Argeiza

Argeiza
Cindarga dan pangeran tampan


__ADS_3

Malam hari pukul 19:30, sebentar lagi adalah giliran kelas XI IPA 1 yang akan menampilkan drama mereka, Arga, pria itu telah selesai dengan kostum dan Make-upnya.


Dengan gaun penuh lubang dan tempelan, sandal Swallow, wig pirang dengan panjang sebahu, serta riasan wajahnya benar-benar membuat orang-orang pangling dan akan mengira bahwa pria itu adalah seorang gadis yang memiliki tubuh cukup tinggi.


Pfft


"Ga, dada implan lo kurang gede! tambah busa dikit lagi tuh! kalah gede sama punya gue! Hahahaha," Ucap Jean yang dengan bangga memamerkan dada implannya yang memiliki ukuran lebih besar dari Arga.


"Paan lo! Lo tuh mama tiri! Udah kendor makanya basar lo Anj*ng!" Sarkas Arga membuat semua orang yang mendengarnya tertawa geli melihat pertengkarannya dengan Jean.


"Iri? bilang tepos!!!" Balas Jean tak mau kalah, dengan sengaja mengacungkan dadanya, menunjukkan bahwa apapun yang dikatakan Arga tidak mengubah kenyataan bahwa miliknya lebih besar.


"Dada implan kok bangga! Adu roti dong! berani lo?" Tantang Arga bersiap merobek gaun yang dikenakannya.


"Hayok! Siapa takut!" Jawab Jean bersiap melakukan hal yang sama, namun langsung dicegah oleh Elan dan Lior yang melihat tatapan sinis Eiza saat kedua pria itu hendak merobek gaun yang ditempah gadis itu dengan harga mahal.


"Udah woi! kalo bajunya rusak kita drama pake baju apa!!!" Ucap Lior menahan tubuh Arga menjauh dari Jean.


"Yan! Lo jangan lasak! ntar sayap gue patah woi!!!" Timpal Elan yang menahan Jean menarik pria itu menjauh sambil tetap menjaga jarak aman agar sayap perinya tidak rusak.


...****************...


Beberapa menit setelah pertengkaran Arga dan Jean, lampu panggung menggelap tanda drama akan segera dimulai, terdengar suara seseorang yang menjadi narator membacakan cerita.


"Kami dari kelas XI IPA 1 akan membawakan sebuah drama yang berjudul, CINDARGA, kisah Cindarga sang gadis malang dengan pangeran tampan," Ucap narator yang membacakan cerita dari ruang radio.

__ADS_1


Tirai terbuka, dan lampu panggung langsung menyoroti sosok gadis berambut pirang sebahu yang sedang mengepel lantai dengan sehelai kain lusuh.


"Cindarga adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama ibu dan saudara tirinya, ibu dan saudara tiri yang iri dengan penampilannya pun selalu menyiksa dan menyuruh Cindarga untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah sendirian,"


"Cindarga! Cepat bersihkan loteng!" Titah Jean tegas begitu menghayati perannya sebagai ibu tiri.


"Cindarga! Mana pakaianku?! Bukankah kemarin kamu yang mencucinya?!" Tanya Lior yang juga cukup menghayati perannya.


"Jika kamu belum selesai membersihkan loteng dan tidak menemukan pakaian Liorena, kamu tidak akan punya jatah makan besok!" Ancam Jean menjambak rambut Arga, namun, tenaganya sedikit berlebihan hingga membuat rambut palsu Arga terangkat dan lepas dari kepalanya.


Jean panik, ia benar-benar tidak sengaja melakukan itu, para penonton terkekeh melihat para pemain yang sama-sama kaget melihat kecelakaan dalam drama itu, membuat Jean yang panik langsung memasang wig Arga walau posisinya menjadi agak miring.


"Ibu dan saudara tiri Cindarga selalu memperlakukan gadis itu seperti pembantu dan mengancam gadis malang itu, hingga, suatu hari kerajaan mengirimkan sebuah undangan pesta dansa untuk mencari pasangan sang pangeran," Ucap narator yang setelahnya disusul oleh tertutupnya tirai.


"Ibu dan saudara tiri Cindarga pun mulai bersiap-siap untuk menghadiri pesta dansa, namun, saat Cindarga mengajukan diri untuk ikut ke pesta dansa, permintaannya itu langsung ditolak oleh ibu tirinya yang kejam,"


"Ibu, saya juga ingin mengikuti pesta dansa, bisakah anda meminjamkan saya gaun yang bagus?" Tanya Arga meminta dipinjami gaun oleh Jean yang berperan sebagai ibu tirinya.


"Hmph! Beli sendiri, supaya tau harga!" Ketus Jean menolak mentah-mentah permintaan Arga, walau dengan dialog yang sedikit melenceng dari teks.


"Tapi bu, selama ini saya sudah bekerja dengan rajin, namun, gaji saya selalu anda tunda dan anda tahan, ini namanya kekerasan dalam perusahaan,"Jawab Arga yang entah bagaimana dapat menjawab ucapan Jean yang tidak ada dalam teks.


Tirai kembali tertutup, dan narator kembali membacakan jalan cerita drama ini. "Cindarga yang tidak diperbolehkan untuk datang ke pesta dansa pun menagis sedih didalam kamarnya, namun, membuat seorang peri yang baik hati tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk membantunya,"


"Simsalabim abrakadabra, kenapa kamu menagis?" Tanya Elan yang berperan menjadi ibu peri kepada Arga.

__ADS_1


"Saya ingin mengikuti pesta dansa, namun, tidak memiliki gaun yang pantas untuk dipakai di sana," Jawab Arga mengadukan keadaannya kepada Elan.


"Hohoho, jangan khawatir gadis kecil, peri yang baik hati ini akan membantumu," Ucap Elan tertawa sesuai teks, namun tawanya lebih mirip tawa seorang Santa.


Tirai kembali tertutup dan narator kembali membacakan teksnya, "Ibu peri pun membacakan mantranya, dan dalam sekejap gaun usang Cindarga berubah menjadi gaun mewah, dengan sepasang sepatu kaca di kaki mungilnya, dan sebuah kereta kuda yang siap mengantarnya ke pesta,"


"Namun, ibu peri berpesan bahwa ia harus kembali sebelum jam 24:00, karena semua pemberiannya akan menghilang tepat saat bulan berasal pada puncak tertingginya, dan akhirnya Cindarga pun pergi ke pesta dengan perasaan senang," Jelas narator yang kemudian disusul terbukanya kembali tirai panggung.


"Pangeran, Aku telah mengundang berbagai gadis cantik di seluruh pelosok negri, maka dari itu pilihlah salah satu diantara mereka yang paling kau sukai," Ucap Axel yang berperan sebagai raja sekaligus ayah sang pangeran.


"Oh, aku tidak tertarik dengan gadis manapun," Ucap Erox yang berperan sebagai pangeran menolak mentah-mentah tawaran Axel, hingga Arga datang.


"Apakah kau membawa makanan enak?" Tanya Erox kepada Arga yang berperan menjadi Cindarga, benar-benar melenceng dari teks drama, namun Arga telah menebak kejadian ini dan telah menyiapkan sate padang disaku gaunnya untuk diberikan kepada Erox, dan drama pun masih dapat dilanjutkan.


"Waktu berlalu dengan cepat, dan tidak terasa beberapa detik lagi jarum jam akan berada tepat pada pukul 24:00, Cindarga pun langsung berlari keluar dari istana tanpa sempat memberikan satu tusuk sate terakhir kepada pangeran,"


"Pangeran yang tidak rela, langsung mengejar Cindarga yang berlari meninggalkannya, namun gadis itu berlari terlalu cepat, dan hanya meninggal sebelah sepatu kacanya di teras istana, keesokan harinya pencarian besar-besaran pun dilakukan pihak istana untuk mencari Cindarga, dan akhirnya mereka menemukan gadis itu,"


"Jadi, kamu pemilik sepatu kaca ini?" Tanya Erox kepada Arga. Arga mengangguk cepat, pria itu sudah tidak tau apa yang harus dilakukannya karena teks drama sudah jauh melenceng dari apa yang ia hapal.


"Mari kita buat kesepakatan," Tawar Erox dengan wajah serius, membuat gadis palsu di depannya bertanya-tanya kesepakatan apa yang ingin ditawarkan pria itu kepadanya.


"Aku akan mengembalikan sepatu ini kepadamu, namun, kamu harus menjadi Koki pribadiku," Ucap Erox yang langsung dijawab anggukan oleh Arga yang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa selain menganggukkan kepalanya.


"Dan begitulah pangeran yang tergila-gila dengan rasa sate yang diberikan Cindarga membuat gadis itu berhasil menaikkan statusnya dengan menjadi Koki pribadi seorang pangeran, dan pangeran pun berhasil mendapatkan Koki terbaik impiannya,"

__ADS_1


"Sekian dari kami, terimakasih dan mohon maaf apabila banyak kesalahan dan kekurangan di sana-sini," Ucap narator mengakhiri drama berjudul 'Cindarga dan pangeran tampan' yang dibawakan oleh kelas XI IPA 1.


__ADS_2