Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadi lladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawaaiju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khotima wa yustaqol ghomawu biwajhihil kariim wa ‘ala aalihi washohbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’lu mi laka ya robbal ‘aalamiin.


Terdengar lantunan merdu shalawat Nariyah mengalun syahdu, menggelayuti hati siapa saja yang mendengarnya, salah satunya wanita paruh baya yang nampak asik memotong rumput dengan bersenandung mengikuti lantunan shalawat yang bersumber dari DVD disudut rumah.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... Eh kalian." Wanita itu segera mencuci tangannya.


"Bun." Raihan mencium punggung tangan bundanya diikuti oleh Asyifa.


"Bunda kok nggak dengan suara kalian masuk?"


"Padahal Raihan udah salam loh bun terus ketemu bibi didepan katanya bunda di belakang jadi Raihan langsung kesini."


"Hehehe... Nggak dengar Han." Bunda terkekeh pelan.


"Ya udah Raihan langsung ke kantor ya bun, titip Syifa kalau nangis dikasih coklat kalau masih nangis langsung telpon Raihan ya Bun kangen ketek suaminya mungkin." Pamit Raihan sambil menggoda istrinya.


"Mas isss..." Syifa memukul lengan suaminya pelan malah terkesan pukulan manja hehehe, kan malu ketahuan ibu mertuanya kalau dia suka sama ketiak suaminya.


"Kamu itu suka banget godain menantu bunda jadi malu kan."


"Hehehe ya udah bun Raihan pamit." Raihan kembali menyalami tangan bunda.


"Mas kerja dulu ya, jangan capek capek nanti jam 4 sore mas pulang." Raihan menyodorkan tangannya dihadapan sang istri.


"Fii amanillah mas." Asyifa mencium punggung tangan Raihan.

__ADS_1


"Mas berangkat, Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Raihan melangkah pergi setelah mencium puncak kepala istrinya, bunda tersenyum melihat keromantisan anak dan menantunya, semoga mereka langgeng tanpa ada drama drama lagi ditengah tengah keluarga kecil anaknya itu.


"Bunda baru ngapain?" Tanya Syifa basa basi.


"Ngerapiin tanaman tapi udah selesai kok, yuk masuk kebetulan bunda habis buat kue kering." Ajak bunda.


Mereka masuk kedalam rumah menuju meja makan, di atas meja terdapat 4 toples kue kering hasil karya bunda dibantu bibi.


"Sepi ya bun, kayak di rumah kalo nggak ada mas Raihan juga sepi." Syifa menatap sekeliling.


"Mending disini lah nak kalau nggak ada ayah masih ada bibi yang nemenin, kalau dirumah mu kan cuma Syifa sendiri, tapi kalau udah ada bayi juga rame kok." Bunda meraih satu toples kue dan membukanya.


"Selalu sayang, cobain deh ini nih kesukaan ayah, kalau Raihan sukanya kue yang goreng gitu kayak donat, pisang goreng suka dia." Bunda menyodorkan toples.


"Iya bun kemarin Syifa buat kue kering Syifa habisin sendiri, waktu bikin donat sekali habis sama mas Raihan, maksudnya Syifa bikin kue kering kan biar awet gitu eh emang awet beneran nggak kemakan." Syifa mengambil satu kue kering.


"Maka dari itu bunda sekali buat banyak biar awet tapi kalau sekali tau ayah juga nggak bakal awet."


"Hehehe... Bismillahirrahmanirrahim..." Syifa memakan kue itu.


"Emmm enak bun, kalau Syifa buat kok nggak bisa renyah gini ya bun." Syifa memperhatikan tekstur kue ditangannya.


"Bunda panggang kuenya lebih lama terus suhunya dibuat lebih rendah, kalau begitu kan kuenya mengembang sempurna sebelum akhirnya mengeras." Jelas bunda.

__ADS_1


"Ouhhh gitu ya bun, Syifa kalo buat ikut resep jadi sesuai tulisannya nggak tau ngembang tahap apa, besok deh Syifa coba." Syifa manggut manggut.


"Gimana keadaan kamu? Sehat kan apa ada yang sakit?" Tanya bunda khawatir.


"Alhamdulillah bun Syifa sehat, Emm Syifa minta maaf ya bun jadi ngerepotin bunda sama bibi, Syifa jadi nggak enak." Syifa menatap bunda tidak enak.


"Nggak papa nak, bunda sekalian olahraga, lagian cuma bersihin debu debu kok nggak angkat junjung, yang lebih penting itu kesehatan kamu, bunda nggak akan tenang kalau kamu kenapa napa, Syifa udah banyak berkorban demi keluarga apalagi anak bunda jadi kecil kalo cuma bersih bersih." Bunda tersenyum lembut kearah menantunya.


"Terimakasih bunda, bunda udah baik banget sama Syifa." Syifa mengambil tangan mertuanya dan menciumnya.


"Apapun untuk menantu bunda tercinta ini." Bunda memeluk Syifa.


"Udah ah kok jadi mellow gini sih."


"Syifa orangnya baperan bun hehehe..." perempuan itu terkekeh geli.


"Namanya juga perempuan nak apa apa pakaiannya hati, bunda juga gitu kok." Menantu dan mertua itu saling melempar senyuman.


"Ah iya, Syifa bawa rendang bun, sebentar ya bun Syifa ambil dulu di ruang tamu." Syifa segera bangkit melangkah menuju ruang tamu.


"Ayah seneng ini orang pas bunda pulang dari rumahmu itu yang ditanyain bawa rendang enggak, kangen rendang buatannya menantu kata beliau." Ucap bunda saat melihat Syifa datang menenteng paper bag.


"Hehehe... ini juga mas Raihan bun yang minta tadi pagi."


"Raihan kayaknya manja banget ya sama kamu."


"Enggak kok bun, malah Syifa yang sering manja sama mas Raihan."

__ADS_1


__ADS_2