ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Lima detik


__ADS_3

Denis segera beranjak dari tempat tidurnya lalu segera mandi dan bersiap siap menjemput Nora.


Dia sendiri belum tahu akan membawa Nora pergi kemana, karena saat dia mengajak Nora, dia hanya asal bicara saja.


Di lain tempat tepatnya di depan rumah Nora, terjadi percakapan antara Nora dan Pak Surya.


"Kamu nungguin Denis? Memangnya mau pergi kemana?" tanya Pak Surya kepada putrinya.


"Iya Pak, pergi dengan Denis tapi nggak tau mau kemana? Mungkin jalan jalan aja muter muter." jawab Nora.


"Apa kamu benar benar menyukainya? " tanya Bapaknya lagi.


Nora tidak langsung menjawab, dia justru menundukkan kepala karena malu untuk menjawab pertanyaan Bapaknya.


"Pesan Bapak, jangan terlalu menyukainya. Cukup dia saja yang menyukaimu dengan sangat. Karena dengan begitu, dia akan berjuang untukmu. Tetapi jika kamu yang terlalu menyukainya, nanti apabila kenyataannya dia berpaling, kamu pasti akan sangat hancur dan Bapak tidak mau melihat itu." tukas Pak Surya.


"Iya Pak, " jawab Nora dengan patuh meski sebenarnya dia tidak yakin bisa mengendalikan perasaannya. Bahkan saat itu Nora sudah benar benar terperdaya oleh Denis.

__ADS_1


Setelah hampir enam puluh menit bicara di teras rumah, Pak Surya kembali bertanya tentang Denis.


"Kenapa dia lama sekali? Jangan jangan dia membohongimu?"


"Emm, enggak Pak." jawab Nora dengan ragu, karena dia juga takut jika benar Denis telah berbohong. Jika hal itu terjadi, Pak Surya pasti tidak akan memberi kepercayaan kepada mereka lagi.


"Buktinya? sudah hampir satu jam dia tidak datang juga." sahut Pak Surya.


Nora tidak bisa menjawab, dia sendiri juga bingung. Dia berharap Denis akan segera datang agar kecurigaan Bapaknya itu hilang.


Waktu terus berjalan hingga menit yang di tambahkan oleh Pak Surya sudah mau habis.


"Ini kita sudah menunggu lagi selama dua puluh lima menit. Jika dalam lima menit lagi dia tidak muncul, jangan berharap kalian bisa keluar bersama! " ujar Pak Surya dengan wajah yang sangat.


Kekhawatiran Nora semakin bertambah di iringi dengan bertambahnya detik demi detik waktu pada jam tersebut. Berulang ulang dia mengirim pesan kepada Denis tetapi tidak terbalas karena rupanya ponsel Denis ketinggalan di kamar. Melihat waktu yang semakin molor, Pak Surya pun akhirnya memutuskan.


"Bapak hitung mundur dari sepuluh, jika dia tidak datang, maka buyar! Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima... "

__ADS_1


Tin.. tin...


Terdengar suara klakson mobil berbunyi dengan kerasnya di halaman rumah Nora yang seketika membuat senyum Nora merekah karena itu adalah mobil Denis.


"Denis? Itu Pak Denis datang... " seru Nora kepada Pak Surya.


"Untung aja masih sisa lima detik! " sahut Pak Surya dan tak lama kemudian beliau masuk ke dalam rumah setelah Nora berpamitan padanya.


"Maaf ya, nunggu nya lama." ucap Denis sebelum Nora keburu marah.


"Ah, nggak apa apa. Cuma nunggu sebentar. Tadi aku chat kamu tapi nggak kamu balas." Ketika Nira membahas tentang chat, Denis baru sadar jika ponselnya ketinggalan.


"Astaga, ponselku ketinggalan! " seru Denis sembari menepuk jidatnya.


"Benarkah? Terus gimana? Apa kamu ambil dulu ke rumah kamu? " Nora pun ikut panik.


"Tidak perlu! Biarin aja ponselnya yang ketinggalan, asal bukan kamu saja yang tertinggal... " jawab Denis seraya mencolek dagu Nora hingga membuat gadis itu tersipu malu dengan pipi yang merona.

__ADS_1


__ADS_2