ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Tidak Percaya Diri


__ADS_3

Usai menentukan siapa pemerannya, mereka mulai melakukan latihan sejak hari itu hingga empat minggu kemudian.


"Akhirnya kita bisa jadi satu pasang kekasih," bisik Denis di telinga Nora hingga membuat gadis itu tersipu malu dengan pipi memerah.Namun, setelah beberapa detik wajah Nora berubah jadi lesu.


"Tapi sepertinya Sonia nggak suka, " ucap Nora dengan nada lemah.


"Udah, jangan di pikirin. Dia tuh emang cocoknya jadi Bawang Merah atau jadi mak lampir aja sekalian." celetuk Denis dengan asal.


"Nggak boleh gitu Denis, sebenarnya Sonia benar. Dia kan memang lebih cantik, kenapa nggak di jadikan peran utama?" Nora merasa tidak percaya diri.


"Siapa bilang kamu tidak lebih cantik dari pada dia? Kamu memang pantas menjadi Bawang Putih, apalagi di sandingkan dengan Pangeran tampan kayak aku?" dengan percaya dirinya Denis memuji dirinya sendiri. Percakapan singkat mereka terhenti ketika Bu Novi memberi aba aba.


"Ayo anak anak, kita mulai latihannya!"


Semua siswa nampak ceria dalam latihan itu, kecuali Sonia yang masih menyimpan kekesalan di hatinya hingga membuat dia tidak fokus.


"Sonia, kamu harus fokus. Kamu pelajari lagi narasi dan dialognya agar kamu tau kapan giliran kamu bicara!" Sonia mendapat teguran dari Bu Novi karena banyak melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Aku istirahat dulu Bu!" jawab Sonia nampak begitu kesal.


Dia duduk kembali di bangkunya, lalu kedua sahabatnya datang mendekat.


"Ayolah Son, jangan kayak gitu. Gimana kamu bisa buat Bu Novi nyesel milih si kudet kalau kamu sendiri aktingnya nggak fokus? Yang ada Bu Novi bakal ganti peran kamu." Tina berusaha menasehati.


"Iya Son, Tina bener. Jangan tunjukkan emosi kamu, nanti malah berantakan." Angel pun ikut menimpali.


Sonia menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar, perlahan dia mulai mempertimbangkan saran dari dua sahabatnya hingga kemudian dia kembali pada formasi latihan.


Ketika waktu istirahat tiba, Sonia mendekati Nora untuk mengatakan sesuatu setelah dia lihat tidak ada Denis dan Olla di sebelahnya.


"Heh, jangan blagu ya mentang mentang Bu Novi milih kamu jadi pemeran utama! Lihat aja ntar,akan aku buat Bu Novi menyesal udah memilih kamu. Awas aja kalau berani ngadu ke yang lain kalau aku bilang seperti ini sama kamu, terutama ngadu sama Denis!" gertak Sonia pada Nora.


Nora yang begitu polos tentu saja tidak berani melawan, dia juga tidak berani mengadu. Yang ada dia malah kehilangan rasa percaya diri dan muncul rasa takut di hatinya untuk memainkan perannya.


Sejak saat itu, Nora selalu di buat kepikiran oleh ucapan Sonia, dan memang itu adalah tujuan Sonia karena dia tahu kelemahan Nora.

__ADS_1


"Kamu kenapa diam aja Nora? Apa kamu lagi sakit?" tanya Olla yang begitu melihat perubahan ekspresi Nora.


"Aku nggak saki Olla, aku baik baik aja kok." jawab Nora.


"Tapi kok ada yang aneh gitu? Atau jangan jangan kamu habis di apa apain ya sama Denis?" Pikiran buruk Olla selalu mengarah pada cowok usil itu.


"Enggak Olla, itu tidak benar. Aku nggak di apa apain kok sama Denis." sahut Nora yang langsung di sambar oleh Denis.


"Duh, lagi pada ngomongin aku ya? Emang gini amat nasib jadi orang cakep!" Denis kembali berbangga diri.


"Dih, Pede amat! Iya, kita lagi ngomongin situ, tapi nggak ngomongin cakepnya. Udah ngaku aja, kamu apain Nora kok jadi sedih gini?" tanya Olla tanpa basa basi.


"Siapa yang sedih? Aku nggak ngapa ngapain Nora kok!" Denis segera menyangkal.


"Iya Olla, Denis benar. Kan udah aku bilang Denis nggak ngapa ngapain aku." Nora segera membela Denis. Dia tidak mungkin jujur karena pada saat itu juga, Sonia menatap Nora dengan mata yang melotot tanpa sepengetahuan Olla dan Denis.


"Tuh kan, kamu dengar Nora bilang apa? Dasar ni monster suka bikin resek!" Denis merasa tidak terima, dan pada ujungnya dia malah beradu mulut dengan Olla hingga lupa pada pembahasan utama tentang Nora.

__ADS_1


__ADS_2