ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Hilang Konsentrasi


__ADS_3

Sonia semakin menekuk nekuk wajahnya karena kesal, polesan make up cantik yang sudah dia persiapkan kini pudar begitu saja karena dia habis mandi kedua kali. Di tambah lagi dia harus mengenakan underwear kegedean serta kostum yang sangat tidak dia sukai.


"Ayo buruan!" sekali lagi Bu Novi membentak Sonia dengan tegas.


"Iya Bu." jawab Sonia dengan kesal.


Setelah terjebak pada pilihan yang sama sama tidak menarik, Sonia akhirnya hanya bisa menuruti perintah Bu Novi. Dan lima menit kemudian, dia sudah mengenakan kostum yang sangat jelek di mata Sonia. Apalagi wajahnya sangat kusut tanpa make up. Sonia mencela dirinya sendiri ketika berada di depan cermin.


"Tiga menit lagi kamu harus naik panggung Sonia, cepat rapikan rambut kamu lalu gunakan bedak dan lipstik seadanya agar wajah kamu tidak kusam!" Lagi lagi Sonia di buat semakin kesal dengan perintah Bu Novi.


Dan benar saja, waktu tiga menit yang dia punya tentu sangat tidak mampu merubah penampilannya secara maksimal. Dia benar benar akan merasa malu ketika berada di atas panggung dengan penampilan seperti itu.


"Lebih baik saya mundur aja Bu. Penampilan saya sangat jelek." pinta Sonia kepada Bu Novi.

__ADS_1


"Apa? Apa kamu mau mempermalukan sekolah kita jika mundur tiba tiba?" tanya Bu Novi dengan penuh emosi.


Karena kembali berada pada pilihan yang tidak banyak, Sonia kemudian terpaksa tampil dengan penampilan yang sangat minim baginya hingga hak tersebut mengundang tawa teman temannya.


"Kurang a-jar! Mereka semua menertawakan aku. Lihat saja nanti!" geram Sonia dalam hati.


Dengan penuh kekesalan dia tetap menjalankan perannya, tetapi penampilannya kali itu benar benar membuat konsentrasinya hilang sehingga dia sering melakukan kesalahan membaca skenario.


"Sonia, ucapan kamu salah." lirih Tina yang kala itu berdiri di belakang Sonia. Dan belum sempat Sonia memperbaiki dialognya, penonton sudah lebih dulu menyoraki dan menertawakan Sonia.


Nora yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat bersalah dan kasihan, tetapi dia tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong Sonia.


Sonia turun dari panggung dengan suasana hati yang berantakan dan segera melepas kostum itu agar terlepas dari bebannya seraya mulut yang terus mengumpat tidak karuan melampiaskan emosinya.

__ADS_1


Dan ketika dia hendak segera meninggalkan area pentas itu, Bu Novi kembali memanggilnya.


"Sonia dan Tina, urusan kita belum selesai. Setelah ganti kostum, kalian temui saya di ruang guru!" titah Bu Novi sepertinya tidak digubris oleh Sonia.


"Kamu aja yang temui wanita itu di sana, aku mau pulang!" ucap Sonia sembari meninggalkan ruangan tersebut.


"Tapi Son, Sonia.. Tunggu Son!" teriak Tina berulang ulang tetapi tidak di gubris oleh Sonia.


Tina pun akhirnya benar benar menemui Bu Novi sendirian. Hatinya begitu deg degan dengan hukuman apa yang akan dia dapat dari wali kelasnya.


"Mampuss kalian, biar tau rasa! Semoga aja mereka di keluarin sekalian dari sekolah ini biar nggak resek!" cecar Olla sembari tersenyum sinis melihat Tina masuk ke ruangan guru.


"Nggak boleh gitu Olla, kan kasihan. Sonia pasti merasa sangat malu dan gatal di tubuhnya." tutur Nora dengan wajah yang lesu.

__ADS_1


"Astaga Nora, ngapain kamu mikirin mereka? Emang kalau tadi kamu yang gatal dan yang malu, Sonia dan Tina bakal mikirin kamu apa? Yang ada mereka akan tertawa puas melihat penderitaan kamu, jadi kamu itu nggak perlu repot repot menaruh rasa kasihan sama mereka!" Ungkap Olla dengan keras berharap Nora bisa membuka mata dan tidak menjadi lemah.


__ADS_2