
Keluarga Raihan tidak mempermasalahkan berapa besar biaya yang mereka keluarkan demi kesembuhan salah dua anggotanya, Raihan dan Asyifa mendapatkan penanganan yang benar benar baik, dengan alat alat yang canggih dan obat obat yang bagus, Raihan tidak memerlukan banyak waktu untuk kembali seperti sediakala, begitupula dengan Asyifa.
Ini sudah terhitung hari ke 6 Raihan menginjakkan kaki di rumah setelah kembali dari rumah sakit, hari ini juga Raihan sudah mulai mengemban tugas tugas kantornya.
Pagi hingga siang Raihan disibukkan dengan meeting dengan beberapa klien yang kemarin sempat tertunda, meeting terakhir di tutup dengan makan siang bersama kebetulan mereka sedang meeting di sebuah restoran.
Sebelum kembali ke kantor Raihan singgah ke rumah terlebih dahulu untuk meminum jatah obatnya siang ini, dengan sang sekertaris yang setia menemani sang atasan.
Setelah bermacet macet ria akhirnya mobil yang di tumpangi Raihan memasuki pelataran rumahnya, rumah yang cukup besar tetapi hanya di tempati 2 orang saja.
Raihan berjalan memasuki rumah sedangkan Wildan sekertarisnya menunggu di mobil, mata Raihan langsung tertuju pada gadis yang tampak tertidur pulas di sofa, tanpa sadar bibir pria itu tertarik membentak lengkungan tipis, setelah sadar dengan apa yang ia lakukan Raihan langsung melanjutkan langkah yang tertunda menuju dapur tetapi langkahnya kembali terhenti melihat jas berwarna abu abu bertengger di kursi makan, beralih ke meja makan yang terdapat jam, dasi dan ikat pinggang.
Barang barang pria? Ia merasa tidak memiliki barang itu, sedetik kemudian amarah Raihan memuncak, tanpa berfikir panjang ia menghampiri gadis di sofa itu.
Tanpa bisa di kontrol tangannya langsung menarik jilbab dan mengikut sertakan rambut rambut yang berada di balik jilbab itu.
Asyifa tertarik hingga berdiri, ngga kebayang seberapa kuat tarikan itu, yang awalnya rebahan sampai berdiri.
"Apa maksudnya ini?" Wajah Raihan memerah menahan amarah.
"Kenapa lo lakuin pekerjaan lo yang hina itu di rumah gw?" Mata Raihan menatap tajam ke arah Asyifa yang tengah merintih.
"Kenapa lo lakuin di rumah gw HAH?"
"JAWAB! MENDADAK BISU LO?" Bentak Raihan tepat di depan wajah Asyifa yang mendongak ke atas.
__ADS_1
"Masss.. sa_sakit masss..." rintih Syifa.
PLAKK
Satu tamparan lolos.
"Allahuakbar.."
"MURAHAN"
PLAKK
"Allahuakbar.."
PLAKK
"Allahuakbar.." Asyifa terjatuh di lantai.
"KENAPA LO LAKUIN DI RUMAH GW... lo pikir ini tempat buat lo maksiat hah, JAWAB!." tangan Raihan menjepit kedua pipi Asyifa membawanya kembali berdiri.
"Ngga malu sama cadar lo? Sok suci ternyata tak lebih dari kupu kupu malam, copot nih copot ngga guna cuma buat nutupi kedok ****** lo."
"NGOMONG!."
"Ampu_n m_masss..."
__ADS_1
"SAKIT? HAH! SAKIT?" Raihan melepaskan cengkeramannya membuat Asyifa terjungkal ke belakang hingga menyenggol vas kesayangan Raihan hingga pecah.
Kalimat kalimat istighfar selalu Asyifa lafalkan, ia memilih bungkam karena tidak ada gunanya ia bersuara dan ia juga tidak mengerti maksud perkataan suaminya itu.
"Apa yang lo lakui... " tangan Raihan kembali menarik jilbab Asyifa.
"Vas g_" ucapan Raihan terhenti karena melihat wajah istrinya yang tidak tertutup cadar, cadar Asyifa terlepas begitu saja.
Ini adalah kali pertama ia melihat wajah Asyifa langsung, karena sebelum mereka menikah Raihan menolak melihat wajah itu dengan berbagai macam alasan alhasil hanya bunda yang melihat.
Raihan juga melihat darah segar keluar dari hidung dan sudut bibir Asyifa sedetik kemudian Asyifa tak sadarkan diri.
Wildan yang mendengar keributan dari dalam rumah bosnya langsung menghampiri.
"astaghfirullahaladzim... maaf pak saya lancang, dari luar saya mendengar keributan makanya saya langsung masuk."
"Antar dia ke rumah sakit saya ada urusan penting." Raihan membopong tubuh Asyifa menuju mobil sedangkan Wildan hanya mengikuti kata bosnya dengan bingung, kenapa dia sendiri? Kenapa bukan bosnya yang notabenenya Suami? Ada apa ini ?
"Tapi pak_"
"Turuti perkataan saya!." Ucap Raihan tegas.
"Baik bos." Dengan cepat Wildan memasuki mobil yang sudah ada istri bosnya di kursi tengah.
"Kenapa kau lakukan ini ketika saya mau memperbaiki semuanya..." Ucap Raihan pelan melihat mobil yang membawa Asyifa mulai menjauh.
__ADS_1