ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Pesan dari Ibu


__ADS_3

Malam itu Nora di buat terngiang ngiang dengan ucapan Denis yang membuatnya masih tidak percaya bahwa Denis ingin punya hubungan serius dengannya. Akan tetapi lain halnya dengan Denis yang kini justru sedang heran pada dirinya sendiri bersama Joni teman sepermainannya.


"Apa? Kamu bilang kamu mau serius sama anak dari kampung itu? " tanya Joni heran.


"Iya bro. Aku sendiri juga heran dengan diriku sendiri." jawab Denis.


"Untung aja kamu nggak di kawinin sama Nora malam ini juga, parah banget! " sahut Joni yang tidak habis pikir dengan apa yang di katakan sahabatnya.


"Gila, ya nggak mungkin lah. Kita kan masih sekolah? " Denis menyangkal.


"Kali aja, lagian Bapak Bapak itu radak miring kali ya. Masak anak masih ingusan kok di tanyain kayak gitu? Kalau misalnya beneran kawin, emang mau di kasih makan apa? Orang kerja aja belum. Hadew, repot deh ngelawan orang kampung! " cecar Joni.


"Tau ah , bodoh amat! Yang penting sekarang nilai semua mata pelajaran ku aman karena ada Nora di sampingmu. " cerocos Denis tanpa dosa.


"Astaga, jadi karena itu kamu berani berkata bahwa kamu akan serius sama dia? " tanya Joni sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ya iya lah, terus alasan apa lagi emang nya? " sahut Denis dengan santai.


Percakapan keduanya berakhir ketika hari sudah mulai larut. Denis pulang dari rumah sahabatnya itu dan segera beristirahat karena keesokkan pagi dia ada janji dengan Nora.


Keesokkan paginya, Nora sudah bangun dan selesai membersihkan diri. Saat itu dia tengah sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan untuk pergi bersama Denis. Tentu saja Nora merasa gugup dan ingin tampil beda karena itu adalah pengalaman pertamanya di ajak jalan oleh anak laki-laki.


Sudah beberapa stel baju yang dia keluarkan dari lemari tetapi belum ada yang cocok. Hingga akhirnya pilihannya tertuju pada celana jeans panjang dan kaos longgar berwarna pink yang cocok dengan warna kulitnya. Nora memang tidak pernah memakai pakaian yang ketat dan modis, tetapi kecantikan alaminya tetap terpancar meski dia berpenampilan sederhana.


Usai mengenakan pakaiannya, kini Nora duduk di depan cermin untuk berhias. Berhias? Tidak, sepertinya kurang tepat karena Nora tidak pernah menggunakan peralatan tata rias yang lengkap. Dia hanya memakai bedak tipis serta di lengkapi memakai lipstik warna bibir dengan tipis pula.


Soal rambut, Nora sering mengurai nya. Rambut hitam panjang dan lurus bak gadis Jepang itu mempunyai saya tarik alami yang di miliki oleh Nora. Kini dia sudah merasa maksimal dalam berpenampilan dan berharap Denia akan menyukainya.


"Ah ibu, " Nora tersipu malu mendengar pujian dari Ibunya.


"Iya benar, hari ini kamu cantik sekali. Mau kemana nak?" tanya Ibu Nora.

__ADS_1


"Emm, mau jalan jalan Bu." jawab Nora sembari menyingkap rambutnya sendiri ke belakang.


"Sama Denis?" tanya Ibu Nora dan Nora pun mengangguk.


"Hati hati Nora, kamu baru saja mengenal kehidupan dan pergaulan di kota. Jaga diri baik baik, meskipun Denis sudah bilang ingin serius sama kamu, tapi Ibu harap tetap bisa menjaga batasan batasan. " pesan Ibu Nora kepada kepada putrinya


"Iya Bu, Nora akan selalu ingat pesan Ibu." jawab Nora dengan senyum yang terukir di bibir.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Nora sudah siap menanti kedatangan Denis. Sementara Denis sendiri masih nampak santai pada pukul itu sembari memainkan ponselnya.


Karena merasa terlalu lama menunggu, Nora pun mengirim chat kepada Denis.


"Berangkat jam berapa? Aku sudah siap menunggu di depan."


Glek!

__ADS_1


Denis susah payah menelan saliva usai dia baca pesan tersebut. Yang menjadi bayangan utamanya adalah Bapak Nora yang pasti akan naik pitam jika melihat putrinya terlalu lama menunggu. Padahal semalam Denis hanya mengatakan untuk mengajak main keluar tanpa menyebutkan waktunya, dan tidak dia duga jika pada pukul delapan pagi itu Nora sudah menunggunya.


"Busyet, jam segini mau jalan kemana? Mall juga belum buka. Masak iya mau aku bawa Nora ke pasar sayur? Haduh.. ada ada aja nih cewek kampung!" Denis menggerutu sembari menghembusnya nafas dengan kasar.


__ADS_2