
Papa Sonia merasa sangat malu pada Bu Novi, dan dia segera meminta maaf, bahkan memberikan wewenang penuh pada Bu Novi untuk menghukum Sonia.
"Saya minta maaf Bu, karena saya tidak tahu awal perkaranya seperti apa. Sekarang semua terserah pada Ibu mau di beri hukuman apa pada Sonia agar dia jera." tukas Papa Sonia dan langsung di protes oleh putrinya.
"Papa, kenapa malah bicara seperti itu?" tanya Sonia merasa tidak terima.
"Itu yang terbaik untuk kamu agar kamu bisa menjadi lebih baik." Jawab Papa Sonia lalu segera pergi meninggalkan ruangan guru tersebut.
"Papa, tunggu Papa." panggil Sonia dengan sedikit mengejarnya tetapi tidak di gubris oleh Papanya.
"Sonia, sini kamu!" kini ganti Bu Novi yang memanggilnya lalu Sonia mendekat dengan langkah gontai.
"Kamu tahu kan dimana kelas baru kamu? Tina pasti sudah memberitahu kamu. Sekarang cepat pergi ke sana dan jangan buat ulah lagi!" titah Bu Novi dengan begitu tegas.
Tanpa menjawab dan dengan memasang wajah yang sangat kesal, Sonia berlalu begitu saja dari hadapan Bu Novi hingga membuat guru itu geleng kepala.
"Dasar anak itu! Semoga saja setelah menerima hukuman ini dia akan berubah lebih baik." harapan Bu Novi pada Sonia.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, bel sekolah berbunyi tanda pelajaran akan di mulai. Semua siswa masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran. Nampak bangku milik Sonia dan Tina terlihat kosong. Dan hal itu membuat Nora bertanya pada Olla.
"Kemana mereka Olla? Jangan jangan Sonia sakit gara gara bubuk gatal kemaren?"
"Udah, biarin aja. Mungkin aja doaku di kabulkan sama Tuhan kalau mereka berdua di keluarkan sekalian dari sekolah ini." jawab Olla dengan santai.
"Dih Olla, ngomongnya selalu begitu? Kasihan tau!" sahut Nora dengan cemberut sambil terus memandangi bangku Sonia dan juga Tina.
Percakapan mereka berhenti ketika terdengar Bu Novi telah memasuki kelas mereka.
"Selamat pagi anak anak. Keluarkan buku tugas kalian masing masing." titah Bu Novi ketika menduduki kursi kebesarannya.
"Tidak. Ibu tidak bertanya karena Ibu sudah tahu mereka ada dimana." jawab Bu Novi sembari membuka buku yang ada di tangannya.
"Tuh kan Nora,benar dugaanku. Bu Novi sengaja membuang mereka." sahut Olla dengan senyum bahagia.
"Kasihan Olla, semua itu gara gara kita." lirih Nora dengan wajah yang sedih.
__ADS_1
"Duuh, kasihan kasihan terus kamu ini? Itu bukan gara gara kita, itu gara gara mereka sendiri yang suka usil. Bagus aja kita balas cuma sekali doang, padahal dia kan usilnya sering." jawab Olla dengan suara yang pelan tetapi penuh kekesalan.
Hingga waktu istirahat tiba, Nora masih saja gelisah memikirkan kepergian Sonia dan juga Tina. Demi menghilangkan rasa gelisah nya, dia beranikan diri untuk bertanya langsung kepada Bu Novi.
Dengan sedikit ragu Nora melangkah ke arah ruang guru untuk menemui Bu Novi, dan setelah bertemu, Nora lekas menyampaikan pertanyaannya.
"Maaf Bu, ada yang ingin saya tanyakan." ucap Nora.
"Iya Nora, mau bertanya apa?" tanya Bu Novi.
"Saya mau tanya, kemana perginya Sonia dan Tina?" Nora balik bertanya.
"Oh mereka? Mereka sedang ibu hukum." jawab Bu Novi setengah setengah dan membuat Nora tidak merasa puas mendengar jawaban itu.
"Di hukum Bu? Kemana?" tanya Nora lagi.
"Dia ibu hukum untuk belajar di kelas lain." jawab Bu Novi dengan jelas. Tentu saja Nora terkejut mendengarnya, dan dia masih menyimpan pertanyaan lagi untuk Bu Novi.
__ADS_1
"Di kelas lain Bu? Kenapa begitu? Kasihan mereka Bu, pasti mereka tidak nyaman." jawab Nora dengan penuh simpati.
"Kamu itu memang anak baik Nora, meski mereka sudah sering menjahati kamu, tetapi kamu masih menaruh rasa simpati pada mereka. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, biar saja mereka merasa tidak nyaman karena itu untuk pembelajaran bagi mereka.Sekarang tugas kamu adalah mendoakan mereka agar bisa berubah menjadi anak yang baik seperti kamu." tutur Bu Novi kepada Nora.