
Eiza, gadis berambut pirang itu berjalan dengan tegas membawa keluar temannya dari kerumunan gadis-gadis yang sedari tadi mengajukan berbagai pertanyaan dengan nada mencibirnya.
Elda bungkam, gadis itu baru pertama kali melihat sosok Eiza yang semarah ini, biasanya gadis itu hanya akan terdiam dan menerima semua hinaan yang dilontarkan kepadanya, namun, entah mengapa, hari ini gadis itu tampil dengan berani melawan balik berbagai hinaan kepadanya hanya dengan sebuah kalimat singkat yang benar-benar tepat sasaran menusuk hati orang yang mendengarnya.
"Sorry ya? Gara-gara gue lo jadi digangguin cewek-cewek tadi?" Ucap gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan tersenyum canggung.
Elda menggeleng, itu sama sekali bukan salah Eiza, bagaimanapun juga, pasti ada banyak orang-orang diluar sana yang tidak menyukaimu, karenanya, sebaik apapun dirimu, akan ada saja orang yang tidak menyukaimu.
Bukankah semakin tinggi sebuah pohon akan semakin kencang angin yang menerpanya? Karena itu, bukankah wajar saja jika semakin baik dirimu, akan semakin banyak orang yang merasa iri dan tidak menyukaimu?.
Namun, semakin tinggi sebuah pohon juga akan semakin banyak buah dan burung-burung yang tinggal di dahannya, karena, semua hal di dunia ini pasti memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri.
"Santai aja, gue udah biasa kok, tapi..." jawab Elda menggantung kalimatnya.
"Lo beneran punya bayi?" Tanya gadis itu sebisa mungkin menggunakan nada dan memilih kalimat yang tidak akan menyinggung perasaan gadis di depannya.
Eiza menggeleng dan tersenyum kecil, gadis itu memang sedikit tersinggung karena merasa bahwa bahkan temannya sendiri tidak dapat mempercayainya, namun, gadis itu langsung membuang perasaan itu.
Karena, jika ia berada di posisi Elda, ia juga pasti akan merasa bingung dan sedikit waspada jika seorang wanita yang sudah memiliki bayi mendekati kakaknya, karena itu, gadis itu hanya menggeleng dan tersenyum, bukannya menuntut Elda untuk seratus persen percaya padanya.
"Enggak, itu bayi yang gue dan Arga temuin, mungkin lo gak bakal percaya, tapi walau lo tanya ke tante Ana pun, beliau bakal jawab hal yang sama, karena gue sama sekali gak bohong," Jawab Eiza tersenyum kecil, dan perlahan melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas untuk makan siang.
Elda tersenyum, mungkin hal ini memang sulit untuk di percaya, bagaimana bisa ada seseorang yang membuang bayinya di daerah ini? Bahkan jika memang benar sekalipun, bukankah akan lebih meyakinkan jika orang-orang di daerah setempat yang menemukannya?.
Namun, walau dengan alasan yang tidak masuk akan ini pun, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Elda mempercayainya, karena, gadis itu berani membawa nama Ana dalam penjelasannya, maka, tidak mungkin gadis itu berbohong, dan jika gadis itu berbohong dengan menjual nama Ana sekalipun, tentu saja hidupnya tidak akan semudah ini lagi.
__ADS_1
"Gue percaya kok, soalnya lo berani bawa nama tante," Ucap Elda jujur dengan alasannya mempercayai gadis itu.
Eiza mengerutkan dahinya bingung, apa hubungannya Ana dengan ucapannya? Dan bagaimana bisa gadis itu langsung mempercayai ucapannya setelah mendengar gadis itu menyebut nama Ana sebagai jaminan? Apakah Elda selama ini non muslim?.
Akan wajar jika seseorang mempercayai ucapan orang lain saat mereka menjamin ucapannya dengan nama Allah, atau Tuhan mereka masing-masing, namun, bagaimana bisa Elda mempercayai ucapannya hanya karena ia menyebut nama Ana?.
"Maksudnya?" Tanya Elda yang untuk kedua kalinya kembali memiringkan kepalanya bingung.
Elda menggeleng, lalu tersenyum kecil sembari mempercepat langkahnya menuju kelas Eiza, gadis itu tidak berhak untuk memberi tahu orang luar tentang keluarga sepupunya, karena, bahkan dirinya pun tidak berada diposisi sepenting itu untuk mengetahui segala hal tentang keluarga Deaniol.
...****************...
Pukul 17:07, Eiza kini telah sampai dengan selamat di rumah keluarga Arga bersama Elda dan kelima pria pemilik rumah itu.
Perlahan ketujuh remaja itu berjalan se senyap mungkin agar tidak mengganggu bayi-bayi yang kemungkinan besar sedang tidur, karena kebiasaannya si kembar akan tertidur pukul 15:00 dan akan bangun sekitar pukul 17:00 atau bahkan pukul 18:00 tergantung rasa lapar, dan rasa nyaman mereka.
Arga menggeleng, terkadang si kembar akan terbangun saat merasa lapar atau terganggu karena sesuatu, namun, mereka memang lebih sering tertidur, biasanya mereka bisa tidur hingga 16 jam sehari, walau terkesan sangat banyak untuk orang dewasa, namun, menurut Ana itu hal yang normal.
"Enggak, biasanya mereka bangun waktu laper, atau waktu pokoknya gak nyaman," Jawab Arga mengelus lembut pucuk kepala si kembar dengan telunjuknya.
Lain hal dengan Eiza yang terus memberikan pertanyaan tentang apa saja yang dilakukan oleh si kembar, Elda tampak sangat penasaran dengan mahluk mungil di depannya itu.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat bayi sekecil itu secara langsung, biasanya Elda hanya melihat bayi yang sudah berumur beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun yang menjadi tetangganya.
"Gak mau pegang?" Tanya Erox yang kelihatan sangat bangga saat jari telunjuknya digenggam oleh tangan kecil Lion.
__ADS_1
Elda mengangguk, gadis itu tampak ragu-ragu untuk menyentuh tangan mungil Leo, namun, perasaan itu langsung menghilang saat sesuatu yang kecil dan lembut menggenggam jari telunjuknya.
Plak!
Lior menggeplak kepala Erox yang dengan mudahnya melepas sarung tangan si kembar, diumur semuda ini, si kembar lebih sensitif, karena itu mereka akan mudah masuk angin jika merasakan dingin, dan tindakan Erox yang dengan sengaja membuka sarung tangan mereka hanya untuk pamer tentu saja tidak dapat dibenarkan.
"Jangan dibuka! Mereka bisa sakit karena masuk angin," Ucap Lior memasang kembali sarung tangan keponakannya yang dibuka oleh Erox.
Erox mengerucut bibirnya kesal, menurutnya udara saat ini sama sekali tidak sejuk, apa lagi Ana telah memasang penghangat ruangan di kamar bayi yang khusus dibuat untuk si kembar, padahal di Indonesia sangat jarang ada orang yang memasang penghangat ruangan.
"Tapi ini 'kan gak dingin," Gumam pria itu mengelus kepalanya yang terasa sakit karena baru saja dipukul oleh Lior.
"Gak dingin pantatmu, beda ya, kulit lo sama kulit bayi itu beda, bagi lo gak dingin, bagi bayi itu dingin," Jelas Lior, namun, masih tidak dapat diterima oleh pria berambut kemerahan itu.
...****************...
Teater kecil Jean dan Kawan-kawan!!!
"Kata Mommy si kembar tidur 16 jam sehari ya?" Tanya Jean tampak kewalahan mengerjakan PR dengan tangan hanya menggunakan tangan kanannya, sedangkan telunjuk kirinya di pegang oleh Leo.
"Iya," Jawab Lior singkat, sedang fokus dengan PR fisikanya.
Jean bungkam, suasana diantara mereka sangat senyap, baru kali ini teater mereka tampak tidak memiliki semangat sama sekali.
"Yer, lo seserius itu, lo ngerti?" Tanya Jean yang sudah menyerah dengan PR fisikanya.
__ADS_1
Lior tersenyum, itu adalah senyum pahit plus getir yang diberi hiasan topping depresi untuk menggambarkan pikirannya saat ini. Namun, itu adalah hak yang cukup wajar bagi beberapa orang untuk memiliki kelemahan di beberapa bidang, terutama Matematika, Fisika, dan berbagai pelajaran menyenangkan lainnya.