Argeiza

Argeiza
Pertanyaan


__ADS_3

"Chess of destruction?" Arga membulatkan matanya tidak percaya, pria itu tidak mengerti mengapa ibunya harus melakukan permainan berbahaya itu sedangkan ia mengatakan hanya pergi untuk menyelesaikan beberapa masalah bisnis?.


Bisnis apa yang sebenarnya dilakukannya hingga harus terlibat dalam permainan gila itu? Dan kenapa permainan gila yang menjerat ibunya harus Chess of destruction? Bukankah ada banyak permainan lainnya yang tidak melibatkan nyawa pemainnya? Lalu, mengapa harus memilih permainan itu?.


"Mungkin kalian khawatir tentang ini, tapi gue gak punya waktu buat nenangin kalian, permainannya dimulai empat hari lagi, dan butuh setidaknya tiga hari buat di nyusul bu bos, jadi, jaga diri kalian baik-baik," Pesan Carol bersiap-siap untuk segera pergi, namun, Arga langsung menghentikannya.


"Jadi, kenapa semua anggota keluarga kita dibawa? Bukannya cuma butuh 16 orang sebagai bidak catur, dan lo sebagai asisten mama?" Tanya pria berambut hitam itu menatap tajam Carol dan tanpa sadar menggenggam pergelangan tangan gadis itu terlalu kuat karena mencoba menahan emosinya yang hampir meluap.


"Ada peraturan yang sedikit diubah, Chess of destruction tahun ini benar-benar menjadi catur yang membawa kehancuran bagi para pemainnya, sekarang, satu bidak yang gugur, juga membawa nyawa seratus anggota lainnya untuk ikut meninggalkan dunia bersamanya,"


"Dan disaat rajanya telah gugur, semua anggota, kecuali sangat asisten akan ikut gugur mendampinginya, jadi, semua penderitaan, rasa sakit, dan tangisan kematian pada hari itu seluruhnya akan dilimpahkan kepada sang asisten untuk menebus dosanya yang berhasil mempertahankan nyawanya sendiri," Jawab Carol tersenyum getir membalas tatapan pria di depannya.


Itu adalah hal yang sangat kejam membiarkan seorang asisten pemimpin sebuah keluarga besar untuk menanggung semua emosi yang tercampur aduk setelah kematian tuan dan seluruh anggota keluarga yang dilayaninya.


Namun, orang yang mengubah peraturan permainan itu justru berpikir berbeda, saat seseorang menanyakan betapa kejamnya aturan baru yang ditetapkannya, ia dapat menyangkal semua kecaman itu hanya dengan mengatakan bahwa ia sudah cukup berbaik hati karena tidak membuat peraturan yang mengharuskan sangat asisten yang membunuh pemimpin keluarganya sendiri.


"Jangan khawatir, gue yakin mommy kalian pasti punya rencananya sendiri, dan yang ikut ke Meksiko cuma anggota inti yang dipimpin tente Ana kok, karena anggota dibawah kepemimpinan kalian masih muda dan tante bilang, mereka berhak bahagia,"

__ADS_1


"Jadi, dengerin kata tante buat tinggal di sini, dan do'ain kami semua pulang tanpa kurang apapun ok?" Tambah gadis itu masih dengan senyuman yang sama.


Getir, sudut bibirnya mungkin tersenyum lebar seakan ia percaya diri dengan apa yang dikatakannya, namun, tidak dengan matanya, cahaya matanya telah meredup, karena gadis itu tahu, apapun yang terjadi ia tetap akan kehilangan ratusan keluarganya yang sangat berharga.


Para orang dewasa di anggota inti yang dipimpin oleh Ana adalah orang-orang yang sudah seperti sosok orang tua lainnya bagi kelima pria itu, pria-pria di sana selalu melatih mereka dengan keras, namun juga berhati-hati agar mereka tidak terluka lebih dari yang seharusnya.


Sedangkan para wanita di sana selalu melatih mereka dengan lembut, walau terkadang ucapan mereka lebih menyakitkan dari luka-luka yang didapatkan dari latihan bersama para pria, dan itulah yang membuat mereka sangat berharga.


Kenangan, kebersamaan, kehangatan keluarga, bagaimana bisa mereka diam saja saat semua itu hendak direnggut darinya? Bertahun-tahun telah berlalu sejak mereka bersama, dan apakah mereka harus diam saat semua itu akan menghilang dalam tempo beberapa hari saja?.


"Pulang? Lo nyuruh kami pulang? Gimana kami bisa pulang sedangkan kami belum tentu bisa liat kalian lagi?!!!" Tanya Arga dengan suara lirih yang kemudian menaikkan suaranya akhir kalimatnya.


"Gimana Rel?! Kasi tau gue gimana bisa kami pulang sedangkan tau kalian mungkin gak bakal balik lagi?!!!!"


"Kenapa Rel? Kami tau mommy bakal mempertaruhkan semuanya, tapi, kami gak boleh ngapa-ngapain?!!! Kalau yang bertaruh cuma divisi yang kami pegang, mommy pasti gapapa, kalo kami ke sana sekarang buat gantiin mommy, beliau pasti gak 'papa,"


"Padahal jalan keluarnya segampang itu, tapi, kami gak boleh ke sana?!!! Kenapa kalian harus misahin orang tua dari anak-anaknya?!!! Kami udah bukan anak kecil yang harus selalu di jaga!!!!"

__ADS_1


"Hal yang belum terjadi gak pantas buat ditangisi, gimanapun juga kita masih terlalu lemah buat berlagak sok heroik dengan muncul di depan mommy dan malah nambah beban beliau, makanya kita terus berusaha buat tambah kuat 'kan? Setidaknya itu yang harus kita lakuin buat ngelindungin orang-orang yang berharga buat kita," Ucap Lior menghentikan tindakan teman-temannya yang hanya dapat mengeluh sedangkan mereka tahu bahwa hal itu tidak berguna sama sekali.


"Kita lemah, makanya mommy bersikeras buat melindungi kita, selain itu, kalau semuanya hancur di sini, gak akan adalah lagi nama Deaniol di dunia ini, bahkan si kembar yang gak sangkut pautnya dengan ini semua pun bakal ikut terseret arus yang kita buat," Tambahnya lagi membuat keempat temannya kembali tenang berusaha meredam semua emosi mereka.


Pria berambut pirang itu menghela nafas panjang melihat teman-temannya yang sudah kembali tenang, ia tahu betul apa yang dirasakan oleh mereka, karena ia juga merasakan hal yang sama, namun, pria itu harus tetap tegar, mengingat selain Jean, dirinyalah sosok tertua diantara mereka.


Bukankah sudah menjadi tugas seorang kakak untuk menenangkan adik-adiknya yang sedang menangis, karena jika sang kakak tidak melakukannya, ibu mereka akan sangat kerepotan.


Menjadi seorang kakak bukanlah hal yang mudah, terkadang orang tuamu akan lebih banyak melakukan kesalahan dalam mendidikmu hingga sedikit terlalu keras karena bisa dikatakan mereka masih belum memiliki banyak pengalaman tentang itu.


Seorang kakak harus bersedia menjadikan bahunya sebagai sandaran adik-adiknya, bahkan tidak jarang seorang kakak juga harus ikut memikul sedikit beban orang tuanya karena merekalah tempat bagi sang ibu/ayah bercerita.


Mungkin terlihat sepele, karena itu hanya sekedar mendengar keluh kesah orang tuamu yang sudah lelah bekerja, namun, tahukah kamu, bahwa setelah ia mendengarnya ia tidak akan menganggap ucapan itu sebagai angin yang lalu, melainkan ia juga ikut berpikir bahkan mengorbankan waktu dan dirinya sendiri untuk meringankan beban-beban itu.


Dan lihatlah mereka, mereka tetap tersenyum, dan berusaha membahagiakan dirinya sendiri walau hanya lewat mimpi dan berbagai karakter fiksi yang menemaninya, berharap suatu saat nanti memiliki keluarga serupa, dapat bahagia seperti tokoh favoritnya.


Dan disaat ia telah bangun dari tidurnya, ia akan tersenyum menatap pantulan dirinya, bahwa jika ia berusaha sedikit lebih keras lagi, maka ia pasti dapat mencapai itu semua dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.

__ADS_1


Jangan paksakan dirimu cantik, ada banyak teman-teman kita yang telah mengundurkan diri dari tugasnya.


Sebuah pohon tidak hanya memberikan buahnya, juga ada waktu dimana ia harus menggugurkan daunnya yang telah kering. Namun, ini bukan tentang pohon:)


__ADS_2