ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy

ASRAMA ( Asmara Masa Remaja) Si Bad Boy
Pengakuan


__ADS_3

Bel kembali berbunyi dan tiba waktunya semua siswa kembali ke dalam kelas. Di sana nampak Nora yang masih terdiam lesu sedari pagi sehingga membuat Olla serta Denis berniat untuk menghiburnya.


"Hai cantik, napa lemes gitu? Udah kayak gorengan nggak laku aja mukanya?" celetuk Denis menggoda Nora, tapi justru mendapat teguran pedas dari Olla.


"Eh, ngaco! Masak muka Nora di samain ama gorengan? Tapi mending gorengan enak dari, dari pada muka situ kayak wajan dan mulutnya kayak kompor yang suka manas manasin orang." sahut Olla dengan kesal pada ucapan Denis.


"Baperan amat sih jadi orang? Nora aja nggak marah, iya kan Nora?" tanya Denis kepada Nora tetapi gadis itu hanya diam tak bercakap dan hal itu semakin mengundang perhatian Olla.


"Kamu itu kenapa sih Ra? Kamu sakit?" tanya Olla dan Nora menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Terus kenapa dong?" Olla masih saja mencari jawaban dari Nora.


"Aku kasihan sama Sonia dan Tina." jawab Nora dengan singkat.


"Astaga, masih saja mikirin mereka. Mereka itu pantas dapat hukuman itu Nora..." Olla menegaskan kepada Nora tentang pendapatnya.


"Iya bener tuh kata si Olla, dari pada kamu mikirin mereka, mending kamu mikirin aku yang ganteng ini." sahut Denis dengan percaya diri.

__ADS_1


"Dih, PEDE banget! Siapa yang bilang situ ganteng? Eh, tapi ngomong ngomong tumben kamu tadi bener nyebut namaku ?" tanya Olla kepada Denis.


"Astaga, aku khilaf. Harusnya kan namanya monster...ha..ha..ha.." Denis kembali berulah dan hal itu membuat Nora menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum, tapi hal itu juga berhasil membuat Olla menggetok kepala Denis.


"Nah kan, kalau senyum kan cantik..." puji Denis menggoda Nora.


Suara sapaan seorang guru yang tengah masuk kedalam kelas membubarkan kerumunan mereka. Pelajaran pada hari itu pun di mulai.


Setelah waktu istirahat tiba, Sonia mendatangi Nora di kantin yang tengah duduk sendirian untuk meluapkan emosi atas hukuman yang dia terima.


"Ampun Sonia, tolong lepaskan. Sakit....." pinta Nora.


"Sakit? Kamu kira aku juga enak dapat hukuman kayak gini gara gara kamu.Dari kemaren aku selalu dapat sial gara gara ada kamu. Aku tidak akan melepas kamu bahkan sampai semua rambut kamu lepas dari kepala kamu!" Sonia justru semakin keras menarik rambut Nora.


"Aduuuuh, sakiiiit..... Lepasin!" mendadak Sonia berteriak ketika dia rasa ada yang sedang menarik rambutnya.


"Sakit? Kamu bilang sakit? Kalau gitu lepasin dulu rambut Nora, baru aku lepasin rambut kamu!" bentak Denis kepada Sonia. Dan rupanya tangan Denis lah yang tengah menarik rambut Sonia dari belakang.

__ADS_1


Dengan begitu kesal Sonia menghempas rambut Nora dengan begitu kesal. Lalu, beberapa detik kemudian Denis juga melepas rambut Sonia dengan kasar.


"Apa apaan sih kamu? Kasar banget sama cewek? Lagian ngapain sih kamu itu belain dia terus? Kamu suka sama dia? Katarak emang mata kamu!" cecar Sonia kepada Denis dengan mata melotot.


"Kalau iya emang kenapa? Bukan hanya suka, bahkan aku sama Nora sudah jadian dan kami pacaran." Sontak jawaban Denia membuat semua terkejut. Termasuk juga Nora.


"Apa? Kamu pacaran sama dia? Aku sama sekali tidak percaya. Kalaupun benar kalian pacaran, pasti kamu hanya manfaatin nih cewek buat nyari contekan! Ha..ha...ha..." Sonia justru menertawakan hubungan mereka.


"Sudahlah Nora, jangan dengerin dia. Ayo kita pergi!" ucap Denis seraya menarik tangan Nora lalu mengajaknya pergi dari kantin itu.


"Denis," panggil Nora ketika Denis menggandeng tangannya.


"Kenapa kamu mengatakan semuanya?" tanya Nora.


"Karena sudah waktunya aku mengakui semuanya." jawab Denis sambil tetap melangkah tanpa melepas genggaman tangannya pada Nora.


Nora tidak bisa berkata kata lagi, dalam hatinya merasa begitu terharu mendengar pengakuan Denis. Bukan hanya itu, dengan pengakuan yang di lakukan oleh Denis itu berarti dia sudah siap menerima resiko jika dia akan di buly temannya karena memiliki kekasih yang culun dan tidak modis.

__ADS_1


__ADS_2