
Usai menenangkan Nora, malam itu Denis lekas mengantar Nora pulang.
"Selamat malam Om, " sapa Denis dengan ramah kepada Pak Surya, Bapaknya Nora.
"Malam, kamu teman sekolahnya Nora juga? " tanya Pak Surya.
"Iya Om, kami satu kelas. Tadi habis datang ke pesta ulang tahun teman kami. " jawab Denis.
Perbincangan singkat di depan pintu itu berlanjut ke dalam rumah.
"Mari masuk nak Denis, ada yang mau Bapak bicarakan." ucap Pak Surya dan Denis kemudian mengekor di belakang lelaki lima puluh tahun itu untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Nora justru was was dengan wejangan apa yang akan di sampaikan oleh bapaknya kepada Denis?
"Nak Denis, maaf sebelumnya. Sebelum tinggal di sini, kami tinggal di kampung. Dan selama tinggal di sana, Nora tidak pernah pergi keluar malam, ke pesta apalagi bersama anak laki laki, "
"Bapak... " Nora mendadak menyela ucapan bapaknya berharap agar wejangan itu tidak di teruskan.
"Diamlah Nora, Bapak hanya ingin bicara dengan nak Denis. " sahut Pak Surya.
__ADS_1
Nora tidak banyak melawan jika Bapaknya sedang bicara, sehingga dia langsung diam mendengar kalimat apa yang akan di sampaikan kepada Denis. Sementara Denis hanya bersikap santai tanpa merasa gugup sedikitpun karena bagi Denis datang ke rumah anak perempuan lalu bertemu dengan orang tuanya itu bukan hal yang baru.
"Nak Denis, Bapak sebenarnya tidak suka melihat Nora bergaul dengan lawan jenis apalagi sampai ganti ganti pacar yang tidak serius, karena pergaulan seperti itu hanya akan merusak pola belajarnya. Jadi Bapak mau tanya kepada nak Denis, apa tujuan kamu dekat dengan Nora? Kalau sekedar teman juga nggak masalah, tapi jangan terlalu dekat. Kecuali jika kamu memang punya niat serius sama Nora, Bapak tidak melarangnya. Tapi Bapak minta, jangan permainkan Nora dan tidak melanggar batasan batasan. "
Glek!
Mendadak Denis dibuat tercengang dengan kalimat yang di sampaikan oleh Bapak Nora, karena selama ini dia belum pernah mendapat pertanyaan serius seperti itu. Tentu saja Denis berpikir ulang untuk menjawabnya, hingga membuatnya sempat diam beberapa saat bahkan sampai Pak Surya kembali melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana nak Denis? Kalau hanya berteman, lebih baik kamu jangan berlama lama di sini. Tapi jika kamu ada niat untuk serius, kamu boleh mengenal lebih dekat."
Denis si laki laki yang biasanya petakilan itu kini di buat berkeringat dingin dengan pertanyaan yang menegangkan, hingga akhirnya dia memberi sebuah jawaban.
Degh!
Seketika Nora mengangkat pandangannya ke arah Denis dengan kedua mata yang membulat sempurna mendengar jawaban dari Denis. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa kamu bisa di percaya?" tanya Pak Surya.
__ADS_1
"Tentu Om, saya tidak bohong. Saya serius dengan Nora, dan saya akan menjaga batasan batasan saya." jawab Denis dengan yakin.
"Baiklah, terima kasih. Kalau gitu Bapak titip Nora sama kamu. Tapi jika kamu berani macam macam sama Nora, kamu tanggung sendiri akibatnya! " Pak Surya memberi peringatan keras kepada Denis.
Usai bercengkerama selama sekitar satu jam, Denis berpamitan. Nora mengantar Denis hingga ke halaman rumahnya.
"Maafin Bapak ya, kamu pasti tidak nyaman?" ucap Nora merasa bersalah.
"Nggak apa apa, santai aja kali. " jawab Denis dengan santai.
"Lalu, apa maksud kamu memberi jawaban seperti itu kepada Bapak?" tanya Nora penasaran.
"Ya, karena aku ngomong sejujurnya aja." lagi lagi Denis menjawab dengan santai.
"Ngomong sejujurnya, berarti kamu? " Nora mencoba menerka apa yang di rasakan Denis padanya.
"Berarti aku apa hayo tebak? " tanya Denis seraya mencubit hidung Nora hingga membuatnya tersipu malu.
__ADS_1
"Udah aku pamit pulang dulu ya, besok mau nggak aku ajak jalan jalan?" tanya Denis sebelum masuk ke mobilnya.
Tanpa banyak bersuara, Nora hanya mengangguk dengan semangat serta di iringi dengan senyum yang merona. Usai membuat Nora melambung tinggi, Denis bersiap untuk melajukan roda empat nya.