ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Pujian


__ADS_3

Malam itu Nora sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Denis esok hari ketika di sekolah. Sebenarnya, dia bukan hany penasaran dengan reaksi Denis saja, tetapi juga teman teman sekolahnya.


Malam pun telah berlalu dan pagi sudah menjelang. Pagi itu Nora bangun lebih awal dan bergegas untuk mandi. Rupanya, bukan cuma penampilan rambut dan wajah Nora yang beda, tetapi juga pada cara berpakaiannya. Kemaren sore, usai pergi dari salon, Nora meminta beli seragam baru kepada Bapaknya. Dan kali ini, penampilan Nora benar benar berubah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari model rambut, seragam, tas bahkan sepatu. Semuanya beda dari biasanya.


Gadis itu memutar mutar kan tubuhnya di depan cermin, perubahan penampilannya itu niatnya semata mata untuk membuat Denis senang karena dia tidak ingin kekasihnya itu merasa malu dengan penampilannya. Ketika dia sedang merapikan kembali rambutnya, terdengar pintu kamar di ketuk.


Tok...tok...tok...


"Nora, ayo kita sarapan. Pagi ini Bapak berangkat lebih awal." Panggil Bu Iin dari balik pintu.

__ADS_1


"Iya Bu. Nora akan segera keluar." Jawab Nora seraya memasukkan lipstik warna bibir ke dalam tasnya. Tak lama kemudian, Nora sudah duduk di sebelah Tuan Surya untuk menikmati sarapan bersama.


"Cantiknya putri Bapak, baunya wangi lagi." Nora di puji oleh Bapaknya.


"Ah Bapak, masak sih Nora cantik?" Tanya Nora meyakinkan.


"Iya, kamu cantik. Benar kan Bu?" Tanya Tuan Surya kepada istrinya.


Tepat pada pukul setengah tujuh pagi, Nora sudah tiba di depan gerbang sekolah karena pagi itu Bapaknya berangkat kerja lebih awal sehingga Nora pun juga ikut pergi ke sekolah lebih awal. Dengan hati berdebar debar, Nora mulai melangkah ke dalam gedung sekolahnya. Ada beberapa teman yang memang tidak mengenal Nora, mereka hanya bersikap acuh. Tapi lain halnya dengan anak anak yang sudah mengenal dia. Sontak mereka tertegun dengan penampilan baru Nora.

__ADS_1


"Eh, temen temen. Lihat itu, si Nora! Hari ini penampilannya beda banget!" seru salah seorang teman Nora dari kejauhan.


"Itu siapa sih? Anak baru ya?" Ada juga yang berkomentar seperti ini.


"Astaga, Nora. Dia kok berubah cantik dan trendy begitu ya?" Yang lain juga ada yang blak blakan memuji kecantikan Nora.


Semua komentar positif itu tertangkap oleh Nora dan sempat membuat hatinya berbunga bunga. Kini tinggal Denis saja yang belum tahu akan perubahannya, karena kekasihnya itu selalu datang ketika bel hampir berbunyi.


Namun, di balik komentar positif itu, rupanya ada juga komentar negatif yang terdengar di telinga Nora.

__ADS_1


"Dih, jijik banget lihat gayanya! Ya gitu tuh, kalau orang kampung baru pindah ke kota, norak banget! Lihat aja, bentar lagi dia pasti akan bunting duluan sebelum lulus sekolah. Secara dia kan orang kampung yang kolot!"


Dari mulut siapa lagi kalimat pedas itu jika bukan dari mulut Sonia dan kawan kawannya. Tentu saja mereka iri karena penampilan mereka tersaingi oleh Nora, siswi yang awalnya mereka bully, tapi kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ingin rasanya Nora menampar mulut mereka, tetapi Nora berusaha menahan diri agar tidak menyebabkan kericuhan di sekolah.


__ADS_2