
Sejak baikan lagi dengan Nora, kini Denis lebih berhati hati agar tidak terjadi salah paham lagi di antara mereka. Tentunya agar Denis tidak perlu mendapat hukuman dari gurunya karena tidak mengerjakan tugas.
Suatu pagi, ketika Denis dan Nora tengah bercanda tawa di kursinya sebelum pelajaran di mulai, Karin mendadak menghampiri mereka.
"Pagi sayang," sapa Karin sembari memeluk Denis dari belakang dan tentu saja hal itu membuat Nora tidak nyaman mendengarnya.
"Pagi juga, jangan di peluk gini dong. Aku lagi..."
Denis berusaha menolak, tetapi dengan cepat Karin menyela.
"Lagi apa? Kamu nggak suka aku peluk?" tanya Karin dengan bibir mengerucut.
"Bu-bukan gitu. Ini aku lagi ngerjain tugas. Kalau nggak selesai, aku bakal kena hukuman bersihin toilet lagi. Kamu tega lihat aku di hukum lagi?" Denis mengeluarkan jurus silat lidahnya.
"Bener karena itu?" Karin sedikit ragu dengan jawaban Denis.
"Iya," jawab Denis sembari memberi kedipan mata kepada Nora yang mulai memasang wajah kesal.
"Ya udah, kalau gitu aku temenin di sini ya? Terus kenapa kamu duduknya menghadap ke belakang? Kenapa nggak menghadap ke depan?" Karin terus saja bertanya.
__ADS_1
"Nggak apa apa, karena aku nyon... eh maksudku..." ucapan Denis terpotong dan Olla pun lekas menyela.
"Nyontek, karena Denis nih lagi nyontek tugasnya Nora." ucap Olla kepada Karin.
"Nyontek? Nggak mungkin lah." Karin tidak percaya dengan omongan Olla.
"Nggak percaya terserah! Emang buktinya otaknya dia nol. Paling paling otak situ juga nol. Beda sama Nora nih, smart banget. Hobinya belajar, bukan pacaran kayak kalian!" cecar Olla kepada Karin dan Denis hingga membuat mereka ribut.
"Heh apaan sih? Ngomongnya kok gitu? Emang kenapa kalau aku sama Denis pacaran? Syirik aja! Bilang aja kamu itu nggak laku!" mendengar jawaban Karin, tentu saja Olla semakin emosi.
"Eh, makin berani aja nih anak!" teriak Olla sembari berdiri dari duduknya dengan mata melotot ke arah Karin.
"Dia tuh Yang, yang mulai duluan." jawab Karin sembari melipat kedua tangan di dada.
Lagi lagi Olla merasa tidak terima dengan ucapan Karin sehingga adu mulut itu terus saja terjadi hingga mengundang perhatian Sonia.
"Heh kamu? Anak mana kamu berani bikin keributan di kelas ini?" bentak Sonia kepada Karin.
Karin berusaha menjelaskan dengan baik baik karena jika dengan Sonia, Karin masih sedikit segan.
__ADS_1
"Udah kembali saja ke kelas kamu. Dan jangan kembali lagi ke kelas ini, karena sekarang Denis itu pacar aku!" seketika ucapan itu membuat semua mata melotot keheranan.
"Apa? Kamu pacaran juga sama Kak Sonia?" tanya Karin pada Denis.
"Ih enggak. Ngaco aja!" jawab Denis dengan cepat. Meski seketika nampak jawaban itu untuk meyakinkan Karin, tapi sebenarnya jawaban itu di tujukan untuk Nora.
"Udah lah Denis, sampai kapan kamu akan menyembunyikan semuanya? Kita kan emang ada hubungan spesial?" Entah karena apa, hari itu Sonia begitu berani bicara seperti itu.
"Kamu jahat Denis!" geram Karin sembari memukul lengan Denis lalu pergi berlari meninggalkannya. Senyum Denis seketika tersirat ketika melihat Karin pergi dari kelasnya, dan saat itu baru dia sadari apa tujuan Sonia mengaku sebagai pacarnya.
"Makasih Sonia, makasih banget ya. Berkat kamu, aku terlepas dari dia." ucap Denis sembari memegang kedua lengan Sonia.
"Sama sama, tapi ini semua nggak gratis!" sahut Sonia.
"Nggak gratis? Memangnya kamu mau minta imbalan apa?" tanya Denis dengan heran.
"Aku mau apa yang aku ucapkan tadi jadi beneran, bukan bohongan!" jawab Sonia dengan yakin. Dan setelah di pikir pikir, Denis baru saja memahami maksud imbalan Sonia.
"Kamu mau kita pacaran beneran? Ya nggak mungkin lah!" dengan cepat Denis memberi jawaban.
__ADS_1