir saja terjadi diantara mereka.


Beberapa menit setelah sarapan, kelima remaja itu kini mulai mengerjakan tugasnya masing-masing, Lior telah pergi berbelanja, Jean dan Erox langsung menuju gudang untuk mengambil peralatan berkebun, sedangkan Arga, pria berambut hitam itu kini sedang menelfon pacarnya.


"Za? Lo bisa datang ke sini? Eum, iya gue lagi banyak kerjaan dan kalo boleh gue mau minta tolong lo buat bantuin, lo juga bisa sekalian main sama si kembar kok," Ucap Arga menelfon pacarnya diseberang sana.


Mungkin dimata orang lain pria itu terlihat seperti memanfaatkan kebaikan pacarnya demi kepentingan dirinya sendiri, namun, dimata pria itu, ia hanya memanfaatkan sumber daya manusia yang tidak dapat digunakan dengan baik oleh teman-temannya.


bukankah ada sesuatu yang wajar jika seorang manusia membutuhkan manusia lainnya untuk membantu mengerjakan pekerjaan mereka? Oleh karena itu, apa yang dilakukan Arga adalah hal yang sangat umum dimatanya.


Beberapa menit setelahnya, bel rumah berbunyi, Arga dengan segera membukakan pintu rumah untuk seorang gadis yang sedari tadi ditunggunya, dan tanpa basa basi, pria itu langsung menyerahkan sebuah Vakum Cleaner kepada gadis berambut pirang yang adalah pacarnya itu.


"Nah, karena mama lagi pergi, jadi tugas beresin rumah jadi diserahin ke gue, lo mau bantuin gue 'kan?" Ucap pria itu tersenyum hangat, membuat Eiza yang melihatnya tidak dapat menolak permintaan pria itu.


Arga terdiam, masih terlalu dini bagi gadis itu untuk mengetahui sesuatu tentang keluarganya, walau hal kecil sekalipun, itu adalah sebuah informasi yang dapat mengundang banyak masalah kedepannya. karena itu, untuk sekarang Arga hanya dapat membohongi gadisnya dengan beberapa ucapan sederhana.


"Ouh, enggak kok, 'kan ada kk Nisa yang jadi Baby sitternya si kembar? Kalo pembantu yang lain itu asistennya mama, jadi sekarang beliau lagi ikut mama keluar negeri," Sangkal Arga sengaja mengubah nama wanita yang menjaga si kembar menjadi nama umum di Indonesia, agar Eiza tidak bertanya lebih banyak.


Annisa, itu adalah nama samaran dari Carol Brittany Deaniol, seorang wakil jendral keluarga Deaniol sekaligus asisten Ana yang sudah menemani wanita itu sejak usianya masih belia hingga sekarang.


Ada beberapa alasan sehingga Ana meninggalkan asisten kepercayaannya untuk tetap tinggal di Indonesia, yaitu sebagai pemimpin yang akan mengatur berbagai masalah di kantor maupun rumah utama, sekaligus mengontrol tindakan kelima remaja yang kemungkinan besar akan menyusul mommynya ke Meksiko, dan yang paling penting adalah menjaga si kembar.

__ADS_1


Karena, jika dibiarkan bersama kelima kakaknya, kemungkinan besar kedua bayi yang masih sangat polos itu malah tumbuh sebagai mesin pembunuh di usia yang sangat belia, setidaknya mereka harus berumur lebih dari tujuh tahun untuk melakukan pekerjaan kejam itu.


"Ouh, jadi, kk Nisa tinggal di rumah ini sama kalian?" Tanya gadis berambut pirang itu lagi, sedikit mengkhawatirkan seorang wanita muda yang harus tinggal bersama lima remaja yang sedang dalam masa pubertasnya.


"Enggak, beliau tinggal di rumahnya, dan bakal datang lagi waktu pagi," Jawab Arga menggelengkan kepalanya, membuat gadis di sampingnya menghela nafas lega.


...****************...


Teater Jean dan kawan-kawan!!!!


"Ga, buat nama Carol, apa enggak terlalu melokal?" Tanya Jean mempermasalahkan nama samaran yang diberikan oleh Arga untuk Carol yang adalah teman masa kecil mereka.


Usia Carol dan kelima remaja itu memang tidak jauh berbeda, mereka hanya berbeda beberapa bulan saja, karenanya, Carol adalah salah satu teman dekat mereka, walau beberapa orang berkata bahwa tidak ada pertemanan yang benar-benar tulus diantara laki-laki dan perempuan.


Namun, kelima pria itu benar-benar tulus menganggap Carol sebagai temannya, walaupun gadis itu justru memendam rasa kepada salah satu diantara mereka.


"Melokal gimana? 'Kan Annisa, justru agak ke Arab-araban 'gitu kok namanya," Jawab Arga tidak mengerti dengan ucapan Jean yang mengkritik nama yang diberikan oleh pria itu kepada salah satu temannya.


"Iya sih, nama asli Carol lebih bagus, soalnya Carol juga orangnya agak tomboy, dan kuat banget, jadi gak cocok kalo dikasih nama Annisa, rasanya jadi terlalu lembut," Timpal Lior setuju dengan ucapan Jean yang memprotes nama buatan Arga untuk salah satu temannya.


"Tapi kayaknya Carol suka deh sama namanya, soalnya selain kuat dia juga punya jiwa keibuan yang idaman banget," Ucap Elan pada akhirnya sambil memandangi gadis yang sedari tadi mereka bicarakan sedang menyuapi si kembar makan dengan lembut.

__ADS_1


walau pemandangan indah itu langsung ternodai saat keempat pria itu mengalihkan pandangan dan mendapati Erox yang sedang asik memakan biskuit marie milik si kembar.


__ADS_2